Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Akademik
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Krisis Peradaban Modern dan Jalan Pulang Menuju Ketenteraman Ilahi.

    Apr 18 202633 Dilihat

    Krisis Peradaban Modern dan Jalan Pulang Menuju Ketenteraman Ilahi

    (Sebuah Refleksi Dakwah Ideologis-Sufistik)

     

    Di tengah gemerlap dunia modern, manusia tampak semakin maju—namun sekaligus semakin gelisah. Kota-kota menjulang tinggi, teknologi melesat tanpa batas, informasi mengalir deras dalam hitungan detik. Akan tetapi, di balik semua itu, ada kehampaan yang diam-diam menggerogoti jiwa manusia.

    Inilah paradoks peradaban hari ini.

    Peradaban yang dibangun di atas asas pemisahan agama dari kehidupan telah melahirkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara spiritual. Ia mampu menaklukkan alam, namun gagal menaklukkan dirinya sendiri. Ia menguasai dunia, tetapi kehilangan makna hidup.

    Manusia yang Kehilangan Arah

    Sejak munculnya gelombang pemikiran yang dikenal sebagai Zaman Pencerahan, manusia Barat mulai membangun kehidupan tanpa menjadikan wahyu sebagai fondasi utama. Akal ditempatkan sebagai hakim tertinggi, sementara agama dipinggirkan sebagai urusan privat.

    Dari sinilah lahir sekularisme, yang secara perlahan menggeser Tuhan dari pusat kehidupan manusia.

    Akibatnya, manusia modern hidup dalam ilusi kebebasan. Ia merasa merdeka dari aturan Ilahi, padahal sejatinya ia terbelenggu oleh hawa nafsu dan ambisi duniawi. Hubungan antar manusia tidak lagi dibangun atas dasar iman dan kasih sayang, tetapi atas asas manfaat dan kepentingan.

    Jika engkau menguntungkan, engkau dihargai.
    Jika tidak, engkau dilupakan.

    Bukankah ini sebuah bentuk kesepian yang paling dalam?

    Ketika Materi Menjadi Tuhan Baru

    Dalam peradaban yang memuja materi, kesuksesan diukur dengan harta, jabatan, dan popularitas. Manusia berlomba mengumpulkan dunia, seakan hidup hanya berakhir di sini.

    Padahal Allah telah mengingatkan:

    ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞ وَزِينَةٞ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٞ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّٗا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمٗاۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٞ شَدِيدٞ وَمَغۡفِرَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ

    “ Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”  (QS. Al-Hadid: 20)

    Tafsir dan Hikmah Ayat

    1. Hakikat Dunia: Lima Sifat Utama

    Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa ayat ini menggambarkan tahapan kehidupan manusia:

    • لَعِبٌ (la‘ib) → permainan (masa kecil)
    • لَهْوٌ (lahw) → kesenangan melalaikan (masa remaja)
    • زِينَةٌ (zīnah) → perhiasan (masa dewasa)
    • تَفَاخُرٌ (tafākhur) → saling membanggakan (status sosial)
    • تَكَاثُرٌ (takāthur) → berlomba dalam harta & anak

     Artinya: dunia itu berubah-ubah, tidak tetap, dan penuh distraksi.

    Referensi:[Tafsir Jalalain, Surat Al-Hadid, Ayat 20]

    2.Perumpamaan Dunia: Seperti Tanaman

    Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan:

    • Dunia seperti hujan yang menumbuhkan tanaman
    • Awalnya indah dan menakjubkan
    • Lalu:
      • Layu
      • Menguning
      • Hancur

    Ini menggambarkan:

    • Keindahan dunia itu sementara
    • Semua akan fana (hilang)

    Referensi:[Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Surat Al-Hadid: 20]

    3.Dua Akhir Kehidupan

    Ayat ini menegaskan hanya ada dua hasil di akhirat:

    • عَذَابٌ شَدِيدٌ → azab keras (bagi yang lalai)
    • مَغْفِرَةٌ وَرِضْوَانٌ → ampunan & ridha Allah (bagi yang beriman)

    Ini menunjukkan:

    • Dunia = tempat ujian
    • Akhirat = tempat hasil

    4. Dunia adalah “Matā‘ul Ghurūr” (Kesenangan yang Menipu)

    Makna:

    • Matā‘ → kenikmatan sementara
    • Ghurūr → tipuan / sesuatu yang membuat lalai

    Artinya:
    Dunia bukan haram, tapi berbahaya jika membuat lupa akhirat.

     

    5.Hikmah yang Bisa Diambil

    a. Dunia tidak layak jadi tujuan utama

    Karena sifatnya:

    • cepat berubah
    • tidak kekal

    b. Jangan tertipu dengan kemewahan

    Karena:

    • semua akan hancur seperti tanaman

    c. Fokus pada akhirat

    Karena:

    • hanya dua hasil: selamat atau celaka

     

    6. Penguat dari Hadits Nabi ﷺ

    Hadits:

    كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

    Latin:

    Kun fid-dunyā ka-annaka gharībun aw ‘ābiru sabīl

    “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.”

    Referensi: HR. Bukhari (Hadits Shahih)

    Makna: Jangan terlalu melekat pada dunia.

    Ayat ini mengajarkan:

    • Dunia hanyalah fase sementara dan penuh tipu daya
    • Jangan terpedaya oleh:
      • harta
      • anak
      • status
    • Fokus utama:
      mencari ridha Allah dan keselamatan akhirat

    Ketika dunia dijadikan tujuan, maka hati akan selalu merasa kurang.
    Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula kegelisahan yang dirasakan.

    Inilah yang diisyaratkan oleh para ulama, seperti Imam Al-Ghazali, bahwa penyakit terbesar manusia bukanlah kemiskinan materi, tetapi kekosongan hati dari makrifatullah.

    Hati yang kosong dari Allah akan selalu mencari pengganti—dan dunia tidak pernah cukup untuk mengisinya.

    Krisis Makna dan Kehampaan Jiwa

    Hari ini, dunia menyaksikan meningkatnya depresi, kecemasan, dan kehilangan arah hidup. Manusia memiliki segalanya—tetapi tidak tahu untuk apa ia hidup.

    Seorang tokoh Barat sendiri, Viktor Frankl, mengakui bahwa krisis terbesar manusia modern adalah hilangnya makna hidup. Ia menemukan bahwa manusia dapat bertahan dalam penderitaan apa pun, selama ia memiliki makna. Namun tanpa makna, hidup menjadi beban yang tak tertanggungkan.

    Islam telah menjawab ini sejak awal:

    “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

    Inilah identitas sejati manusia.
    Bukan sekadar makhluk ekonomi.
    Bukan sekadar konsumen dunia.
    Tetapi hamba Allah.

    Jalan Pulang: Dari Dunia Menuju Allah

    Wahai jiwa yang letih…

    Engkau tidak akan menemukan ketenangan dalam dunia yang fana ini.
    Karena engkau diciptakan bukan untuk dunia, tetapi untuk Allah.

    Allah berfirman:

    “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

    Ketenangan bukanlah hasil dari banyaknya harta.
    Bukan pula dari luasnya kekuasaan.
    Tetapi dari dekatnya hati kepada Allah.

    Para ahli tasawuf mengajarkan bahwa perjalanan hidup ini adalah perjalanan pulang—safar ilallah. Dunia hanyalah persinggahan, bukan tujuan.

    Maka siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan, ia akan tersesat.
    Dan siapa yang menjadikan Allah sebagai tujuan, ia akan menemukan segalanya.

    Membangun Peradaban Hati

    Islam tidak menolak kemajuan. Islam tidak memusuhi ilmu pengetahuan. Namun Islam menolak peradaban yang kehilangan ruhnya.

    Peradaban sejati adalah peradaban yang:

    • menjadikan tauhid sebagai fondasi,
    • menyeimbangkan antara dunia dan akhirat,
    • menghidupkan akal tanpa mematikan hati,
    • dan mengarahkan manusia menuju Allah, bukan menjauh dari-Nya.

    Generasi terbaik umat ini—para salafush shalih—telah membuktikan bahwa kejayaan sejati lahir dari hati yang hidup. Mereka menaklukkan dunia bukan karena cinta dunia, tetapi karena zuhud terhadapnya.

    Seruan untuk Kembali

    Wahai manusia…

    Sudah saatnya engkau berhenti mengejar bayangan.
    Sudah saatnya engkau kembali kepada hakikat kehidupan.

    Kembalilah kepada Allah sebelum engkau benar-benar kembali kepada-Nya.

    Bersihkan hatimu dengan taubat.
    Hidupkan jiwamu dengan dzikir.
    Terangi akalmu dengan ilmu.
    Dan luruskan langkahmu dengan iman.

    Karena pada akhirnya, semua yang engkau cari di dunia ini—ketenangan, kebahagiaan, cinta—tidak akan engkau temukan kecuali dalam satu hal:

    Kedekatan dengan Allah.

    Penutup: Cahaya di Tengah Kegelapan

    Peradaban boleh berubah.
    Zaman boleh berganti.
    Namun fitrah manusia tidak pernah berubah.

    Ia selalu merindukan Tuhan.
    Ia selalu mencari cahaya.

    Dan cahaya itu tidak lain adalah petunjuk Allah.

    Maka berbahagialah mereka yang menemukan jalan pulang,
    sebelum terlambat.

    “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai…” (QS. Al-Fajr: 27–28)

    Semoga kita termasuk di dalamnya.
    Aamiin.

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Istiqomahkan Diri, Raih Kebahagiaan Haki...

    by Apr 22 2026

    ISTIQOMAHKAN DIRI, RAIH KEBAHAGIAAN HAKIKI. Dalam perjalanan hidup yang penuh liku, manusia sering k...

    Stres Tidak Selalu Musuh : Jalan Sunyi M...

    by Apr 22 2026

    Stres Tidak Selalu Musuh: Jalan Sunyi Menuju Kekuatan Iman dan Kematangan Ruhani.   Pernyataan Cath...

    Al-Qur’an : Jalan Lurus yang Menye...

    by Apr 22 2026

    Al-Qur’an: Jalan Lurus yang Menyelamatkan Jiwa dan Peradaban Tadabbur QS. Al-Isra’ Ayat 9–10 &...

    Kartini dan Para Perempuan Pejuang : Mem...

    by Apr 21 2026

    Kartini dan Para Perempuan Pejuang: Membaca Sejarah dengan Hati yang Adil dan Nurani yang Jernih. Se...

    Sholat : Pelabuhan Jiwa di Tengah Badai ...

    by Apr 21 2026

    Shalat: Pelabuhan Jiwa di Tengah Badai Kehidupan. Dalam perjalanan hidup, manusia tidak akan lepas d...

    Integrasi Syariat, Tarekat, dan Hakikat ...

    by Apr 20 2026

    Integrasi Syariat, Tarekat, dan Hakikat: Jalan Utuh Menuju Kedewasaan Spiritual di Era Modern. Di te...

    • MOH ABDUL ROUF berkata:

      Sangat menarik dan tercerahkan…
      Mgi2 saget ngamalaken…
      matur swun sanget ilmunipun…

    • Imam Ma'ruf berkata:

      Artikel “Krisis Peradaban Modern dan Jalan Pulang Menuju Ketenteraman Ilahi” memberikan refleksi yang sangat mendalam dan relevan dengan kondisi kehidupan manusia saat ini. Penulis berhasil menggambarkan bagaimana kemajuan peradaban modern, yang ditandai dengan teknologi dan materialisme, justru seringkali membawa kegersangan batin dan kehilangan makna hidup.

      Salah satu kekuatan utama artikel ini adalah kemampuannya menghubungkan realitas krisis spiritual dengan kebutuhan manusia untuk kembali kepada nilai-nilai ilahiah. Gagasan “jalan pulang” yang diangkat terasa menyentuh dan memberikan harapan, bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia modern, manusia masih memiliki ruang untuk menemukan ketenteraman sejati melalui kedekatan dengan Tuhan.

      Bahasanya yang reflektif dan argumentatif membuat pembaca tidak hanya memahami, tetapi juga diajak untuk merenung dan mengevaluasi diri. Artikel ini sangat layak menjadi bahan renungan, khususnya bagi mereka yang sedang mencari keseimbangan antara kehidupan duniawi dan spiritual.

      Secara keseluruhan, ini adalah tulisan yang inspiratif, menggugah kesadaran, dan menawarkan solusi yang tidak sekadar teoritis, tetapi juga bernilai praktis dalam kehidupan sehari-hari.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top