Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Akademik
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Kartini dan Para Perempuan Pejuang : Membaca Sejarah dengan Hati yang adil dan Nurani yang Jernih.

    Apr 21 202617 Dilihat

    Kartini dan Para Perempuan Pejuang: Membaca Sejarah dengan Hati yang Adil dan Nurani yang Jernih.

    Sejarah tidak selalu berdiri di atas keheningan fakta. Ia sering dibangun oleh suara yang paling lantang, oleh pena yang paling berkuasa, dan oleh kepentingan yang paling kuat. Maka ketika kita bertanya, “Mengapa yang diperingati adalah Kartini?”, sesungguhnya kita sedang mengetuk pintu kesadaran: apakah kita telah memahami sejarah secara utuh, atau hanya menerima narasi yang diwariskan?

    Kartini: Simbol yang Diangkat, Bukan Satu-satunya yang Hebat

    Nama Raden Ajeng Kartini begitu harum dalam ingatan bangsa. Ia dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan, seorang wanita yang gelisah melihat ketidakadilan terhadap kaumnya.

    Namun, penting untuk dipahami:
    Kartini bukan satu-satunya perempuan hebat dalam sejarah Islam Nusantara. Ia adalah simbol yang diangkat, bukan satu-satunya yang berjuang.

    Kartini berjuang melalui:

    tulisan

    pemikiran

    kritik sosial terhadap adat dan feodalisme

    Ia tidak mengangkat senjata, tetapi mengangkat kesadaran.

    Dan dalam Islam, pena yang jujur bisa lebih tajam dari pedang.

    Perempuan Pejuang yang Terlupakan oleh Narasi Besar

    Di balik gemerlap nama Kartini, ada sosok-sosok agung yang terkadang tidak mendapatkan ruang yang sama dalam ingatan kolektif bangsa:

    1. Perempuan Pendidikan yang Nyata Aksinya

    Dewi Sartika
    Beliau tidak hanya berpikir, tetapi bertindak.
    Ia mendirikan sekolah perempuan di tanah Sunda saat kondisi masih sangat terbatas.

    Ia adalah bukti bahwa:

    > Ilmu bukan hanya untuk direnungkan, tapi untuk ditegakkan dalam amal.

    2. Perempuan Mujahidah di Medan Jihad

    Cut Nyak Dien
    Ia kehilangan suami, kehilangan harta, bahkan penglihatan—namun tidak kehilangan iman.

    Ia adalah gambaran nyata firman Allah:

    > “Di antara orang-orang beriman itu ada yang menepati janjinya kepada Allah…” (QS. Al-Ahzab: 23)

    3. Perempuan Muda yang Menggetarkan Sejarah

    Martha Christina Tiahahu
    Di usia belia, ia sudah mengangkat senjata melawan penjajah.

    Ia mengajarkan bahwa:

    > Keberanian tidak menunggu tua, dan pengorbanan tidak menunggu sempurna.

    Mengapa Kartini Lebih Dikenang? Sebuah Renungan Jujur

    Sejarah memilih Kartini bukan semata karena ia paling hebat, tetapi karena:

    1. Narasinya “mudah diterima”

    Kartini adalah simbol:

    intelektual

    halus

    tidak konfrontatif

    Ia cocok dijadikan ikon nasional yang “aman”.

    2. Warisan tulisan yang terdokumentasi

    Pemikirannya tertulis dan disebarkan, salah satunya melalui peran J.H. Abendanon.

    Tulisan membuat gagasan menjadi abadi.

    3. Kebutuhan simbol nasional

    Pada masa Sukarno, bangsa ini membutuhkan figur perempuan yang:

    menyatukan

    tidak memecah

    dapat diterima lintas budaya

    Kartini memenuhi kebutuhan itu.

    Islam Tidak Mengajarkan Kultus Tokoh, Tapi Keteladanan

    Dalam Islam, kita tidak diajarkan untuk mengkultuskan satu tokoh dan melupakan yang lain. Kita diajarkan untuk mengambil hikmah dari semua kebaikan.

    Lihatlah bagaimana Islam memuliakan perempuan:

    Khadijah binti Khuwailid sebagai pejuang ekonomi dan iman

    Aisyah binti Abu Bakar sebagai ulama dan periwayat ilmu

    Nusaibah binti Ka’ab sebagai mujahidah di medan perang

    Mereka berbeda peran, tetapi sama dalam kemuliaan.

    Pelajaran Besar untuk Umat Islam Hari Ini

    1. Jangan terjebak pada satu narasi

    Sejarah harus dibaca dengan:

    ilmu

    kejujuran

    keberanian berpikir

    2. Hargai semua bentuk perjuangan

    Pena Kartini adalah perjuangan

    Sekolah Dewi Sartika adalah perjuangan

    Pedang Cut Nyak Dien adalah perjuangan

    Darah Martha Tiahahu adalah perjuangan

    Semuanya bernilai di sisi Allah, jika diniatkan karena-Nya.

    3. Jadilah Kartini, sekaligus Dewi Sartika, sekaligus Cut Nyak Dien

    Artinya:

    berpikir tajam

    beramal nyata

    berani berkorban

    Itulah Islam yang utuh.

    Penutup: Menghidupkan Keadilan dalam Ingatan

    Hari Kartini bukan untuk membatasi penghormatan hanya pada satu nama.
    Tetapi seharusnya menjadi pintu untuk membuka kesadaran:

    > Bahwa sejarah perempuan Indonesia penuh dengan cahaya yang belum semuanya disinari.

    Maka tugas kita hari ini bukan memperdebatkan siapa yang paling layak, tetapi: melanjutkan perjuangan mereka semua dalam bentuk yang paling kita mampu.

    Karena pada akhirnya, yang akan ditanya bukan:

    > “Tokoh mana yang kamu puji?”

    Tetapi:

    > “Apa yang kamu lakukan untuk umat ini?”

    ( Dr. Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Ilmu, Amal dan Ahwal : Jalan Ruhani Menu...

    by Apr 25 2026

     Ilmu, Amal, dan Ahwal: Jalan Ruhani Menuju Kedekatan dengan Allah.   Dalam khazanah spiritual...

    Menjadi Pembelajar Sejati dan Juara Haki...

    by Apr 25 2026

    Menjadi Pembelajar Sejati dan Juara Hakiki: Jalan Ideologis-Sufistik dalam Kehidupan Di tengah dunia...

    Keluarga Menuju Surga : Antara Iman, Cin...

    by Apr 25 2026

    Keluarga Menuju Surga: Antara Iman, Cinta, dan Tanggung Jawab Ruhani (Sebuah Dakwah Ideologis–Sufi...

    Krisis Kerohanian Global dan Jalan Kemba...

    by Apr 25 2026

    Krisis Kerohanian Global dan Jalan Kembali Menuju Cahaya Ilahi (Refleksi Ideologis–Sufistik atas R...

    Krisis Kerohaniaan Global dan Jalan Kemb...

    by Apr 25 2026

    Krisis Kerohanian Global dan Jalan Kembali Menuju Cahaya Ilahi (Refleksi Ideologis–Sufistik atas R...

    Guru Zaman Now, Murabbi Sepanjang Zaman

    by Apr 24 2026

    Guru Zaman Now, Murabbi Sepanjang Zaman.   Menjadi Pendidik yang Dicintai Gen Alpha, Menghidupk...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top