Ustadzfaqih • Apr 22 2026 • 34 Dilihat

Stres Tidak Selalu Musuh: Jalan Sunyi Menuju Kekuatan Iman dan Kematangan Ruhani.
Pernyataan Catherine De Lange dalam karyanya Brain Power bahwa stres tidak selalu merugikan adalah pintu masuk untuk memahami satu hakikat besar: apa yang terasa berat dalam hidup, tidak selalu buruk dalam pandangan Allah.
Dalam kehidupan modern, stres sering diposisikan sebagai penyakit. Ia dihindari, ditakuti, bahkan dianggap sebagai musuh utama kebahagiaan. Namun dalam perspektif yang lebih dalam—baik secara ilmiah maupun ruhani—stres justru bisa menjadi alat pembentuk jiwa, penguat iman, dan bahkan penyelamat kehidupan.
Secara fitrah, manusia diciptakan dengan sistem peringatan internal. Ketika ada ancaman, tekanan, atau tuntutan, tubuh dan jiwa merespons dengan apa yang kita sebut sebagai stres.
Tanpa stres:
Stres adalah “bahasa tubuh” yang berkata:
“Ada sesuatu yang penting. Perhatikan. Hadapi. Bertumbuhlah.”
Namun masalahnya bukan pada stres itu sendiri, melainkan pada ketidakmampuan manusia mengelola dan memaknainya.
Dalam pandangan ideologis Islam, tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi tanpa kehendak Allah. Termasuk stres, tekanan, dan ujian hidup.
Allah tidak sekadar menguji untuk menyulitkan, tetapi untuk:
Stres adalah bagian dari tarbiyah Ilahiyah (pendidikan langsung dari Allah).
Setiap tekanan yang datang sejatinya membawa pesan:
“Naiklah ke level berikutnya.”
Namun sayangnya, banyak manusia:
Padahal, justru di situlah rahasia pertumbuhan.
Para ahli tasawuf memandang kehidupan bukan sekadar rangkaian peristiwa lahiriah, tetapi perjalanan batin menuju Allah.
Dalam kacamata ini, stres memiliki makna yang sangat dalam.
Stres adalah getaran jiwa ketika ia mulai menjauh dari sumber ketenangan sejati.
Ketika manusia terlalu tenggelam dalam dunia:
Maka Allah “mengguncang” sedikit kehidupannya melalui stres agar ia sadar.
Stres menjadi:
Betapa banyak orang:
Maka dalam bahasa sufistik:
stres adalah undangan cinta dari Allah agar hamba-Nya kembali.
Tidak semua stres membawa kebaikan. Ada dua kemungkinan arah:
Ini adalah stres yang diiringi dengan:
Ini terjadi ketika:
Perbedaan keduanya terletak pada satu hal:
apakah hati terhubung dengan Allah atau tidak.
Agar stres menjadi kekuatan, bukan kehancuran, ada beberapa prinsip penting:
Jangan bertanya: “Kenapa ini terjadi padaku?”
Tetapi ubah menjadi: “Apa yang Allah ingin ajarkan kepadaku?”
Hati yang berdzikir tidak akan tenggelam dalam stres.
Dzikir adalah jangkar yang menenangkan badai jiwa.
Stres sering muncul karena ingin mengontrol segalanya.
Padahal manusia hanya diperintahkan berusaha, bukan menentukan hasil.
Setiap tekanan adalah proses pembentukan.
Seperti besi yang ditempa, jiwa pun diperkuat melalui ujian.
Dalam perjalanan hidup, justru orang-orang besar adalah mereka yang ditempa oleh tekanan.
Para nabi, ulama, dan orang shalih:
Dari tekanan lahir:
Maka ukuran kemuliaan bukan pada bebasnya seseorang dari stres,
tetapi pada kemampuannya menjadikan stres sebagai jalan mendekat kepada Allah.
Wahai jiwa yang sedang gelisah…
Mungkin yang engkau anggap beban itu,
sebenarnya adalah cara Allah menyelamatkanmu.
Mungkin yang engkau anggap tekanan itu,
adalah cara Allah mengangkat derajatmu.
Dan mungkin yang engkau sebut stres itu,
adalah jalan pulang yang selama ini engkau lupakan.
Jangan buru-buru mengutuk stres.
Bisa jadi di dalamnya ada:
Karena pada akhirnya:
Bukan stres yang menentukan arah hidupmu,
tetapi bagaimana engkau berjalan bersama Allah di dalamnya.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Ilmu, Amal, dan Ahwal: Jalan Ruhani Menuju Kedekatan dengan Allah. Dalam khazanah spiritual...
Menjadi Pembelajar Sejati dan Juara Hakiki: Jalan Ideologis-Sufistik dalam Kehidupan Di tengah dunia...
Keluarga Menuju Surga: Antara Iman, Cinta, dan Tanggung Jawab Ruhani (Sebuah Dakwah Ideologis–Sufi...
Krisis Kerohanian Global dan Jalan Kembali Menuju Cahaya Ilahi (Refleksi Ideologis–Sufistik atas R...
Krisis Kerohanian Global dan Jalan Kembali Menuju Cahaya Ilahi (Refleksi Ideologis–Sufistik atas R...
Guru Zaman Now, Murabbi Sepanjang Zaman. Menjadi Pendidik yang Dicintai Gen Alpha, Menghidupk...
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu, Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
Stres, dikelola bukan disesali.
Rasa bingung, rasa cemas, ujungnya harus kembali kepada Alloh.
Subhanallah
anggaplah semua caci makian adalah motivasi diri