Ustadzfaqih • Apr 25 2026 • 8 Dilihat

Krisis Kerohanian Global dan Jalan Kembali Menuju Cahaya Ilahi
(Refleksi Ideologis–Sufistik atas Realitas Umat Manusia Modern)
Di tengah gemerlap peradaban modern, manusia justru semakin asing terhadap dirinya sendiri. Kota-kota megah berdiri, teknologi melesat tanpa batas, informasi mengalir deras—namun hati manusia tetap gelisah. Ada kekosongan yang tak terisi, ada kegersangan yang tak tersiram, ada luka batin yang tak terobati.
Inilah paradoks zaman: kemajuan tanpa ketenangan, kebebasan tanpa arah, dan kekuatan tanpa makna.
Fenomena ini bukan sekadar gejala sosial biasa, melainkan tanda dari krisis kerohanian global—sebuah krisis yang berakar pada cara pandang hidup yang keliru.
Akar Krisis: Ketika Manusia Melepaskan Tuhan dari Kehidupan
Dalam analisis ideologis yang tajam, Taqiyuddin An-Nabhani dalam Nidzam al-Islam menjelaskan bahwa akar kerusakan peradaban modern adalah sekularisme—pemisahan agama dari kehidupan.
Sekularisme bukan hanya konsep politik, tetapi telah menjelma menjadi cara berpikir dan cara hidup. Ia mengajarkan bahwa:
Akibatnya, manusia hidup tanpa bimbingan ilahi dalam urusan dunia. Maka lahirlah sistem yang:
Padahal, ketika manusia memutus hubungan dengan Allah, sesungguhnya ia sedang memutus sumber ketenangan hidupnya sendiri.
Hadlarah Barat: Tubuh yang Kuat, Jiwa yang Rapuh
Peradaban Barat telah mencapai puncak dalam hal materi. Namun dalam dimensi ruhani, ia mengalami kehancuran yang sunyi.
Manusia modern:
Inilah yang oleh para sufi disebut sebagai “ghaflah” (kelalaian)—lupa kepada Allah, lupa kepada hakikat diri.
Sebagaimana diisyaratkan oleh Al-Ghazali,
“Hati yang kosong dari dzikir adalah sarang kegelisahan.”
Ketika dunia dijadikan tujuan, maka dunia pula yang akan menghancurkan manusia.
Dimensi Sufistik: Penyakit Hati dan Kehilangan Makna
Dari perspektif sufistik, krisis ini bukan hanya krisis sistem, tetapi juga krisis hati (qalb).
Penyakit-penyakit hati yang merajalela:
Semua ini adalah buah dari jiwa yang jauh dari Allah.
Padahal, hati manusia diciptakan hanya untuk satu tujuan:
mengenal dan mencintai Allah (ma’rifatullah).
Ketika hati tidak diisi dengan cahaya Ilahi, maka ia akan diisi oleh kegelapan dunia.
Hadlarah Islam: Peradaban Cahaya yang Menyatu dengan Wahyu
Berbeda dengan hadlarah Barat, Islam tidak memisahkan antara ruh dan materi, antara dunia dan akhirat.
Islam adalah:
Dalam Islam:
Inilah keindahan Islam: ia menyatukan langit dan bumi dalam satu kesatuan hidup.
Jalan Kembali: Revolusi Jiwa dan Peradaban
Kembali kepada Islam bukan sekadar seruan emosional. Ia adalah proyek perubahan total—dari individu hingga peradaban.
Membersihkan hati dari penyakit dan menghiasinya dengan:
Mengembalikan aqidah Islam sebagai landasan berpikir:
Menghadirkan Islam dalam seluruh aspek:
Refleksi: Jangan Hanya Menyalahkan, Tapi Berbenah
Namun penting untuk disadari:
Krisis ini bukan semata kesalahan “Barat”. Umat Islam pun memiliki andil ketika:
Maka kebangkitan tidak dimulai dari menyalahkan orang lain, tetapi dari memperbaiki diri sendiri.
Penutup: Kembali Sebelum Terlambat
Wahai jiwa yang gelisah…
Wahai hati yang lelah…
Dunia ini bukan tempat beristirahat, tetapi tempat berjuang.
Ketenangan bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada dekatnya hati kepada Allah.
Saatnya kita kembali:
Karena sejatinya…
yang hilang dari manusia modern bukanlah harta, tetapi Allah dalam hatinya.
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Ilmu, Amal, dan Ahwal: Jalan Ruhani Menuju Kedekatan dengan Allah. Dalam khazanah spiritual...
Menjadi Pembelajar Sejati dan Juara Hakiki: Jalan Ideologis-Sufistik dalam Kehidupan Di tengah dunia...
Keluarga Menuju Surga: Antara Iman, Cinta, dan Tanggung Jawab Ruhani (Sebuah Dakwah Ideologis–Sufi...
Krisis Kerohanian Global dan Jalan Kembali Menuju Cahaya Ilahi (Refleksi Ideologis–Sufistik atas R...
Guru Zaman Now, Murabbi Sepanjang Zaman. Menjadi Pendidik yang Dicintai Gen Alpha, Menghidupk...
ISTIQOMAHKAN DIRI, RAIH KEBAHAGIAAN HAKIKI. Dalam perjalanan hidup yang penuh liku, manusia sering k...
No comments yet.