Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Akademik
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Krisis Kerohanian Global dan Jalan Kembali Menuju Cahaya Ilahi.

    Apr 25 20268 Dilihat

    Krisis Kerohanian Global dan Jalan Kembali Menuju Cahaya Ilahi

    (Refleksi Ideologis–Sufistik atas Realitas Umat Manusia Modern)

     

    Di tengah gemerlap peradaban modern, manusia justru semakin asing terhadap dirinya sendiri. Kota-kota megah berdiri, teknologi melesat tanpa batas, informasi mengalir deras—namun hati manusia tetap gelisah. Ada kekosongan yang tak terisi, ada kegersangan yang tak tersiram, ada luka batin yang tak terobati.

    Inilah paradoks zaman: kemajuan tanpa ketenangan, kebebasan tanpa arah, dan kekuatan tanpa makna.

    Fenomena ini bukan sekadar gejala sosial biasa, melainkan tanda dari krisis kerohanian global—sebuah krisis yang berakar pada cara pandang hidup yang keliru.

     

    Akar Krisis: Ketika Manusia Melepaskan Tuhan dari Kehidupan

    Dalam analisis ideologis yang tajam, Taqiyuddin An-Nabhani dalam Nidzam al-Islam menjelaskan bahwa akar kerusakan peradaban modern adalah sekularisme—pemisahan agama dari kehidupan.

    Sekularisme bukan hanya konsep politik, tetapi telah menjelma menjadi cara berpikir dan cara hidup. Ia mengajarkan bahwa:

    • Tuhan cukup di masjid
    • Agama cukup dalam doa
    • Wahyu tidak perlu mengatur kehidupan

    Akibatnya, manusia hidup tanpa bimbingan ilahi dalam urusan dunia. Maka lahirlah sistem yang:

    • Menghalalkan riba demi pertumbuhan ekonomi
    • Melegalkan kebebasan tanpa batas atas nama HAM
    • Menjadikan hawa nafsu sebagai standar kebahagiaan

    Padahal, ketika manusia memutus hubungan dengan Allah, sesungguhnya ia sedang memutus sumber ketenangan hidupnya sendiri.

     

    Hadlarah Barat: Tubuh yang Kuat, Jiwa yang Rapuh

    Peradaban Barat telah mencapai puncak dalam hal materi. Namun dalam dimensi ruhani, ia mengalami kehancuran yang sunyi.

    Manusia modern:

    • Tersenyum di media sosial, tetapi menangis dalam kesepian
    • Memiliki segalanya, tetapi merasa hampa
    • Dikelilingi manusia, tetapi kehilangan makna hubungan

    Inilah yang oleh para sufi disebut sebagai “ghaflah” (kelalaian)—lupa kepada Allah, lupa kepada hakikat diri.

    Sebagaimana diisyaratkan oleh Al-Ghazali,

    “Hati yang kosong dari dzikir adalah sarang kegelisahan.”

    Ketika dunia dijadikan tujuan, maka dunia pula yang akan menghancurkan manusia.

     

    Dimensi Sufistik: Penyakit Hati dan Kehilangan Makna

    Dari perspektif sufistik, krisis ini bukan hanya krisis sistem, tetapi juga krisis hati (qalb).

    Penyakit-penyakit hati yang merajalela:

    • Hubbud dunya (cinta dunia berlebihan)
    • Hasad (iri dan dengki)
    • Riya (pamer amal)
    • Takabbur (kesombongan)

    Semua ini adalah buah dari jiwa yang jauh dari Allah.

    Padahal, hati manusia diciptakan hanya untuk satu tujuan:
    mengenal dan mencintai Allah (ma’rifatullah).

    Ketika hati tidak diisi dengan cahaya Ilahi, maka ia akan diisi oleh kegelapan dunia.

     

    Hadlarah Islam: Peradaban Cahaya yang Menyatu dengan Wahyu

    Berbeda dengan hadlarah Barat, Islam tidak memisahkan antara ruh dan materi, antara dunia dan akhirat.

    Islam adalah:

    • Ideologi (mabda’) → memiliki aqidah dan sistem hidup
    • Spiritualitas (ruhiyah) → menghubungkan manusia dengan Allah
    • Peradaban (hadlarah) → membangun kehidupan berdasarkan wahyu

    Dalam Islam:

    • Politik adalah amanah
    • Ekonomi adalah ibadah
    • Ilmu adalah jalan menuju Allah
    • Kehidupan adalah perjalanan menuju akhirat

    Inilah keindahan Islam: ia menyatukan langit dan bumi dalam satu kesatuan hidup.

     

    Jalan Kembali: Revolusi Jiwa dan Peradaban

    Kembali kepada Islam bukan sekadar seruan emosional. Ia adalah proyek perubahan total—dari individu hingga peradaban.

    1. Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa)

    Membersihkan hati dari penyakit dan menghiasinya dengan:

    • Ikhlas
    • Sabar
    • Tawakal
    • Ridha
    1. Tajdidul ‘Aql (Pembaharuan Cara Berpikir)

    Mengembalikan aqidah Islam sebagai landasan berpikir:

    • Menilai segala sesuatu dengan halal–haram
    • Menjadikan wahyu sebagai sumber kebenaran
    1. Iqamatul Hayah al-Islamiyah (Menegakkan Kehidupan Islam)

    Menghadirkan Islam dalam seluruh aspek:

    • Individu
    • Keluarga
    • Masyarakat
    • Negara

     

    Refleksi: Jangan Hanya Menyalahkan, Tapi Berbenah

    Namun penting untuk disadari:
    Krisis ini bukan semata kesalahan “Barat”. Umat Islam pun memiliki andil ketika:

    • Meninggalkan Al-Qur’an
    • Mengabaikan sunnah
    • Terjebak dalam materialisme
    • Kehilangan ruh dakwah

    Maka kebangkitan tidak dimulai dari menyalahkan orang lain, tetapi dari memperbaiki diri sendiri.

     

    Penutup: Kembali Sebelum Terlambat

    Wahai jiwa yang gelisah…
    Wahai hati yang lelah…

    Dunia ini bukan tempat beristirahat, tetapi tempat berjuang.
    Ketenangan bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada dekatnya hati kepada Allah.

    Saatnya kita kembali:

    • Dari lalai menuju sadar
    • Dari gelap menuju cahaya
    • Dari dunia menuju Allah

    Karena sejatinya…
    yang hilang dari manusia modern bukanlah harta, tetapi Allah dalam hatinya.

    “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Ilmu, Amal dan Ahwal : Jalan Ruhani Menu...

    by Apr 25 2026

     Ilmu, Amal, dan Ahwal: Jalan Ruhani Menuju Kedekatan dengan Allah.   Dalam khazanah spiritual...

    Menjadi Pembelajar Sejati dan Juara Haki...

    by Apr 25 2026

    Menjadi Pembelajar Sejati dan Juara Hakiki: Jalan Ideologis-Sufistik dalam Kehidupan Di tengah dunia...

    Keluarga Menuju Surga : Antara Iman, Cin...

    by Apr 25 2026

    Keluarga Menuju Surga: Antara Iman, Cinta, dan Tanggung Jawab Ruhani (Sebuah Dakwah Ideologis–Sufi...

    Krisis Kerohaniaan Global dan Jalan Kemb...

    by Apr 25 2026

    Krisis Kerohanian Global dan Jalan Kembali Menuju Cahaya Ilahi (Refleksi Ideologis–Sufistik atas R...

    Guru Zaman Now, Murabbi Sepanjang Zaman

    by Apr 24 2026

    Guru Zaman Now, Murabbi Sepanjang Zaman.   Menjadi Pendidik yang Dicintai Gen Alpha, Menghidupk...

    Istiqomahkan Diri, Raih Kebahagiaan Haki...

    by Apr 22 2026

    ISTIQOMAHKAN DIRI, RAIH KEBAHAGIAAN HAKIKI. Dalam perjalanan hidup yang penuh liku, manusia sering k...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top