Ustadzfaqih • Okt 13 2026 • 21 Dilihat

MODAL TERBESAR ORANG BERIMAN ADALAH AGAMANYA
Renungan Spiritual dari Nasihat Hasan al-Bashri.
Dakwah Ideologis-Sufistik . Menghidupkan Hati, Meneguhkan Iman.
“Modal orang beriman adalah agamanya. Jika modal itu hilang, hilang pula agamanya. Tak ada yang menggantikannya dalam bepergian dan tak ada orang-orang yang memercayainya.”
— Nasihat yang dinisbatkan kepada Hasan al-Bashri
1. Agama adalah modal kehidupan seorang mukmin
Dalam kehidupan dunia, manusia mengenal berbagai macam modal. Ada modal harta untuk berdagang, modal ilmu untuk berkarya, modal keterampilan untuk bekerja, dan modal kekuasaan untuk memimpin. Namun, bagi seorang mukmin, ada modal yang jauh lebih berharga daripada semuanya: agama yang berakar dalam iman, terwujud dalam amal saleh, dan tercermin dalam akhlak.
Harta dapat habis, jabatan dapat berakhir, popularitas dapat memudar, dan kekuatan fisik dapat melemah. Akan tetapi, agama yang tertanam kuat di dalam hati menjadi pedoman ketika manusia menghadapi ujian, penuntun ketika ia harus memilih, dan pengingat ketika dunia menawarkan sesuatu yang bertentangan dengan keridaan Allah.
Allah SWT berfirman dalam terjemahan QS. Al-Baqarah ayat 2–3 bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang diberikan kepada mereka.
Ayat ini mengajarkan bahwa iman bukan sekadar pengakuan lisan. Iman melahirkan orientasi hidup, ketaatan, kepedulian, dan tanggung jawab.
Orang beriman tidak hanya bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan dari kehidupan ini?” tetapi juga bertanya, “Apakah yang saya lakukan diridai Allah?”
2. Jika agama hilang, manusia kehilangan arah
Hilangnya agama bukan hanya berarti seseorang meninggalkan identitas keislamannya. Ada pula bahaya ketika seseorang masih mengaku beragama, tetapi tidak lagi menjadikan petunjuk Allah sebagai pedoman hidupnya.
Ketika keuntungan menjadi ukuran segala sesuatu, kejujuran dapat dikorbankan. Ketika kedudukan menjadi tujuan utama, amanah dapat dikhianati. Ketika hawa nafsu menjadi pemimpin, halal dan haram bisa dianggap tidak penting.
Di sinilah pentingnya menjaga agama sebagai modal utama kehidupan.
Agama memberikan ukuran tentang benar dan salah, halal dan haram, adil dan zalim, serta hak dan kewajiban. Ia menjaga manusia agar tidak diperbudak oleh harta, pujian, kekuasaan, dan keinginan yang tidak terkendali.
Allah mengingatkan dalam terjemahan QS. Al-‘Ashr ayat 1–3 bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.
Dengan demikian, iman yang benar harus dipelihara melalui amal, kebenaran, dan kesabaran.
3. Agama melahirkan kepercayaan dan kemuliaan akhlak
Nasihat tersebut juga mengandung pelajaran sosial yang sangat dalam. Kepercayaan adalah salah satu fondasi hubungan antarmanusia. Keluarga, persahabatan, pendidikan, perdagangan, dan kepemimpinan membutuhkan kejujuran serta amanah.
Orang yang menjaga agamanya akan berusaha menjaga perkataannya, menepati janji, memenuhi hak orang lain, dan tidak mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Tentu saja, kepercayaan tidak otomatis hilang hanya karena seseorang melakukan kesalahan, dan orang yang tidak beragama pun dapat menunjukkan perilaku yang jujur. Namun, bagi seorang muslim, agama menyediakan landasan moral dan pertanggungjawaban di hadapan Allah yang seharusnya memperkuat integritasnya.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa tanda kemunafikan dalam perilaku antara lain berdusta ketika berbicara, mengingkari janji, dan berkhianat ketika diberi amanah. Pesan ini mengingatkan kita bahwa kualitas keimanan harus tampak dalam cara kita memperlakukan orang lain.
Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi orang lain tidak merasa aman dengan perkataan dan perbuatan kita.
4. Menjaga agama ketika bepergian dan menghadapi ujian
Ungkapan tentang bepergian dapat direnungkan sebagai pengingat bahwa manusia membutuhkan bekal yang melekat pada dirinya, bukan sekadar bekal yang ditinggalkan di rumah.
Ketika seseorang jauh dari keluarga, tidak diawasi atasan, atau berada di tempat yang tidak mengenalnya, apakah ia tetap jujur? Ketika ada kesempatan memperoleh keuntungan dengan cara yang tidak halal, apakah ia tetap menjaga diri? Ketika tidak ada manusia yang melihat, apakah ia masih mengingat bahwa Allah Maha Mengetahui?
Di sinilah nilai takwa diuji.
Menjaga agama berarti membawa nilai-nilai Islam ke mana pun kita pergi: ke tempat kerja, pasar, kampus, ruang digital, lingkungan keluarga, maupun ruang publik.
Jangan menjadi pribadi yang baik hanya ketika dilihat orang. Jadilah pribadi yang berusaha tetap benar sekalipun tidak mendapatkan pujian dan tidak diawasi manusia.
Sebab, ukuran keikhlasan bukanlah banyaknya orang yang menyaksikan amal kita, melainkan kesungguhan kita dalam menaati Allah.
5. Bagaimana menjaga modal agama?
Ada lima ikhtiar yang dapat kita lakukan setiap hari.
1. Memperkuat akidah. Mengenal Allah, memahami tujuan penciptaan manusia, dan meneguhkan keyakinan kepada hari akhir.
2. Menjaga ibadah. Memelihara salat, membaca dan mempelajari Al-Qur’an, berzikir, berdoa, serta memperbanyak taubat.
3. Menuntut ilmu agama. Memahami hukum-hukum Allah agar tidak mudah terbawa hawa nafsu, kebiasaan yang keliru, atau arus pemikiran yang menyesatkan.
4. Memperbaiki akhlak. Melatih kejujuran, amanah, kesabaran, kerendahan hati, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama.
5. Melakukan muhasabah. Mengevaluasi diri setiap malam: apakah hari ini kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh karena kelalaian dan dosa?
Ingatlah, menjaga agama bukan pekerjaan satu hari. Ia merupakan perjuangan sepanjang hayat. Kita mungkin pernah lalai, melakukan kesalahan, atau terjatuh dalam dosa. Namun, pintu taubat dan kesempatan memperbaiki diri tetap harus kita sambut dengan sungguh-sungguh.
6. Renungan sufistik: Jangan kehilangan Allah di tengah kesibukan dunia
Ada manusia yang memiliki banyak harta, tetapi hatinya miskin ketenangan. Ada yang mempunyai jabatan tinggi, tetapi hidupnya dipenuhi kecemasan. Ada pula yang dipuji banyak orang, tetapi diam-diam kehilangan arah dan makna kehidupan.
Mengapa hal itu dapat terjadi?
Karena kekayaan lahiriah tidak selalu diiringi kekayaan batiniah. Dunia dapat memenuhi sebagian kebutuhan manusia, tetapi tidak dapat menggantikan kebutuhan hati untuk mengenal, mengingat, dan mengabdi kepada Allah.
Tazkiyatun nafs mengajarkan kita membersihkan hati dari kesombongan, riya, hasad, cinta dunia yang berlebihan, dan ketergantungan pada pujian manusia. Bukan berarti kita harus meninggalkan pekerjaan, keluarga, bisnis, atau perjuangan membangun masyarakat. Sebaliknya, semua itu harus dijalani dengan iman, ilmu, dan akhlak.
Jadikan harta sebagai sarana berbuat baik, bukan sesembahan hati. Jadikan jabatan sebagai amanah, bukan alat untuk menyombongkan diri. Jadikan ilmu sebagai jalan menuju kebenaran, bukan alasan merendahkan orang lain.
Jangan hanya sibuk membangun kekayaan yang kita tinggalkan ketika meninggal dunia, tetapi lupa membangun iman dan amal yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Penutup: Jagalah modal yang paling berharga
Wahai saudaraku, jangan ukur keberhasilan hidup hanya dengan apa yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga dengan apa yang berhasil kita jaga di dalam diri.
Jagalah iman ketika mendapatkan nikmat. Jagalah kesabaran ketika menghadapi musibah. Jagalah kejujuran ketika berhadapan dengan keuntungan. Jagalah kerendahan hati ketika memperoleh kedudukan. Dan jagalah hubungan dengan Allah ketika dunia terasa begitu indah hingga kita hampir melupakan-Nya.
Sebab, harta dapat dicari kembali, jabatan mungkin dapat diperoleh lagi, dan kesempatan dunia kadang datang untuk kedua kalinya. Namun, umur yang berlalu tidak kembali, dan kehidupan akhirat bukan sesuatu yang dapat kita persiapkan setelah kematian tiba.
Maka, selama Allah masih memberikan umur, perbaikilah iman, luruskanlah niat, perbanyaklah amal saleh, dan bersungguh-sungguhlah menjaga agama.
Agama bukan sekadar sesuatu yang kita miliki. Agama adalah pedoman yang seharusnya membentuk siapa diri kita, bagaimana kita menjalani kehidupan, dan ke mana kita akan kembali.
Ya Allah, teguhkanlah iman kami, perbaikilah agama kami, sucikanlah hati kami, luruskanlah amal kami, dan jangan Engkau biarkan dunia melalaikan kami dari mengingat-Mu. Karuniakan kepada kami kehidupan yang penuh keberkahan dan akhir kehidupan yang Engkau ridai. Amin.
Dr Nasrul Syarif M.Si.
Pengasuh Pesantren Digital dan Entrepreneurship Fikrul Mustanir.
TIGA MACAM MANUSIA DALAM KEHIDUPAN. Menjadi Pribadi yang Bermanfaat, Memilih Pergaulan yang Saleh, d...
ILMU: JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT Renungan Dakwah Ideologis-Sufistik tentang Keutamaa...
MENCINTAI ILMU DAN MERAIH KEUTAMAANNYA Menapaki Jalan Ilmu, Adab, dan Ma’rifat kepada Allah dalam ...
MENGASAH KEBIASAAN MENULIS BUKU Tips Jitu 90 Hari Menjadi Penulis Produktif. Dari Ide Menjadi Naskah...
KOLABORASI ILMU DAN DAKWAH UNTUK MEWUJUDKAN GENERASI RABBANI Menyatukan Kecerdasan Intelektual, Keda...
Bekal Orang Mulia: Berbuat dan Bersegera. Renungan Dakwah Ideologis-Sufistik tentang Waktu, Amal, da...
Menurut pendapat saya dari bacaan diatas bahwa agama yg berlandaskan iman adalah pondasi utama seorang muslim untuk bisa melaksanakan ketaatan pada Tuhannya,berakhlakul Karimah dan dalam menghadapi segala ujian hidup .selalu memperbaiki diri tanpa harus merasa menjadi yang terbaik.