Ustadzfaqih • Okt 13 2026 • 8 Dilihat

Bekal Orang Mulia: Berbuat dan Bersegera.
Renungan Dakwah Ideologis-Sufistik tentang Waktu, Amal, dan Perjalanan Menuju Ridha Allah
“Bekal orang mulia adalah berbuat dan bersegera. Sedangkan bekal orang terlaknat adalah menunda dan mengundur-undur.”
Nasihat ini mengandung pelajaran mendalam tentang hakikat kehidupan seorang Muslim. Kemuliaan seseorang tidak cukup diukur dari banyaknya ilmu yang dimiliki, indahnya kata-kata yang diucapkan, atau tingginya cita-cita yang direncanakan. Kemuliaan itu tampak ketika ilmu melahirkan amal, iman mendorong ketaatan, dan kesadaran akan kehidupan akhirat membangkitkan semangat untuk segera melakukan kebaikan.
1. Waktu adalah amanah, bukan sesuatu yang bisa diulang
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-‘Ashr ayat 1–3, yang artinya:
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Ayat ini mengingatkan bahwa waktu bukan sekadar perjalanan detik demi detik. Waktu adalah ruang kehidupan tempat manusia menanam amal dan mempersiapkan kepulangannya kepada Allah SWT.
Orang yang memahami nilai waktu tidak akan membiarkan hidupnya berlalu tanpa makna. Ia berusaha menjadikan setiap kesempatan sebagai jalan mendekat kepada Allah: dengan beribadah, mencari ilmu, bekerja secara halal, menolong sesama, memperbaiki akhlak, dan menyampaikan kebenaran.
Sebaliknya, orang yang terus menunda kebaikan sering kali terjebak dalam ilusi bahwa kesempatan akan selalu tersedia. Padahal, umur terus berkurang, kesehatan dapat melemah, dan kesempatan yang hilang belum tentu datang kembali.
2. Bersegera dalam kebaikan adalah tanda hidupnya iman
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 133, yang artinya:
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
Perhatikan pesan ayat tersebut: Allah tidak hanya memerintahkan manusia untuk menginginkan ampunan dan surga, tetapi juga untuk bersegera meraihnya.
Bersegera bukan berarti bertindak ceroboh atau tergesa-gesa tanpa pertimbangan. Bersegera berarti tidak sengaja mengulur ketaatan ketika kebenaran telah jelas, kesempatan tersedia, dan kemampuan untuk beramal ada.
• Ketika menyadari kesalahan, segeralah bertobat.
• Ketika mendengar azan, sambutlah panggilan Allah.
• Ketika memperoleh ilmu, berusahalah mengamalkannya.
• Ketika mampu membantu, jangan biarkan saudara kita menunggu tanpa alasan.
• Ketika memiliki kesempatan berdakwah, sampaikanlah kebenaran dengan ilmu, hikmah, dan akhlak yang baik.
Iman yang hidup melahirkan gerakan. Pengetahuan yang benar melahirkan kesadaran. Kesadaran yang tulus mendorong amal nyata.
3. Menunda-nunda: penyakit jiwa yang melemahkan amal
Menunda kebaikan sering kali tidak terlihat sebagai dosa besar. Bahkan, seseorang dapat merasa dirinya masih memiliki niat yang baik. Namun, niat yang terus-menerus tidak diwujudkan bisa menjadi penghalang bagi pertumbuhan rohaninya.
Ada orang yang ingin memperbaiki salatnya, tetapi selalu berkata, “Nanti kalau sudah lebih tenang.”
Ada yang ingin belajar agama, tetapi terus menunggu waktu luang.
Ada yang ingin meminta maaf, tetapi membiarkan kesombongan menguasai dirinya.
Ada pula yang ingin berdakwah dan memberikan manfaat kepada umat, tetapi terus menunggu keadaan sempurna.
Akhirnya, hari berganti hari, bulan berganti bulan, sementara kebaikan yang direncanakan tidak pernah menjadi kenyataan.
Dalam tradisi tazkiyatun nafs, keadaan ini perlu dilawan melalui muhasabah, kesungguhan melawan hawa nafsu, dan pembiasaan amal saleh.
Imam Al-Ghazali dalam tradisi pendidikan akhlaknya mengajarkan pentingnya kesungguhan memperbaiki diri. Pengetahuan tentang kebaikan perlu diikuti latihan dan tindakan agar membentuk karakter.
Jangan sampai kita lebih rajin merencanakan perubahan daripada menjalani perubahan itu sendiri.
4. Kemuliaan bukan pada banyaknya rencana, melainkan pada amal yang ikhlas
Islam tidak mengajarkan bahwa manusia mulia hanya karena terlihat sibuk. Amal yang dikerjakan harus tetap memenuhi tuntunan syariat, dilakukan dengan niat yang benar, dan sebisa mungkin dijaga keberlangsungannya.
Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim, bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.
Hadis ini memberikan keseimbangan penting: bersegera memulai kebaikan, kemudian istiqamah menjalaninya.
Tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk memulai. Tidak harus menunggu memiliki banyak harta untuk berbagi. Tidak harus menunggu menjadi ulama untuk mempelajari dan mengamalkan kewajiban agama.
Mulailah dari apa yang mampu dilakukan, lalu tingkatkan kualitasnya secara bertahap.
Satu halaman Al-Qur’an yang dibaca dengan kesungguhan lebih baik daripada rencana membaca banyak halaman yang terus ditunda. Satu tindakan menolong yang tulus lebih bermakna daripada banyak janji yang tidak ditepati.
5. Muhasabah: apa yang sedang kita tunda?
Marilah kita bertanya kepada diri sendiri dengan jujur:
• Kebaikan apa yang sudah lama ingin saya lakukan, tetapi terus saya tunda?
• Dosa apa yang seharusnya saya tinggalkan, tetapi masih saya pelihara?
• Siapa yang perlu saya maafkan atau mintai maaf?
• Ilmu apa yang sudah saya ketahui, tetapi belum saya amalkan?
• Apa manfaat nyata yang sudah saya berikan kepada keluarga, masyarakat, dan umat?
Jangan menjawab pertanyaan tersebut hanya dengan penyesalan. Jadikanlah ia sebagai awal perubahan.
Jika perlu memperbaiki salat, mulailah menjaga salat berikutnya. Jika perlu meminta maaf, lakukan dengan cara yang baik. Jika perlu menuntut ilmu, tentukan waktu belajar hari ini. Jika ingin berdakwah, mulailah dengan menyampaikan satu kebenaran yang dipahami secara benar.
Perubahan besar sering kali berawal dari keputusan kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Penutup: Jangan biarkan kesempatan mendahului penyesalan
Saudaraku, kehidupan dunia bukan tempat tinggal yang abadi. Kita sedang berjalan menuju akhir perjalanan yang tidak seorang pun mengetahui waktunya.
Jangan menunggu tua untuk menjadi saleh. Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari nikmat. Jangan menunggu kematian datang untuk menyesali amal yang tidak pernah dikerjakan.
Kemuliaan seorang hamba terletak pada ketundukannya kepada Allah, kesungguhannya dalam beramal, keikhlasannya dalam berbuat, dan manfaat yang diberikannya kepada sesama.
Bergeraklah menuju kebaikan. Bertobatlah sebelum terlambat. Beramallah sebelum kesempatan berakhir. Dan istiqamahlah hingga Allah memanggil kita dalam keadaan beriman.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang tidak hanya pandai memahami kebenaran, tetapi juga bersegera mengamalkannya; tidak hanya memiliki cita-cita mulia, tetapi juga bersungguh-sungguh mewujudkannya; dan tidak hanya mengharapkan ridha Allah, tetapi benar-benar menempuh jalan yang diridai-Nya.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
Dr Nasrul Syarif M.Si.
Pengasuh Pesantren Digital dan Entrepreneurship Fikrul Mustanir.
TIGA MACAM MANUSIA DALAM KEHIDUPAN. Menjadi Pribadi yang Bermanfaat, Memilih Pergaulan yang Saleh, d...
ILMU: JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT Renungan Dakwah Ideologis-Sufistik tentang Keutamaa...
MENCINTAI ILMU DAN MERAIH KEUTAMAANNYA Menapaki Jalan Ilmu, Adab, dan Ma’rifat kepada Allah dalam ...
MENGASAH KEBIASAAN MENULIS BUKU Tips Jitu 90 Hari Menjadi Penulis Produktif. Dari Ide Menjadi Naskah...
KOLABORASI ILMU DAN DAKWAH UNTUK MEWUJUDKAN GENERASI RABBANI Menyatukan Kecerdasan Intelektual, Keda...
MODAL TERBESAR ORANG BERIMAN ADALAH AGAMANYA Renungan Spiritual dari Nasihat Hasan al-Bashri. Dakwah...
No comments yet.