Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Pesantren Digital Fikrul Mustanir
  • Profil Akademik
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Lidah Orang Berakal Berada di Belakang Hatinya.

    • Okt 13 2026 • 26 Dilihat

    LIDAH ORANG BERAKAL BERADA DI BELAKANG HATINYA

    Renungan Hikmah Syeikh Hasan al-Bashri tentang Menjaga Lisan, Kejernihan Hati, dan Kedalaman Hikmah

    1. Nasihat yang Menghidupkan Akal dan Hati
    Salah satu nasihat hikmah yang dinisbatkan kepada Syeikh Hasan al-Bashri mengingatkan kita tentang perbedaan antara orang yang bijaksana dan orang yang kurang mampu mengendalikan dirinya:
    “Lidah orang berakal berada di belakang hatinya. Karena itu, jika hendak berbicara, ia berpikir terlebih dahulu. Jika pembicaraannya berguna baginya, ia katakan; dan jika berbahaya, ia diam. Hati orang bodoh berada di belakang lidahnya. Jika ingin berbicara, ia berbicara, baik berguna maupun membahayakan dirinya.”
    Nasihat ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Orang yang berakal tidak membiarkan lidahnya mendahului pertimbangan hati dan pikirannya. Ia menimbang kebenaran, manfaat, akibat, serta tanggung jawab dari setiap perkataan yang hendak disampaikan.
    Sebaliknya, orang yang tidak mampu mengendalikan lisannya sering kali berbicara mengikuti dorongan emosi, hawa nafsu, amarah, atau keinginan untuk mendapatkan perhatian. Setelah kata-kata terucap, barulah ia menyadari akibatnya.
    Padahal, tidak semua yang diketahui harus dikatakan, tidak semua yang dirasakan harus diungkapkan, dan tidak semua yang ingin disampaikan membawa kebaikan.

    2. Al-Qur’an Mengajarkan agar Kita Berkata Benar
    Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, surah Al-Ahzab ayat 70–71,
    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا
    “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu.”
    Ayat ini menunjukkan bahwa perkataan bukan sekadar rangkaian kata. Lisan merupakan bagian dari penghambaan kepada Allah dan berkaitan erat dengan kualitas amal seseorang.
    Perkataan yang benar mencakup kejujuran, keadilan, ketepatan, dan kesediaan untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik.
    Orang berakal tidak hanya bertanya, “Apakah yang saya katakan benar?” Ia juga mempertimbangkan, “Apakah cara saya menyampaikannya tepat? Apakah perkataan ini membawa perbaikan atau justru menimbulkan kerusakan?”
    Kebenaran harus dijaga, tetapi cara menyampaikannya juga perlu memperhatikan hikmah, keadaan, dan kemaslahatan.

    3. Diam Adalah Hikmah, Bukan Selalu Kelemahan
    Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim:
    “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
    Hadis ini memberikan ukuran yang sangat jelas bagi seorang Muslim. Lisan hendaknya digunakan untuk menyampaikan kebaikan. Apabila perkataan tidak membawa manfaat yang dibenarkan atau berpotensi menimbulkan keburukan, diam dapat menjadi pilihan yang lebih bijaksana.
    Namun, diam tidak berarti membiarkan kezaliman, menyembunyikan kesaksian yang wajib disampaikan, atau menghindari tanggung jawab menasihati. Ada saatnya kita wajib berbicara demi menegakkan kebenaran dan melindungi orang lain.
    Hikmah bukan sekadar mengetahui kapan harus berbicara, melainkan juga mengetahui kapan harus diam dan bagaimana menyampaikan kebenaran.

    4. Bahaya Lisan yang Tidak Dikendalikan Hati
    Lisan yang tidak dikendalikan dapat menimbulkan berbagai kerusakan, di antaranya:
    • Ghibah: membicarakan keburukan orang lain yang tidak disukainya.
    • Fitnah dan adu domba: merusak hubungan persaudaraan melalui perkataan yang menyesatkan.
    • Ucapan penuh amarah: melukai hati keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat.
    • Kesombongan: merendahkan orang lain demi meninggikan diri sendiri.
    • Perdebatan tanpa manfaat: mempertahankan ego meskipun kebenaran telah terlihat.
    • Penyebaran informasi yang belum jelas: menyampaikan kabar tanpa memeriksa kebenarannya.
    Pada zaman digital, nasihat ini semakin penting. Jari yang mengetik di media sosial pada hakikatnya menjadi perpanjangan lisan. Komentar, unggahan, pesan, dan berita yang dibagikan juga mencerminkan akhlak serta tanggung jawab seseorang.
    Sebelum mengirim pesan atau menyebarkan informasi, seorang Muslim hendaknya bertanya: apakah ini benar, apakah bermanfaat, apakah adil, dan apakah saya siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?

    5. Tazkiyatun Nafs: Menjaga Lisan Berawal dari Membersihkan Hati
    Dalam perspektif akhlak dan tasawuf, menjaga lisan tidak cukup hanya dengan menahan kata-kata. Akar perkataan perlu diperiksa, sebab ucapan sering kali merupakan cerminan keadaan batin.
    Jika hati dipenuhi kesombongan, lisan mudah merendahkan. Jika hati dikuasai hasad, lisan mudah mencela. Jika hati dikuasai amarah, lisan mudah melukai. Sebaliknya, hati yang terdidik dengan keikhlasan, kasih sayang, kesabaran, dan ketakwaan akan lebih mudah melahirkan perkataan yang menenteramkan.
    Karena itu, latihan menjaga lisan perlu disertai dengan:
    1. Muhasabah: mengevaluasi perkataan sebelum dan sesudah berbicara.
    2. Mujahadah: melawan dorongan untuk membalas, mencela, atau menyakiti.
    3. Dzikir: menghidupkan kesadaran bahwa Allah senantiasa mengetahui keadaan kita.
    4. Tawaduk: menyadari bahwa kita tidak selalu benar dan masih perlu belajar.
    5. Ikhlas: berbicara untuk mencari ridha Allah, bukan semata-mata pujian manusia.
    Semakin seseorang mengenal kelemahan dirinya, semakin ia berhati-hati dalam menilai orang lain. Semakin ia mendekat kepada Allah, semakin ia menyadari bahwa setiap ucapan memiliki konsekuensi moral dan spiritual.

    6. Latihan Praktis Sebelum Berbicara
    Biasakan melakukan lima pemeriksaan sederhana sebelum mengucapkan sesuatu:
    Benarkah?
    Pastikan ucapan sesuai fakta dan tidak dibangun di atas prasangka.
    Baikkah?
    Pilih kata-kata yang menjaga kehormatan dan tidak sengaja melukai.
    Bermanfaatkah?
    Pertimbangkan apakah perkataan itu membawa ilmu, solusi, atau kebaikan.
    Tepatkah waktunya?
    Nasihat yang benar pun dapat sulit diterima apabila disampaikan pada saat yang tidak tepat.
    Sanggupkah mempertanggungjawabkannya?
    Ingat bahwa ucapan kita bukan hanya dinilai manusia, tetapi juga akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

    7. Renungan Penutup: Biarkan Hati Memimpin Lidah
    Saudaraku, kemuliaan seseorang tidak diukur dari seberapa banyak ia berbicara, seberapa keras ia berdebat, atau seberapa hebat ia memenangkan pertengkaran. Kemuliaan terlihat dari kemampuannya menempatkan perkataan pada tempat yang benar.
    Orang berilmu tidak harus selalu menunjukkan ilmunya melalui banyak bicara. Orang bijaksana tidak harus memenangkan setiap perdebatan. Orang yang kuat tidak harus membalas setiap penghinaan.
    Adakalanya satu kalimat yang jujur lebih berharga daripada seribu kata yang sia-sia. Adakalanya diam yang penuh kesabaran lebih mulia daripada jawaban yang lahir dari amarah. Dan adakalanya sebuah nasihat yang lembut mampu membuka hati yang tidak dapat ditembus oleh kata-kata kasar.
    Marilah kita mendidik hati sebelum mendidik lisan, membersihkan niat sebelum menyampaikan nasihat, dan menimbang akibat sebelum mengucapkan perkataan.
    Sebab, lisan yang bijaksana lahir dari hati yang terjaga, sedangkan hati yang terjaga tumbuh melalui iman, ilmu, muhasabah, dan ketakwaan kepada Allah SWT.

    Doa Menjaga Lisan
    Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kesombongan, kedengkian, kebencian, dan segala penyakit batin. Bimbinglah lisan kami agar senantiasa berkata benar, menyampaikan kebaikan, memberikan nasihat dengan hikmah, serta menjauhi perkataan yang menyakiti dan menyesatkan.
    Ya Allah, jadikanlah diam kami sebagai penjagaan diri, perkataan kami sebagai jalan kebaikan, ilmu kami sebagai cahaya, dan seluruh kehidupan kami sebagai sarana meraih ridha-Mu.
    Amin ya Rabbal ‘alamin.

    Dr Nasrul Syarif M.Si.
    Pengasuh Pesantren Digital dan Entrepreneurship Fikrul Mustanir.

    Share to

    Related News

    Tiga Macam Manusia dalam Kehidupan Menur...

    by • Okt 15 2026

    TIGA MACAM MANUSIA DALAM KEHIDUPAN. Menjadi Pribadi yang Bermanfaat, Memilih Pergaulan yang Saleh, d...

    Ilmu Jalan Menuju Kebahagiaan Dunia dan ...

    by • Okt 15 2026

    ILMU: JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT Renungan Dakwah Ideologis-Sufistik tentang Keutamaa...

    Mencintai Ilmu dan Meraih Keutamaannya.

    by • Okt 14 2026

    MENCINTAI ILMU DAN MERAIH KEUTAMAANNYA Menapaki Jalan Ilmu, Adab, dan Ma’rifat kepada Allah dalam ...

    Mengasah Kebiasaan Menulis Buku – ...

    by • Okt 13 2026

    MENGASAH KEBIASAAN MENULIS BUKU Tips Jitu 90 Hari Menjadi Penulis Produktif. Dari Ide Menjadi Naskah...

    KOlaborasi Ilmu dan Dakwah Untuk Mewujud...

    by • Okt 13 2026

    KOLABORASI ILMU DAN DAKWAH UNTUK MEWUJUDKAN GENERASI RABBANI Menyatukan Kecerdasan Intelektual, Keda...

    Bekal Orang Mulia : Berbuat dan Berseger...

    by • Okt 13 2026

    Bekal Orang Mulia: Berbuat dan Bersegera. Renungan Dakwah Ideologis-Sufistik tentang Waktu, Amal, da...

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top