Ustadzfaqih • Agu 03 2026 • 12 Dilihat

Tanda-Tanda Orang yang Mendapatkan Hidayah Allah SWT.
Hikmah dan Penjelasan Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 137 dan QS. Ali ‘Imran Ayat 101.
“Hidayah adalah cahaya dari Allah yang menerangi akal, menenangkan hati, meluruskan langkah, dan mengantarkan seorang hamba menuju keridaan-Nya.”
Hidayah merupakan nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Harta, jabatan, kecerdasan, maupun kekuasaan tidak akan bernilai apabila seseorang tidak memperoleh hidayah. Sebaliknya, orang yang sederhana namun mendapatkan hidayah akan menjalani hidup dengan penuh ketenangan, keberkahan, dan tujuan yang jelas.
Allah SWT menegaskan bahwa hidayah bukan hanya berupa pengetahuan tentang kebenaran, tetapi juga kemampuan untuk menerima, mencintai, mengamalkan, dan istiqamah di atas jalan tersebut hingga akhir hayat.
1. Hidayah Menjadikan Seseorang Berada di Jalan Orang-orang Beriman
QS. Al-Baqarah Ayat 137
فَاِنْ اٰمَنُوْا بِمِثْلِ مَآ اٰمَنْتُمْ بِهٖ فَقَدِ اهْتَدَوْا ۚوَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا هُمْ فِيْ شِقَاقٍۚ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللّٰهُ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ۗ
“Jika mereka beriman sebagaimana kamu telah beriman, sungguh mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, maka sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan. Maka Allah akan memeliharamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 137)
Tafsir Ibnu Katsir
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan ukuran hidayah yang sebenarnya, yaitu mengikuti keimanan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.
Keimanan tidak cukup hanya mengaku percaya kepada Allah, tetapi harus sesuai dengan aqidah, ibadah, akhlak, dan manhaj yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Barang siapa mengikuti jalan tersebut maka ia benar-benar memperoleh petunjuk.
Sebaliknya, orang yang menyimpang dari ajaran Nabi meskipun merasa dirinya benar, sesungguhnya masih berada dalam kesesatan.
Tafsir Al-Qurthubi
Al-Qurthubi menjelaskan bahwa hidayah adalah kesesuaian antara keyakinan dan wahyu.
Kebenaran bukan ditentukan oleh mayoritas manusia, melainkan oleh kesesuaiannya dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Tafsir As-Sa’di
Syekh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan:
• Hidayah hanya dimiliki orang yang menerima seluruh ajaran Islam.
• Orang yang menolak sebagian syariat belum memperoleh hidayah secara sempurna.
• Hidayah akan melahirkan persatuan hati, sedangkan kesesatan melahirkan perpecahan.
Hikmah QS. Al-Baqarah 137
1. Orang yang mendapat hidayah mencintai Al-Qur’an.
Al-Qur’an menjadi pedoman hidupnya.
Ia membaca, memahami, menghafal, dan mengamalkannya.
2. Mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ
Semakin mendapat hidayah, semakin kuat kecintaannya kepada Sunnah.
Ia tidak menjadikan hawa nafsu sebagai pedoman hidup.
3. Tidak mudah terpengaruh pemikiran yang menyimpang
Karena memiliki standar kebenaran yang jelas.
4. Mencintai orang-orang saleh
Hatinya condong kepada para ulama, orang bertakwa, dan lingkungan yang baik.
5. Menjaga persatuan kaum muslimin
Hidayah melahirkan ukhuwah.
Kesesatan melahirkan permusuhan.
2. Berpegang Teguh kepada Allah
QS. Ali ‘Imran Ayat 101
وَكَيْفَ تَكْفُرُوْنَ وَاَنْتُمْ تُتْلٰى عَلَيْكُمْ اٰيٰتُ اللّٰهِ وَفِيْكُمْ رَسُوْلُهٗ ۗ وَمَنْ يَّعْتَصِمْ بِاللّٰهِ فَقَدْ هُدِيَ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ࣖ
“Bagaimana mungkin kamu menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepadamu, dan Rasul-Nya berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa berpegang teguh kepada Allah, maka sungguh ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
(QS. Ali ‘Imran: 101)
Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa berpegang teguh kepada Allah berarti:
• berpegang kepada Al-Qur’an,
• Sunnah Rasulullah ﷺ,
• agama Islam secara menyeluruh.
Inilah sebab seseorang memperoleh hidayah menuju ash-shirath al-mustaqim.
Tafsir Ath-Thabari
Ath-Thabari menjelaskan bahwa siapa saja yang menyerahkan dirinya kepada Allah, bertawakal kepada-Nya, dan mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju keselamatan dunia dan akhirat.
Tafsir Fakhruddin Ar-Razi
Ar-Razi menjelaskan bahwa hidayah merupakan pertolongan Allah agar manusia mampu mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya.
Karena itu banyak orang mengetahui kebenaran tetapi tidak mampu mengikutinya.
Hikmah QS. Ali ‘Imran 101
1. Orang yang mendapat hidayah selalu bergantung kepada Allah.
Ia tidak bergantung kepada makhluk.
2. Hatinya kuat menghadapi ujian.
Karena yakin Allah selalu bersamanya.
3. Istiqamah dalam ibadah.
Shalat menjadi kebutuhan.
Dzikir menjadi ketenangan.
Al-Qur’an menjadi sahabat.
4. Mudah menerima nasihat.
Semakin mendapat hidayah semakin rendah hati.
5. Semakin takut berbuat dosa.
Ia lebih takut kehilangan hidayah daripada kehilangan dunia.
Menurut Imam Al-Ghazali
Dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu tanda hidayah adalah ketika hati lebih mencintai akhirat daripada dunia. Cahaya hidayah membuat seseorang mampu membedakan yang hak dan batil, lalu menggerakkan anggota badan untuk menaati Allah, bukan sekadar mengetahui kebenaran.
Menurut Ibnu Athaillah As-Sakandari
Dalam Al-Hikam, Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa salah satu tanda datangnya hidayah adalah ketika Allah membuka pintu ketaatan, memudahkan amal saleh, dan menjauhkan hati dari ketergantungan kepada makhluk. Seorang yang memperoleh hidayah akan lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada mencari-cari kesalahan orang lain.
Tanda-Tanda Orang yang Mendapatkan Hidayah
1. Mencintai Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman hidup.
2. Mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ dengan penuh kecintaan.
3. Senang menghadiri majelis ilmu dan berdzikir kepada Allah.
4. Istiqamah dalam shalat dan ibadah lainnya.
5. Mudah menerima nasihat dan koreksi.
6. Tawadhu’ serta tidak sombong terhadap ilmu dan amal.
7. Menjauhi maksiat serta segera bertaubat ketika tergelincir.
8. Bertawakal kepada Allah dalam setiap urusan.
9. Mencintai orang-orang saleh dan lingkungan yang baik.
10. Lebih mengutamakan keridaan Allah daripada kepentingan dunia.
Pelajaran Dakwah
Hidayah bukan sekadar mengetahui jalan yang benar, tetapi kemauan dan kemampuan untuk menempuh jalan tersebut hingga akhir kehidupan. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak hanya memohon ilmu, tetapi juga memohon keteguhan hati agar tetap berada di atas petunjuk Allah. Dakwah pun hendaknya mengajak manusia kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan hikmah, keteladanan, dan kasih sayang, seraya menyadari bahwa pemberi hidayah yang hakiki hanyalah Allah SWT.
Sebagaimana doa yang sering dibaca Rasulullah ﷺ:
“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi)
Kesimpulan
Berdasarkan QS. Al-Baqarah ayat 137 dan QS. Ali ‘Imran ayat 101 beserta penjelasan para mufasir, tanda utama orang yang memperoleh hidayah ialah kesesuaian iman dan amal dengan Al-Qur’an dan Sunnah, keteguhan berpegang kepada Allah, kecintaan terhadap ketaatan, kerendahan hati menerima nasihat, serta istiqamah dalam menempuh jalan yang lurus. Hidayah adalah anugerah yang harus disyukuri, dipelihara dengan amal saleh, dan terus dimohonkan kepada Allah dalam setiap doa.
Dr Nasrul Syarif M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.
Kosongkan Hatimu dari Segala Sesuatu Selain Allah. Menapaki Jalan Tauhid, Ikhlas, dan Kebebasan Hati...
Murah Hati: Jalan Menuju Ketenangan Hati dan Kemuliaan di Sisi Allah. Hikmah dan Penjelasan Tafsir Q...
Termasuk Orang-Orang yang Dicintai Allah dan Rasul-Nya. Hikmah dan Penjelasan Tafsir QS. At-Taubah A...
Air Mata yang Mengering: Ketika Dosa Mematikan Hati. Membaca Nasihat Ibnu Athaillah dalam Tajul R...
Politik Ekonomi Islam Menjaga Ketahanan Keluarga. Membangun Keluarga yang Sejahtera, Mandiri, dan Be...
Dzikir: Jalan Menuju Keberuntungan, Kemenangan, dan Ketenangan Hati. Allah SWT menjadikan dzikir seb...
No comments yet.