Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Zuhud: Pangkat Mulia Setelah Taqwa, Dari Salaf Hingga Ulama Kontemporer.

    Sep 02 2025105 Dilihat

    Zuhud: Pangkat Mulia Setelah Taqwa, Dari Salaf Hingga Ulama Kontemporer

     

    Pendahuluan: Zuhud sebagai Jalan Kehidupan

    Zuhud adalah salah satu maqām (tingkatan spiritual) tertinggi setelah takwa kepada Allah SWT. Banyak ulama sepakat bahwa zuhud bukan sekadar meninggalkan dunia secara lahiriah, melainkan sikap hati yang tidak terpaut kepada dunia, walaupun dunia berada di genggaman tangan. Zuhud adalah pengendalian diri dari cinta dunia yang berlebihan, sehingga hati tetap bersih dan fokus pada Allah SWT.

    Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

    “Agar kamu tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
    (QS. Al-Hadid: 23)

    Ayat ini menegaskan inti zuhud: tidak terlalu larut dalam kesedihan karena kehilangan dunia, dan tidak terlalu bangga dengan dunia yang diperoleh.

     

    Zuhud Menurut Ulama Salaf

    Para ulama salaf sangat menekankan zuhud dalam arti sederhana namun mendalam.

    1. Imam Ahmad bin Hanbal berkata:

    “Zuhud adalah tidak terlalu mengharapkan sesuatu yang ada di tangan manusia.”
    Zuhud menurut beliau lebih pada keteguhan hati, tidak bergantung kepada pemberian manusia, dan merasa cukup dengan karunia Allah.

    1. Imam Hasan al-Bashri menekankan zuhud sebagai sikap hati:

    “Zuhud bukan berarti engkau mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, melainkan engkau lebih yakin dengan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tanganmu.”

    1. Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA menyatakan:

    “Zuhud bukan berarti engkau tidak memiliki dunia, tetapi zuhud adalah dunia tidak menguasai hatimu.”

    Bagi ulama salaf, zuhud bukanlah lari dari dunia, melainkan mengatur hubungan dengan dunia agar tidak melupakan akhirat.

     

    Zuhud Menurut Ulama Tasawuf Klasik

    Ulama tasawuf klasik memberikan dimensi lebih dalam terhadap makna zuhud.

    1. Imam al-Ghazali (w. 505 H) dalam Ihya’ Ulumuddin membagi zuhud ke dalam tingkatan:
      • Zuhud dari dosa (tingkat dasar).
      • Zuhud dari hal-hal mubah yang berlebihan (tingkat menengah).
      • Zuhud dari segala sesuatu selain Allah, bahkan surga sekalipun (tingkat tertinggi).

    Menurut al-Ghazali, inti zuhud adalah melepaskan ketergantungan hati dari selain Allah.

    1. Syeikh al-Malibari (pengarang Fath al-Mu’in) menegaskan bahwa zuhud adalah pangkat paling mulia setelah takwa. Zuhud menuntut seorang hamba untuk meninggalkan kesibukan yang sia-sia dan menata hati agar selalu ridha dengan ketetapan Allah.
    2. Sayyid Abu Bakar Syatha (pengarang Kifayah al-Atqiya) menyebut zuhud sebagai perhiasan hati yang menjadikan seseorang tenang, tidak iri kepada orang lain, dan mulia di sisi Allah.

    Mereka sepakat bahwa zuhud bukanlah meninggalkan dunia total, tetapi memutuskan ikatan hati dari kecintaan berlebih kepada dunia.

     

    Zuhud Menurut Ulama Kontemporer

    Ulama tasawuf kontemporer berusaha menjembatani makna zuhud dengan realitas modern.

    1. Syekh Abdul Qadir Isa (w. 1991 M) dalam Haqaiq at-Tasawwuf menjelaskan:

    “Zuhud adalah kosongnya hati dari dunia dan tenangnya jiwa dalam menghadapi takdir Allah.”
    Dalam dunia modern yang penuh konsumtivisme, zuhud justru menjadi penawar dari kegelisahan hidup.

    1. Syekh Ramadhan al-Buthi menegaskan bahwa zuhud bukan menolak dunia, tetapi menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Menurut beliau, seorang muslim tetap harus bekerja, berusaha, dan mencari nafkah halal, namun tanpa diperbudak oleh ambisi dunia.
    2. Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus) sering mengingatkan bahwa zuhud adalah hidup sederhana, tidak silau oleh dunia, dan selalu merasa cukup dengan nikmat Allah. Zuhud menjadikan hidup lebih ringan, damai, dan fokus pada nilai-nilai ukhrawi.

     

    Kesinambungan Makna dari Masa ke Masa

    Dari penjelasan ulama salaf hingga kontemporer, tampak bahwa makna zuhud memiliki kesinambungan:

    • Zuhud salaf: lebih menekankan pada sikap hati yang tidak bergantung kepada manusia dan dunia.
    • Zuhud tasawuf klasik: memperdalam dimensi batiniah, dengan tingkatan yang membawa hati hanya kepada Allah.
    • Zuhud kontemporer: memberikan relevansi dalam dunia modern—bagaimana tetap bekerja dan berinteraksi dengan dunia, tetapi tanpa menjadi hamba dunia.

     

    Langkah Praktis Mencapai Zuhud

    1. Menyadari kefanaan dunia – mengingat bahwa dunia hanya sementara dan akhirat adalah tujuan utama.
    2. Mengendalikan syahwat harta dan ambisi dunia – tidak tamak terhadap apa yang dimiliki orang lain.
    3. Bersyukur dan ridha – merasa cukup dengan karunia Allah.
    4. Menyibukkan diri dengan amal shalih – mengisi waktu dengan hal bermanfaat, bukan kesia-siaan.
    5. Bersahabat dengan orang-orang zuhud – agar hati lebih terarah pada kehidupan sederhana dan ikhlas.

     

    Penutup: Zuhud sebagai Jalan Kemuliaan

    Zuhud bukanlah meninggalkan dunia, tetapi menjadikan hati merdeka dari dunia. Inilah pangkat yang mulia setelah takwa, yang membuat seorang hamba dicintai Allah dan manusia.

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu.”
    (HR. Ibnu Majah)

    Dengan zuhud, seorang muslim mampu hidup sederhana, damai, dan fokus pada ridha Allah. Zuhud adalah jembatan antara ketakwaan dan kebahagiaan hakiki, dari generasi salaf hingga zaman modern.

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top