Ustadzfaqih • Apr 26 2025 • 57 Dilihat

Kitab Kifâyatul Atqiyâ’ wa Minhâjul Ashfiyâ’ karya Sayid Abu Bakar bin Muhammad Syathâ ad-Dimyâthi adalah salah satu karya klasik penting dalam literatur tasawuf dan akhlak Islam. Dalam kitab ini, zuhud mendapatkan tempat istimewa sebagai fondasi utama bagi para salik (penempuh jalan spiritual) yang ingin mencapai maqam kedekatan dengan Allah SWT.
Berikut ini adalah penjelasan mengenai zuhud dan keutamaannya dalam Kitab Kifâyatul Atqiyâ’:
Sayid Abu Bakar Syatha mengutip definisi para ulama sufi terdahulu tentang zuhud, di antaranya:
“Az-zuhdu tarku mâ lâ yanfa’ fî al-âkhirah”
Zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat.
Artinya, zuhud bukan berarti menolak dunia secara total, melainkan menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.
Dalam Kifâyatul Atqiyâ’, disebutkan bahwa zuhud memiliki tingkatan, antara lain:
Ini adalah tingkatan paling dasar, yang menjadi kewajiban bagi semua Muslim.
Zuhud pada tingkatan ini dilakukan oleh para salik agar tidak terjerumus dalam kelalaian.
Ini adalah tingkatan para wali dan orang-orang shalih yang telah merasakan manisnya kedekatan dengan Allah.
Sayid Abu Bakar Syatha menyebutkan banyak keutamaan zuhud, di antaranya:
Bersumber dari hadis Nabi SAW:
“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu.”
(HR. Ibnu Majah)
Orang yang zuhud tidak dikendalikan oleh keinginan dunia, sehingga hatinya lebih fokus dan tenang dalam mengingat Allah.
Zuhud adalah sifat agung yang diwariskan dari para nabi kepada para wali dan shalihîn.
Kitab ini juga memberikan contoh konkret bagaimana seorang murid seharusnya:
Zuhud menurut Sayid Abu Bakar Syatha bukanlah hidup miskin atau menjauh dari dunia sepenuhnya, melainkan sebuah sikap batin yang menempatkan dunia pada tempatnya—sebagai alat, bukan tujuan. Orang yang zuhud adalah orang yang paling kaya, karena hatinya tidak tergantung kepada makhluk, melainkan bergantung sepenuhnya kepada Sang Khaliq.
“Siapa pun yang ingin diberi oleh Allah ilmu tanpa belajar dan petunjuk tanpa lantaran hidayah, hendaknya ia zuhud terhadap dunia.”
— Hadis Nabi Muhammad SAW
Dalam setiap zaman, para pencari ilmu dan kebenaran senantiasa berharap mendapatkan cahaya yang bisa menerangi perjalanan hidup mereka. Namun tidak semua yang berilmu diberi pemahaman, dan tidak semua yang belajar diberi petunjuk. Maka, Nabi Muhammad SAW memberikan sebuah rahasia agung: zuhud adalah pintu menuju ilmu sejati dan hidayah yang murni.
Dalam kitab Kifâyatul Atqiyâ’ wa Minhâjul Ashfiyâ’, Sayid Abu Bakar Syatha menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti menjauhi harta atau hidup dalam kefakiran, tetapi zuhud adalah sikap batin yang tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Zuhud berarti menyingkirkan dunia dari hati, agar hati itu dapat dipenuhi oleh cinta dan makrifat kepada Allah.
“Az-zuhdu tarku mā lā yanfa‘u fī al-ākhirah.”
“Zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat.”
Dengan zuhud, seorang hamba melepaskan dirinya dari jebakan dunia yang menipu. Ia tidak dikendalikan oleh ambisi, pujian, kekuasaan, atau kemewahan. Ia hidup di dunia, tetapi dunia tidak hidup dalam hatinya.
Sabda Nabi di awal tulisan ini menyimpan isyarat halus, bahwa ada ilmu yang dianugerahkan langsung oleh Allah, tanpa melalui proses belajar formal. Inilah yang disebut oleh para ulama sebagai ilmu laduni — ilmu yang Allah tanamkan langsung ke dalam hati hamba yang bersih dari hawa nafsu.
Seperti firman Allah SWT:
“Dan bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu.”
(QS. Al-Baqarah: 282)
Zuhud menumbuhkan takwa, dan takwa membuka pintu-pintu ilmu yang tersembunyi dari kebanyakan orang. Maka tidak mengherankan bila para ulama besar sepanjang sejarah—seperti Imam Al-Ghazali, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, dan lainnya—memiliki penghayatan ruhani yang mendalam sebelum mereka diberi limpahan ilmu dan hikmah.
Sayid Abu Bakar Syatha dalam kitabnya mencontohkan para salafush shalih yang hidup dalam zuhud, namun tetap menjadi lautan ilmu bagi umat. Mereka tidak terikat dengan gemerlap dunia, tapi justru menjadi pemilik cahaya yang menyinari dunia. Mereka tidak berambisi menjadi populer, tapi Allah menjadikan nama mereka harum sepanjang masa.
Zuhud membuat hati mereka jernih, sehingga firasat mereka tajam, pandangan mereka bijak, dan keputusan mereka bersumber dari hikmah Ilahi.
Di tengah dunia modern yang bising oleh iklan, ambisi, dan pencitraan, zuhud tampak seperti sesuatu yang langka. Namun justru karena kelangkaannya, zuhud menjadi permata yang amat berharga. Zuhud bukan berarti keluar dari kehidupan sosial atau meninggalkan pekerjaan, tetapi:
Seorang yang zuhud hari ini bisa jadi adalah seorang pebisnis, guru, akademisi, atau aktivis. Namun hatinya tidak terikat pada tepuk tangan atau angka pencapaian. Ia menanam amal bukan untuk dilihat manusia, tapi untuk dipanen di sisi Tuhannya.
Zuhud adalah cahaya. Ia mungkin tak terlihat oleh mata kasar, tapi pengaruhnya nyata. Ia mengubah arah hidup seseorang dari pencarian duniawi menuju pencarian Ilahi. Ia membuka jalan bagi hadirnya ilmu yang penuh keberkahan, dan petunjuk yang membimbing ke arah yang benar, bahkan tanpa banyak kata.
“Bila cahaya Allah telah masuk ke dalam hati, maka hati itu akan menjadi sumber segala ilmu, ketenangan, dan cinta yang sejati.”
Jika Anda ingin mendekat kepada Allah, ingin meraih hikmah yang menenangkan jiwa, maka berjalanlah di jalan zuhud. Karena di sanalah Allah menyambut hamba-hamba-Nya dengan cahaya ilmu dan petunjuk yang tak ternilai.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.