Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Watak Nafsu : Selalu Mencari Kelonggaran, Kemudahan dan Kesenangan

    Jan 25 2025128 Dilihat

    Watak Nafsu: Selalu Mencari Kelonggaran, Kemudahan, dan Kesenangan

    Nafsu merupakan salah satu aspek penting dalam diri manusia yang sering kali menjadi sumber ujian dalam menjalani kehidupan. Dalam Islam, nafsu memiliki kecenderungan alami untuk selalu mencari kelonggaran, kemudahan, dan kesenangan. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an, hadits, serta pemikiran para ulama, yang memberikan panduan tentang bagaimana mengendalikan dan mengarahkan nafsu agar tidak menjadi penyebab kehancuran diri.

     

    1. Hakikat Nafsu dalam Islam
    • Definisi Nafsu:
      Nafsu berasal dari kata “nafs” yang berarti jiwa atau diri, tetapi dalam konteks ini, sering merujuk pada dorongan manusia yang cenderung pada keinginan duniawi, kesenangan, dan kemalasan dalam ibadah.
    • Ciri-Ciri Watak Nafsu:
    1. Cenderung kepada Kesenangan Duniawi:
      “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang banyak…” (QS Ali Imran: 14)
      Nafsu selalu mengarahkan manusia pada hal-hal yang memberikan kenikmatan instan.
    2. Malas dalam Ibadah:
      Nafsu tidak menyukai pengorbanan, usaha keras, atau hal-hal yang menuntut kesabaran. Rasulullah SAW bersabda:
      “Surga dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci, dan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang diinginkan nafsu.” (HR. Muslim)
    3. Menghindari Tanggung Jawab:
      Nafsu sering kali mencari kelonggaran dan berusaha lari dari tanggung jawab, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

     

    1. Dampak Negatif Jika Nafsu Tidak Dikendalikan
    • Kehancuran Diri:
      “Maka tidakkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS Al-Jasiyah: 23)
      Orang yang mengikuti nafsunya secara bebas cenderung kehilangan arah dan tujuan hidup.
    • Kejahatan dan Keburukan:
      Nafsu yang tidak terkendali dapat mendorong seseorang melakukan dosa, seperti ketamakan, kesombongan, dan kezaliman.
    • Kehilangan Kedamaian Batin:
      Mencari kemudahan dan kesenangan terus-menerus sering kali berujung pada ketidakpuasan, karena nafsu tidak pernah mengenal rasa cukup.

     

    1. Cara Mengendalikan Nafsu
    • 1. Tazkiyah An-Nafs (Penyucian Jiwa):
      Proses tazkiyah melibatkan usaha untuk membersihkan jiwa dari kecenderungan buruk dan memperkuat iman.
      “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams: 9-10)
    • 2. Mujahadah (Bersungguh-Sungguh Melawan Nafsu):
      Rasulullah SAW bersabda:
      “Seorang mujahid adalah orang yang berjihad melawan dirinya sendiri dalam ketaatan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
      Mujahadah berarti terus berusaha menahan diri dari keinginan yang tidak sesuai dengan syariat.
    • 3. Memperbanyak Ibadah:
      Ibadah seperti shalat, puasa, zikir, dan membaca Al-Qur’an menjadi sarana untuk melemahkan nafsu.

      • Puasa: Puasa khususnya efektif dalam mengendalikan nafsu syahwat dan kesenangan duniawi. Rasulullah SAW bersabda:
        “Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    • 4. Menjaga Lingkungan dan Pergaulan:
      Pergaulan yang baik akan membantu seseorang menjaga diri dari pengaruh buruk yang memicu nafsu untuk mencari kelonggaran dan kesenangan berlebihan.
    • 5. Menumbuhkan Kesadaran Akhirat:
      Mengingat kematian dan kehidupan akhirat memberikan motivasi untuk mengendalikan nafsu dan tidak terjebak dalam kesenangan dunia yang sementara.

     

    1. Nafsu dalam Tingkatan yang Berbeda

    Para ulama membagi nafsu menjadi tiga tingkatan:

    1. Nafs Ammarah (Nafsu yang Mengajak pada Keburukan):
      Nafsu ini selalu mendorong manusia kepada dosa dan maksiat.
      “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan.” (QS Yusuf: 53)
    2. Nafs Lawwamah (Nafsu yang Mencela Diri Sendiri):
      Nafsu ini lebih tinggi tingkatannya, karena mulai menyadari kesalahan dan menyesali perbuatan buruk.
    3. Nafs Muthmainnah (Nafsu yang Tenang):
      Nafsu ini adalah tingkatan tertinggi, di mana jiwa telah tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT dan merasakan ketenangan sejati.
      “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.” (QS Al-Fajr: 27-28)

     

    1. Kesimpulan

    Watak nafsu yang selalu mencari kelonggaran, kemudahan, dan kesenangan adalah ujian yang harus dihadapi oleh setiap Muslim. Islam mengajarkan pentingnya mengendalikan dan mengarahkan nafsu melalui penyucian jiwa, mujahadah, dan memperbanyak ibadah. Dengan demikian, manusia dapat mencapai derajat nafs muthmainnah dan mendapatkan ridha Allah SWT.

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top