Ustadzfaqih • Jun 21 2025 • 58 Dilihat

“Wahai Pemuda! Teguhkan Janjimu kepada Allah”
Renungan atas Nasehat Al-Jailani untuk Mencerahkan Jiwa Generasi Muslim
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si
“Wahai Pemuda! Beramallah dengan hukum-Nya dan ilmu-Nya. Jangan keluar dari khiththah dan jangan lupakan janjimu kepada Allah. Perangilah dirimu, hawa nafsumu, setanmu, tabiatmu, duniamu. Janganlah berputus asa dari pertolongan Allah Azza wa Jalla, sesungguhnya pertolongan Allah akan menghampirimu jika engkau teguh.”
(Sayyid Abdul Qadir al-Jailani rahimahullah)
Pendahuluan: Cahaya di Tengah Kegelapan Zaman
Zaman kita adalah zaman yang gersang dari nilai, tetapi subur dalam tipu daya. Dunia mengilaukan mata, membius akal, dan membutakan hati. Generasi muda, yang seharusnya menjadi obor penerang peradaban, justru banyak yang terjerumus dalam kelalaian dan kerapuhan spiritual.
Di tengah hiruk-pikuk zaman, terdengar sebuah suara agung dari abad ke-6 Hijriyah, sebuah seruan penuh cinta dan getaran ruhani dari seorang wali besar: Sayyid Abdul Qadir al-Jailani rahimahullah. Seruannya bukan hanya untuk murid-muridnya di Baghdad, tapi untuk setiap jiwa yang mencari arah di tengah badai zaman. Dan terutama, untukmu wahai pemuda!
Amal yang benar bukan sekadar aktivitas lahiriah. Ia harus dilandasi dengan ilmu. Hukum Allah adalah cahaya, dan ilmu adalah kunci untuk membukanya. Pemuda yang beramal tanpa ilmu bagaikan pelaut yang mengarungi lautan tanpa kompas. Sebaliknya, ilmu tanpa amal adalah keangkuhan.
Sayyid Al-Jailani menegaskan, janganlah kita keluar dari khiththah — yaitu garis lurus kebenaran, jalan Islam yang murni, jalan yang digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Artinya, kita harus berpegang teguh pada syariat, baik dalam ibadah, akhlak, pergaulan, maupun cita-cita. Inilah jalan yang akan menyelamatkan di dunia dan akhirat.
Setiap insan pernah berjanji kepada Allah, bahkan sebelum lahir ke dunia:
وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ
“ Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,(QS. Al-A’raf: 172)
Namun banyak pemuda yang melupakan ikrar suci ini. Mereka lebih sibuk mengejar validasi manusia ketimbang ridha Ilahi. Padahal, kehidupan di dunia ini hanyalah kesempatan singkat untuk membuktikan kejujuran janji kita.
Sayyid Al-Jailani mengingatkan: jangan engkau lupakan janjimu kepada Allah! Jangan khianati amanah Ilahiahmu. Ketika engkau shalat, berdakwah, belajar, atau berjuang menahan nafsu – sesungguhnya engkau sedang menepati janji itu.
Musuh terbesar kita bukanlah orang lain, tetapi diri kita sendiri. Dalam dirimu ada lima musuh yang harus ditundukkan:
Jihad yang terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu. Sayyid al-Jailani tidak berbicara dari ruang teori, tetapi dari samudera pengalaman spiritual. Ia menasihati agar setiap pemuda melatih jiwanya seperti seorang pendekar melatih pedangnya. Terus mengasah hingga tajam, kuat, dan siap menghadapi ujian.
Saat dunia menolakmu, jangan bersedih. Saat impianmu runtuh, jangan kecewa. Ketika engkau jatuh berkali-kali dalam dosa, jangan berputus asa. Karena pertolongan Allah itu nyata bagi siapa yang teguh dan terus melangkah.
“Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)
Sayyid Al-Jailani tahu betul: jalan para pencari kebenaran itu tidak mudah. Tapi siapa yang sabar, yang terus memperbaiki niat dan amalnya, niscaya akan dijemput oleh cahaya pertolongan Ilahi. Bukan karena ia sempurna, tapi karena ia tidak menyerah.
Penutup: Jadilah Pemuda Rabbani
Wahai pemuda, nasihat ini adalah lentera bagi jiwamu. Jangan sia-siakan usia mudamu untuk sesuatu yang akan hilang. Dunia ini fana, kekuatanmu akan habis, kesempatanmu akan hilang. Maka jadikan masa muda sebagai waktu emas untuk menegakkan Islam dalam hidupmu dan di sekitarmu.
Berjuanglah di jalan Allah, bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan amal yang nyata. Tundukkan nafsumu, kuatkan tekadmu, jaga janjimu kepada Allah, dan teruslah berharap kepada-Nya. Karena sesungguhnya, pertolongan Allah pasti akan datang – bagi mereka yang tidak meninggalkan-Nya.
“Wahai Pemuda! Bangkitlah dari kelalaian. Dunia ini bukan tempat tinggal, tapi tempat ujian. Pegang erat tali Allah dan teguhkan hatimu dalam cinta kepada-Nya. Sesungguhnya engkau diciptakan bukan untuk dunia, tapi untuk Surga yang abadi.”
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.