Ustadzfaqih • Mei 23 2026 • 10 Dilihat

Banyak manusia mengukur sukses dari apa yang tampak di mata dunia:
Padahal tidak sedikit orang yang terlihat sukses di luar, tetapi hancur di dalam. Senyumnya tampak indah, namun hatinya lelah. Rumahnya mewah, tetapi jiwanya gelisah. Popularitasnya tinggi, tetapi hidupnya kosong dari ketenangan.
Karena sejatinya, ukuran sukses bukan hanya tentang apa yang dimiliki, tetapi tentang apa yang dirasakan dalam hati.
Sukses sejati adalah ketika seseorang mampu merasakan kebahagiaan, ketenangan, dan makna hidup di tengah perjalanan hidupnya.
Bahagia bukan berarti hidup tanpa ujian.
Bahagia adalah ketika hati tetap memiliki cahaya meski sedang menghadapi kesulitan.
Dalam pandangan spiritual Islam, kebahagiaan sejati lahir dari:
Allah ﷻ berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menjelaskan bahwa ketenteraman bukan dibeli dengan uang, tetapi dibangun dengan kedekatan kepada Allah.
Betapa banyak orang sederhana tetapi tidur nyenyak penuh syukur.
Dan betapa banyak orang kaya yang sulit tidur karena cemas dan takut kehilangan.
Kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya dunia yang kita genggam, tetapi pada sedikitnya beban dunia di dalam hati kita.
Orang yang bahagia:
Sedangkan orang yang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain akan sulit merasa cukup, walaupun dunia diberikan kepadanya.
Maka jangan hanya mengejar kaya, tetapi kejarlah hati yang tenang.
Jangan hanya mengejar pujian manusia, tetapi kejarlah ridha Allah.
Jangan hanya membangun karier, tetapi bangun juga jiwa yang damai.
Karena pada akhirnya:
Sukses sejati adalah ketika:
Maka rawatlah hati.
Jaga hubungan dengan Allah.
Nikmati hidup dengan syukur dan kesederhanaan.
Sebab manusia paling sukses bukan yang paling banyak hartanya, tetapi yang paling mampu merasakan bahagia dalam kedekatan kepada Allah ﷻ.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Syukur, Pikiran, dan Jalan Cahaya Kehidupan. Dakwah Motivasi Spiritual untuk Menata Hati dan Masa De...
Melampaui Keyakinan Menuju Ketenteraman. Tafakur Sufistik atas Dialog Agung Nabi Ibrahim AS dalam Al...
Jeritan dari Dasar Neraka Tafakur Dakwah Ideologis-Sufistik atas QS. Fatir Ayat 37 Dalam Al-Qur...
Jangan Mengharap “Terima Kasih” dari Manusia. Berbuat Baiklah Karena Allah, Bukan Karena Pujian ...
Empat Tahap Sukses Berpidato atau Berceramah. Berpidato atau berceramah bukan sekadar berbicara di d...
Dolar Naik, Rakyat Menjerit. Dakwah Ideologis-Sufistik tentang Empati Pemimpin dan Derita Wong Cilik...
No comments yet.