Tradisi Maulid Nabi di Madura: Dakwah Islam Melalui Budaya Lokal.
Pendahuluan: Maulid sebagai Ekspresi Cinta dan Syukur
Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ merupakan salah satu tradisi religius yang menyebar luas di dunia Islam, termasuk di Nusantara. Di Madura, Maulid bukan sekadar perayaan kelahiran Nabi, melainkan momentum menanamkan cinta kepada Rasulullah ﷺ, memperkuat syukur kepada Allah, dan mempererat ukhuwah.
> “وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ”
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiyā’: 107)
Maulid menjadi wujud rasa syukur atas diutusnya Nabi sebagai rahmat. Sebagaimana Allah memerintahkan:
> “قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ ۖ هُوَ خَيْرٌۭ مِّمَّا يَجْمَعُونَ”
“Katakanlah (wahai Muhammad): Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira; itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yūnus: 58)
Ayat ini sering dikutip para ulama sebagai landasan bolehnya bergembira dengan kelahiran Nabi, asalkan diisi dengan amalan yang baik.
Sejarah Dakwah Islam di Madura: Pendekatan Hikmah
Islam masuk ke Madura sekitar abad ke-15–16 melalui jalur dakwah para wali dan ulama. Mereka mencontohkan prinsip dakwah yang diperintahkan Allah:
> “ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ”
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.” (QS. An-Naḥl: 125)
Para ulama tidak memaksa, melainkan mengintegrasikan nilai Islam dalam budaya setempat, termasuk melalui peringatan Maulid. Inilah alasan tradisi Maulid di Madura kaya akan seni dan kearifan lokal.
Tradisi Maulid di Madura: Bentuk dan Nilai
Beberapa bentuk Maulid di Madura:
1. Pembacaan Kitab Barzanji dan Simṭud Durar
Kitab-kitab maulid karya ulama klasik, seperti Simṭud Durar karya al-Ḥabīb ‘Ali bin Muhammad al-Ḥabsyi dan Barzanji karya Ja’far al-Barzanjī, dibaca dengan lantunan khas Madura. Syairnya berisi kisah kelahiran Nabi, akhlak, dan perjuangan beliau.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa mencintai sunnahku, maka sungguh ia mencintaiku; dan barang siapa mencintaiku, maka ia bersamaku di surga.” (HR. Tirmiżī, no. 2678)
Membaca sirah Nabi dan meneladani beliau adalah bentuk nyata mencintai Rasulullah.
2. Pawai Saronen dan Rebana Islami
Pawai Maulid diiringi alat musik tradisional saronen dan rebana. Seni digunakan sebagai media syiar Islam. Nabi sendiri tidak menolak nyanyian yang baik. Dalam hadits riwayat Bukhari (no. 949), Nabi membiarkan dua budak wanita menyanyi di hari raya untuk mengekspresikan kegembiraan.
3. Sedekah Maulid (Slametan dan Santunan)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ahmad, no. 23408)
Dalam Maulid, masyarakat saling berbagi makanan, bahkan santunan anak yatim. Ini selaras dengan spirit Islam untuk peduli sosial.
4. Pengajian dan Ceramah Agama
Maulid diisi ceramah ulama yang mengingatkan pada keteladanan Rasulullah. Nabi bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 273; al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, 6/412)
Dengan mendengar tausiah, jamaah diingatkan kembali misi utama Nabi.
Pandangan Ulama Klasik tentang Maulid
Imam Jalaluddin al-Suyūṭī (w. 911 H) dalam risalahnya Ḥusn al-Maqṣid fī ‘Amal al-Maulid menegaskan:
> “Asal peringatan Maulid adalah berkumpulnya manusia, membaca Al-Qur’an, kisah Nabi pada waktu kelahirannya, diakhiri dengan jamuan makan, semua itu termasuk bid‘ah hasanah, karena mengandung syukur kepada Allah dan mahabbah kepada Rasul.”
Ibn Hajar al-‘Asqalānī (w. 852 H), ulama hadits ternama, berkata:
> “Amalan Maulid tidak pernah dilakukan pada masa salaf, namun mengandung kebaikan, karena di dalamnya ada sedekah, shalawat, dan pujian kepada Nabi.” (Lihat: al-Ḥāwī lil Fatāwī, 1/229)
Ini menunjukkan bahwa selama isi Maulid sesuai syariat, tradisi tersebut terpuji.
Refleksi: Relevansi Maulid di Era Modern
Maulid di era modern memiliki relevansi kuat:
Menjawab krisis spiritual: di tengah materialisme, Maulid mengingatkan teladan Nabi.
Memperkuat solidaritas sosial: Maulid menghapus sekat kaya-miskin.
Menjadi ruang edukasi: generasi muda belajar sejarah dan akhlak Nabi melalui tradisi yang menyentuh.
Nabi bersabda:
“Perumpamaan aku dan umatku seperti seorang yang menyalakan api; serangga mendekatinya, dan aku berusaha mencegah kalian agar tidak terjerumus ke dalamnya.” (HR. Muslim, no. 2284)
Maulid adalah cara ulama Madura menjaga umat agar tetap dekat pada ajaran Nabi.
Inspirasi Praktis: Meneladani Nabi dalam Kehidupan
Hakikat Maulid adalah menjadikan Nabi sebagai uswah:
> “لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ”
“Sungguh, pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu.” (QS. al-Aḥzāb: 21)
Kejujuran dalam berdagang.
Kasih sayang dalam rumah tangga.
Kepedulian terhadap yatim dan dhuafa.
Sikap sabar dalam menghadapi cobaan.
Maulid mendorong kita untuk menghidupkan nilai-nilai ini di semua lini kehidupan.
Penutup: Maulid sebagai Rahmat dan Dakwah
Tradisi Maulid di Madura adalah bukti harmoni Islam dan budaya lokal. Dengan landasan cinta Rasul dan dakwah bil hikmah, tradisi ini mengandung banyak maslahat.
Semoga peringatan Maulid mendorong kita semua untuk:
1. Meningkatkan mahabbah Rasul dan ketaatan kepada Allah.
2. Menghidupkan sunnah Nabi dalam kehidupan sehari-hari.
3. Menguatkan ukhuwah dan kepedulian sosial.
Nabi ﷺ bersabda:
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari, no. 15; Muslim, no. 44)
Semoga kita tergolong umat yang benar-benar mencintai Nabi, dibuktikan dengan meneladani beliau, dan kelak mendapat syafaatnya. Āmīn.
( Dr Nasrul Syarif
M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Referensi Singkat Ulama Klasik:
Al-Suyūṭī, Ḥusn al-Maqṣid fī ‘Amal al-Maulid
Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, al-Ḥāwī lil Fatāwī
Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī
Al-Baihaqi, Syu’ab al-Imān
Bibarokah bulan maulid