Ustadzfaqih • Mar 28 2025 • 83 Dilihat

Tradisi Halal bi Halal dan Silaturahmi di Indonesia
Indonesia memiliki berbagai tradisi yang kaya dan unik, salah satunya adalah Halal bi Halal. Tradisi ini erat kaitannya dengan momen Hari Raya Idulfitri dan menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Muslim di Indonesia.
Apa Itu Halal bi Halal?
Halal bi Halal adalah tradisi khas Indonesia yang dilakukan setelah Hari Raya Idulfitri. Istilah ini berasal dari bahasa Arab, tetapi penggunaannya lebih dikenal di Indonesia. Secara makna, halal berarti diperbolehkan atau suci, sedangkan dalam konteks ini, Halal bi Halal bermakna saling memaafkan satu sama lain setelah bulan Ramadan.
Tradisi ini umumnya dilakukan dalam bentuk pertemuan keluarga besar, komunitas, instansi pemerintahan, hingga perusahaan untuk mempererat hubungan setelah Ramadan dan Idulfitri.
Asal-Usul Halal bi Halal
Halal bi Halal dipercaya mulai dikenal luas sejak zaman Presiden Soekarno. Konon, istilah ini dicetuskan oleh KH. Wahab Hasbullah, seorang ulama Nahdlatul Ulama (NU), yang mengusulkan kepada Soekarno agar mengadakan pertemuan pasca-Lebaran guna meredakan ketegangan politik saat itu. Sejak saat itu, Halal bi Halal berkembang menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Silaturahmi dalam Islam dan Budaya Indonesia
Silaturahmi adalah konsep yang lebih luas dari Halal bi Halal. Dalam Islam, silaturahmi berarti menjaga dan mempererat hubungan baik antar sesama, baik dengan keluarga, sahabat, maupun masyarakat secara umum.
Tradisi silaturahmi di Indonesia dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti:
Makna dan Manfaat Halal bi Halal & Silaturahmi
Halal bi Halal dan silaturahmi adalah tradisi khas Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai Islam dan budaya gotong royong masyarakat. Dengan melaksanakan tradisi ini, umat Muslim tidak hanya menjaga hubungan baik, tetapi juga memperoleh keberkahan dalam kehidupan.
Keutamaan Silaturahmi dalam Hadits dan Al-Quran.
Silaturahmi memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Dalam Al-Qur’an dan hadis, banyak disebutkan keutamaan menjaga silaturahmi, di antaranya memperpanjang umur, melapangkan rezeki, dan menjadi jalan menuju rahmat Allah.
Keutamaan Silaturahmi dalam Al-Qur’an
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا
“ Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ( QS. An- Nisa: 1)
Penjelasan: Ayat ini menegaskan bahwa menjaga hubungan silaturahmi adalah perintah Allah yang harus dipelihara oleh setiap Muslim.
“…Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan agar dihubungkan (silaturahmi), mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.”
(QS. Ar-Ra’d: 21)
Penjelasan: Salah satu ciri orang yang bertakwa adalah mereka yang senantiasa menjaga tali silaturahmi.
“Orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah perjanjian itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (untuk disambungkan) serta berbuat kerusakan di bumi, mereka itu mendapatkan laknat dan tempat tinggal yang buruk.”
(QS. Ar-Ra’d: 25)
Penjelasan: Allah melaknat orang-orang yang memutus silaturahmi dan mereka akan mendapatkan balasan yang buruk.
Keutamaan Silaturahmi dalam Hadis
“Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.”
(HR. Bukhari No. 5985, Muslim No. 2557)
Penjelasan: Hadis ini menunjukkan bahwa dengan menjaga silaturahmi, Allah akan memberikan keberkahan dalam hidup, baik berupa umur yang panjang maupun rezeki yang melimpah.
“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan (silaturahmi).”
(HR. Bukhari No. 5984, Muslim No. 2556)
Penjelasan: Hadis ini menjadi peringatan bagi umat Islam agar tidak memutus hubungan dengan saudara, teman, atau keluarga, karena hal itu bisa menjadi penghalang masuk surga.
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
(HR. Bukhari No. 6138, Muslim No. 47)
Penjelasan: Menjaga silaturahmi merupakan salah satu tanda keimanan kepada Allah dan hari akhir.
Kesimpulan
Silaturahmi bukan sekadar tradisi, tetapi juga bagian dari ajaran Islam yang memiliki banyak keutamaan, seperti:
✅ Memperpanjang umur dan melapangkan rezeki.
✅ Mendapatkan rahmat dan keberkahan dari Allah.
✅ Menjadi jalan menuju surga.
✅ Menghindarkan dari laknat Allah.
Dengan menjaga silaturahmi, kita tidak hanya mempererat hubungan sosial tetapi juga memperoleh keberkahan dunia dan akhirat.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.