Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Tips Memulai Tulisan : Disenangi, Dikuasai, dan Dialami

    Jun 04 202588 Dilihat

    Tips Memulai Tulisan: Disenangi, Dikuasai, dan Dialami

    Menulis dari Hati agar Sampai ke Hati

    Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.

     

    Mukadimah: Jangan Tunggu Sempurna, Tapi Mulailah dari Yang Dekat dengan Jiwa

    Banyak orang ingin menulis, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ada yang merasa tulisannya tidak layak. Ada yang takut dianggap tidak berilmu. Padahal, menulis bukan soal siapa paling pandai, tapi siapa yang paling jujur dalam menuangkan isi hati dan pikirannya.

    Menulis tidak harus dimulai dari yang besar. Tidak perlu langsung menulis buku berjilid-jilid. Mulailah dari sesuatu yang disenangi, dikuasai, dan dialami. Tiga kunci ini adalah pintu masuk untuk membuka keran ide dan menjadikan tulisan lebih hidup dan bermakna.

     

    1. Mulailah dari yang Disenangi

    “Hati itu akan hidup dengan apa yang dicintainya.” – (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah)

    Menulis tentang sesuatu yang kita sukai akan membuat proses menulis menjadi menyenangkan. Tulisan akan mengalir dengan mudah, tanpa beban. Bahkan ketika belum sempurna, semangat kita tetap tinggi karena ada rasa cinta di balik kata-kata itu.

    Apakah Anda menyukai kisah sejarah? Tafsir Qur’an? Catatan perjalanan? Motivasi spiritual? Pendidikan anak? Mulailah dari sana. Jangan paksakan diri menulis tema yang membuat hati mati.

    Menulis tentang yang disenangi akan membuat Anda bertahan dalam proses, bukan cepat bosan dan menyerah.

     

    1. Tulis Apa yang Dikuasai

    Setelah menulis dari hal yang disenangi, pastikan juga Anda menguasainya. Ini bukan berarti harus menjadi pakar, tapi Anda memiliki pengetahuan yang cukup untuk membahas topik itu dengan percaya diri dan bertanggung jawab.

    Menulis sesuatu yang tidak dikuasai akan membuat tulisan dangkal dan mudah goyah. Sebaliknya, ketika kita menulis berdasarkan ilmu, hasilnya akan bercahaya dan meyakinkan.

    “Barangsiapa berkata tentang Al-Qur’an tanpa ilmu, maka ia telah salah walau benar.”
    (HR. Abu Dawud)

    Menulis yang benar membutuhkan landasan ilmu agar tidak menyesatkan. Ilmu akan membuat tulisan bernilai, bukan hanya opini kosong.

     

    1. Tulis Apa yang Pernah Dialami

    Pengalaman pribadi memiliki daya sentuh luar biasa. Ia menjadikan tulisan otentik, menyentuh, dan menyapa jiwa pembaca. Tulisan yang dialami akan membuat pembaca berkata, “Ini real. Ini saya banget.”

    Tulis pengalaman spiritualmu. Tulis perjuanganmu mengatasi masalah. Tulis kisahmu bangkit dari keterpurukan. Jadikan pengalaman itu sebagai cermin pembelajaran, bukan sekadar cerita.

    “Sebaik-baik pengalaman adalah yang menghidupkan iman dan membuka jalan kembali kepada Allah.”
    (Said al-Nursi)

    Dengan menulis yang pernah dialami, kamu akan lebih mudah menghadirkan emosi, ketulusan, dan kekuatan dalam narasi.

     

    Menulis Itu Ibadah Jika Niatnya Lillahi Ta’ala

    Jangan takut memulai. Jangan tunda-tunda. Ingat, tulisanmu bisa menjadi saksi amal, pengingat diri, dan penyemangat orang lain. Bahkan tulisan sederhana bisa menjadi ladang pahala jika ditulis dengan niat yang benar.

    “Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya.”
    (HR. Muslim)

     

    Tips Praktis: Memulai Tulisan Hari Ini

    • Ambil kertas atau buka laptop, lalu tulis satu paragraf tentang hal yang paling membuat hatimu bergetar akhir-akhir ini.
    • Gunakan kalimat sederhana. Jangan terbebani gaya bahasa tinggi. Yang penting tulus.
    • Jangan edit saat menulis awal. Biarkan ide mengalir. Sempurnakan nanti.
    • Berdoalah sebelum menulis:

    “Ya Allah, ilhamkan aku dengan kebaikan dan jauhkan dari kesesatan dalam menulis.”

     

    Penutup: Tulis, Meski Satu Kalimat Sehari

    Satu kalimat yang ditulis hari ini, bisa menjadi awal dari satu buku yang mencerahkan umat besok. Jangan tunda. Mulailah dari yang kamu senangi, kuasai, dan alami.

    “Kata-kata yang ditulis dengan ikhlas akan terus hidup, meski penulisnya telah wafat.”
    (Al-Hafidz as-Suyuthi)

    Wallahu a’lam.

    ( Penulis Buku  dan  Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top