Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Terlambat Dalam Sholat, Terlambat Menjumpai Cinta-Nya

    Jun 12 202576 Dilihat

    TERLAMBAT DALAM SHOLAT, TERLAMBAT MENJUMPAI CINTA-NYA

    Renungan Spiritual tentang Kedekatan Hamba dengan Allah

    Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si

     

     

    Di antara karunia terbesar dalam hidup seorang mukmin adalah kesempatan untuk berjumpa dengan Allah dalam shalat. Ia bukan sekadar ritual lima waktu, tetapi merupakan puncak komunikasi ruhani, pertemuan penuh cinta, dan detik-detik paling suci di mana seorang hamba bisa menyatu dengan Rabb-nya.

    Namun betapa sering karunia itu kita tunda. Betapa sering azan hanya menjadi latar suara di kejauhan, dan shalat dianggap beban yang bisa ditunda-tunda. Padahal, menunda pertemuan dengan Sang Pencipta adalah pertanda bahwa cinta kita kepada-Nya belum sepenuh jiwa.

    Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fathur Rabbani memberi peringatan tegas:

    “Jika kalian berlambat-lambat untuk sholat, terputuslah sholat kalian dengan Allah Azza wa Jalla.”
    (Nasihat Al-Jailani dalam Fathur Rabbani)

    Dan beliau mendukungnya dengan sabda Rasulullah ﷺ:

    “Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia bersujud.”
    (HR. Muslim)

    Shalat: Titik Kedekatan yang Tidak Tertandingi

    Mengapa shalat begitu penting? Karena di sanalah letak puncak kedekatan ruhani, sebagaimana sabda Nabi. Dalam sujud, manusia merendah serendah-rendahnya di hadapan Allah — dan justru saat itulah ia berada setinggi-tingginya dalam derajat kehambaan.

    Namun ketika shalat dilambat-lambatkan, ditunda, dilakukan di ujung waktu, atau bahkan tergesa-gesa seperti sekadar rutinitas kosong, maka ruh dari shalat itu hilang. Bukan sekadar kehilangan pahala, namun terputusnya hubungan dengan Allah Azza wa Jalla, sebagaimana diingatkan oleh Al-Jailani.

    Apakah kita rela kehilangan momen terindah dalam sehari hanya karena urusan dunia yang fana?

    Sikap Kita Terhadap Shalat, Adalah Cermin Cinta Kita kepada Allah

    Bayangkan dua orang yang saling mencintai. Jika salah satunya mengulur-ulur waktu bertemu, acuh saat diajak bicara, atau bahkan hanya hadir secara fisik tanpa hati, mungkinkah cinta itu benar-benar tulus?

    Begitu pula dengan Allah. Shalat bukan sekadar “perintah wajib”, tapi undangan cinta dari Dzat yang menciptakan kita, merawat kita, dan menunggu kita kembali kepada-Nya lima kali sehari.

    Setiap azan adalah panggilan kasih: “Marilah menuju keberuntungan.”
    Tapi jika kita menundanya, bahkan lebih memilih melanjutkan pekerjaan atau urusan dunia, itu adalah sinyal bahwa hati kita belum merasa cukup dengan Allah. Dan dari situlah kelengahan lahir. Hati mulai kering. Jiwa mulai gelisah. Dan cahaya mulai redup.

    Sujud: Saat Jiwa Bertemu Kekasihnya

    Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa sujud adalah momen paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya. Dalam sujud, kita tak butuh kata-kata indah, cukup air mata dan kerendahan hati. Karena Allah melihat keikhlasan, bukan kefasihan.

    Sujud adalah bahasa cinta yang paling jujur.

    Dan tidak ada tempat di dunia yang lebih suci daripada tempat sujud seorang hamba yang hatinya penuh kerinduan pada Rabb-nya. Maka jangan terburu-buru dalam sujud. Panjangkan doamu. Biarkan hatimu tenggelam dalam rasa cinta. Itulah puncak dari semua penghambaan.

    Tepat Waktu: Disiplin Ruhani yang Menentukan Kedekatan

    Shalat pada waktunya adalah simbol kedisiplinan jiwa, bukti bahwa kita menjadikan Allah sebagai prioritas utama. Itulah sebabnya para salafush shalih begitu menjaga waktu shalat. Bukan hanya karena takut dosa, tapi karena mereka rindu kepada-Nya.

    Dalam kitab-kitab para wali, disebutkan bahwa tanda-tanda orang yang dekat dengan Allah adalah:

    • Segera menjawab panggilan shalat
    • Merasa rugi jika kehilangan satu rakaat di awal waktu
    • Menikmati sujud lebih dari menikmati dunia

    Mereka menjadikan shalat bukan sekadar kewajiban, tapi tempat berlindung dari dunia.

    Shalat yang Ditinggal Ruhnya

    Hari ini banyak yang shalat, tapi tak merasa dekat dengan Allah. Ini karena shalatnya kehilangan ruh. Sebabnya bisa karena tergesa-gesa, lalai dalam waktu, tidak khusyuk, atau dilakukan sebagai kebiasaan kering.

    Jika ingin shalat kita benar-benar menjadi mi’raj ruhani, maka jangan hanya datang di waktu terakhir, jangan hadir hanya jasadnya, dan jangan biarkan hati terus mengembara ke urusan dunia saat berdiri di hadapan Rabbul ‘Alamin.

    Kesimpulan: Kembali pada Janji Cinta

    Jika saat ini kita masih suka menunda shalat, masih merasa berat untuk berdiri di hadapan-Nya, maka jangan tunggu sampai Allah benar-benar menjauhkan hati kita dari-Nya. Jangan biarkan cinta itu padam hanya karena kita menunda pertemuan.

    Ingatlah, yang kita tunda bukan sekadar aktivitas ibadah, tapi pertemuan dengan Kekasih Sejati, Allah Azza wa Jalla.

    Mari kita mulai lagi. Tepat waktu. Dengan hati. Dengan cinta. Dengan rasa rindu.

     

    “Ya Allah, karuniakan kami hati yang selalu rindu pada-Mu, kaki yang ringan melangkah menuju-Mu, dan sujud yang panjang dalam dekapan cinta-Mu.”

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top