Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Taubat : Tiang Agama yang Terlupakan.

    Apr 24 2025173 Dilihat

    Taubat: Tiang Agama yang Terlupakan

     

    Dalam keheningan hati, kadang kita menyadari: hidup ini tidak sepenuhnya bersih dari kekhilafan. Ada bisikan jiwa yang menuntun kita untuk kembali—bukan ke dunia, tapi kepada Allah. Di sinilah taubat menemukan maknanya yang sejati.

    Kitab Kifayatul Atqiya menjelaskan dengan ringkas namun dalam, bahwa taubat adalah tiang agama yang paling penting. Disebutkan bahwa:

    “Taubat berarti meninggalkan hal yang tercela dalam syariat menuju hal yang dipuji syariat.”

    Taubat bukan sekadar penyesalan emosional yang sesaat. Ia adalah transformasi ruhani—sebuah perubahan arah dari jalan yang gelap menuju cahaya. Dari hal-hal yang dimurkai syariat, menuju perbuatan yang diridhai oleh-Nya. Dalam taubat, terkandung kesadaran, kerendahan hati, dan harapan. Ia menjadi fondasi yang mengokohkan iman.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya yang mulia berpesan:

    “Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”
    (QS An-Nur: 31)

    Perintah ini ditujukan bukan kepada para pendosa semata, tetapi kepada seluruh orang beriman. Karena sejatinya, tiada satu pun jiwa yang luput dari kekeliruan. Bahkan para nabi dan wali yang maksum pun senantiasa merunduk dalam munajat taubat, meski dosa tak pernah melekat pada mereka. Mengapa? Karena semakin tinggi tingkat ma’rifat seseorang, semakin ia melihat kekurangan dalam dirinya di hadapan kebesaran Allah.

    Kata-Kata Para Salaf Tentang Taubat

    Imam Hasan al-Bashri رحمه الله berkata:

    “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yang akan menimpanya. Sedangkan orang fajir (durhaka) melihat dosanya seperti lalat yang lewat di depan hidungnya, lalu ia usir begitu saja.”
    (HR. Bukhari secara muallaq)

    Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله berkata:

    “Taubat adalah awal jalan bagi orang yang mencari Allah. Maka siapa yang tidak memiliki taubat, ia tidak memiliki jalan.”

    Ibnul Qayyim رحمه الله dalam Madarij As-Salikin menuliskan:

    “Taubat adalah awal langkah bagi seorang salik (penempuh jalan menuju Allah), dan ia juga akhirnya. Ia adalah permulaan jalan dan penutupnya. Ia adalah syarat dalam setiap maqam dan keadaan. Tidak akan lurus maqam seseorang kecuali dengan taubat.”

    Hadits Nabi ﷺ tentang Kemuliaan Taubat

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.”
    (HR. Tirmidzi, Hasan Shahih)

    Dan dalam hadits qudsi yang menggambarkan keluasan rahmat Allah:

    “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menjumpai-Ku tanpa menyekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula.”
    (HR. Tirmidzi)

    Pulanglah, Pintu Itu Masih Terbuka

    Taubat adalah jembatan. Ia menghubungkan masa lalu yang suram dengan masa depan yang bercahaya. Ia bukan hanya jalan pulang, tapi juga tanda cinta Allah kepada hamba-Nya—karena tanpa taufik dari-Nya, tidak akan ada satu pun hamba yang mampu kembali.

    Siapa pun kita, dan sejauh apa pun langkah kita menjauh, pintu itu masih terbuka. Pintu taubat tidak pernah terkunci, selama nyawa belum di kerongkongan. Dan siapa yang mengetuknya dengan hati yang remuk, akan disambut dengan kasih yang lebih luas dari langit dan bumi.

    Maka mari kita pulang. Bukan karena kita pantas, tapi karena Dia Maha Menerima taubat.

     

    Carilah ampunan dari setiap hak adami. Jagalah dan benar-benar sempurnakanlah rukun-rukun ini

     

    Menjaga Hak dan Menyempurnakan Rukun Taubat

    Dalam perjalanan taubat, ada satu aspek penting yang sering terlupakan: hak-hak adami—hak sesama manusia. Taubat tidak akan sempurna bila masih ada hak orang lain yang terzalimi. Maka dari itu, mintalah ampunan atas setiap hak yang telah kita langgar, baik berupa harta, kehormatan, atau luka dalam hati yang pernah kita tinggalkan.

    Sebagaimana disebutkan oleh para ulama, taubat dari dosa yang menyangkut hak manusia tidak sah kecuali setelah:

    • Mengembalikan hak tersebut,
    • Atau meminta kerelaan dari pemiliknya,
    • Atau mendoakan dan menggantinya dengan kebaikan bila ia telah tiada.

    Dan sempurnakanlah rukun-rukun taubat:

    1. Menyesal dengan hati yang tulus,
    2. Berhenti secara total dari dosa yang dilakukan,
    3. Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi,
    4. Serta mengembalikan setiap hak yang pernah diambil, jika itu berkaitan dengan makhluk.

    Taubat sejati bukan hanya perubahan arah, tapi juga pengakuan dan pemulihan terhadap yang pernah dilukai. Inilah bentuk kejujuran ruhani yang diridhai Allah.

    Sebagaimana Imam Al-Ghazali rahimahullah berkata:

    “Taubat itu harus meliputi hati yang sadar, lisan yang jujur, dan anggota tubuh yang tidak kembali kepada dosa.”

    ” Wahai Manusia, bertaubatlah kepada Allah sebelum kalian mati, bersegeralah beramal shalih sebelum kalian disibukkan, dan dekatkan diri kalian kepada Allah dengan memperbanyak dzikir kepada-Nya serta banyak sedekah dengan sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan. Niscaya kalian akan diberi rezeki, ditolong dan dicukupi.” ( HR. Ibnu Majah )

    Ini adalah nasihat yang sangat menyentuh dan dalam maknanya. Hadis tersebut mengandung tiga seruan utama yang bisa menjadi refleksi harian bagi setiap jiwa yang mencari kedekatan dengan Allah:

    1. Bertaubat sebelum mati
      ➤ Ini adalah panggilan untuk kembali kepada Allah sebelum datangnya ajal, karena taubat yang tulus akan menghapus dosa-dosa dan membuka pintu kasih sayang-Nya.
    2. Bersegera dalam amal shalih
      ➤ Jangan tunda kebaikan. Kesibukan dunia bisa membuat hati lalai, maka selagi ada waktu dan tenaga, manfaatkan untuk memperbanyak amal.
    3. Mendekatkan diri kepada Allah
      ➤ Caranya melalui dzikir dan sedekah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dua amalan ini adalah jalan kuat untuk menumbuhkan ikatan batin dengan Sang Pencipta.

    Dan janji Allah sangat jelas di akhir nasihat ini:
    “Niscaya kalian akan diberi rezeki, ditolong dan dicukupi.”
    ➤ Ini adalah balasan yang luar biasa bagi mereka yang ikhlas kembali kepada-Nya: keberkahan hidup, pertolongan dalam kesulitan, dan kecukupan dalam kebutuhan.

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top