Ustadzfaqih • Apr 21 2025 • 78 Dilihat

Takwa: Poros Kebahagiaan, Penjaga dari Segala Keburukan
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Dalam hidup yang fana ini, manusia terus mencari kebahagiaan—kebahagiaan yang sejati, bukan semu. Ada yang mencarinya lewat harta, tahta, dan pujian manusia. Namun berapa banyak yang telah mencapainya, justru merasa kosong di dalam jiwa? Di sinilah letak hikmahnya: bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada apa yang tampak oleh mata, tapi pada apa yang menetap di hati.
Takwa kepada Allah adalah poros dari segala kebahagiaan. Ia menuntun hati untuk senantiasa merasa cukup, tenang, dan terarah. Takwa menjadikan hidup bermakna, karena seseorang sadar bahwa ia hidup bukan sekadar menjalani hari, tapi sedang menapaki jalan menuju perjumpaan dengan Rabb-nya. Ketika hati diliputi takwa, ia menjadi kuat menghadapi ujian, sabar dalam cobaan, dan syukur dalam kelapangan.
Sebaliknya, mengikuti hawa nafsu dan bisikan syetan adalah pangkal segala keburukan. Nafsu tidak pernah puas, ia menuntut lebih dan lebih, hingga menjadikan hati resah dan gelisah. Syetan membisikkan tipu daya, menghias keburukan seolah kebaikan. Siapa yang menuruti hawa nafsunya, ia tak ubahnya seperti kapal yang kehilangan kemudi—mudah dihantam badai, tersesat dalam ombak kehidupan.
Allah SWT berfirman:
> “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”
(QS. At-Talaq: 2-3)
Ayat ini bukan sekadar janji, tapi kepastian dari Zat Yang Maha Menepati janji. Bahwa takwa bukan membatasi, melainkan membebaskan; bukan menyulitkan, melainkan menyelamatkan.
Mari kita refleksikan:
Sudahkah kita menjadikan takwa sebagai pusat keputusan hidup kita?
Ataukah kita masih mengikuti keinginan sesaat yang mengikis cahaya hati?
Bukan berarti orang bertakwa tidak pernah jatuh, tapi ia selalu kembali. Ia sadar bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju Allah, dan takwa adalah bekal terbaik yang bisa ia bawa.
Penutup:
Di zaman yang serba cepat ini, kita butuh tempat berteduh bagi jiwa yang lelah. Tempat itu adalah takwa. Maka mari kita pelihara hati kita dengan takwa, jauhi tipu daya nafsu, dan berlindung dari godaan syetan. Karena hanya dengan takwa, hidup ini akan terasa ringan, bermakna, dan berujung bahagia—di dunia maupun di akhirat.
( Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.