Ustadzfaqih • Nov 16 2024 • 152 Dilihat

Syukur kala Bahagia maupun Sengsara.
Syukur di kala bahagia maupun sengsara merupakan bentuk penerimaan yang tulus dan ikhlas terhadap segala keadaan yang kita hadapi dalam hidup. Bersyukur saat bahagia berarti tidak lupa diri, tetap rendah hati, dan tidak terjebak dalam kesombongan. Sedangkan bersyukur saat menghadapi kesengsaraan menunjukkan keteguhan hati, keikhlasan, serta keyakinan bahwa semua cobaan pasti memiliki hikmah dan akan berlalu.
Dengan bersyukur dalam kedua kondisi ini, kita melatih hati untuk selalu tenang, melihat sisi positif, dan memperkuat kepercayaan kita bahwa setiap keadaan adalah bagian dari rencana terbaik. Bersyukur membuat kita lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup dan lebih menghargai setiap momen kebahagiaan yang kita miliki.
Sebaik-baik keadaan adalah Bersyukur kata Syeikh Abdul Qadir al-Jailani.
Ungkapan “Sebaik-baik keadaan adalah bersyukur” dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani menggambarkan esensi spiritualitas yang mendalam. Syukur tidak hanya menjadi respons terhadap nikmat, tetapi juga menjadi sikap hati yang mengakar dalam setiap keadaan, baik suka maupun duka.
Bersyukur dalam pandangan Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah puncak kedekatan seorang hamba kepada Allah. Syukur bukan sekadar ucapan, tetapi manifestasi dari pengakuan penuh bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Ketika manusia bersyukur:
Syukur menjadi penghubung hati dengan Sang Pencipta, membuat jiwa tenang dan penuh harapan. Itulah mengapa Syekh Abdul Qadir al-Jailani menempatkan syukur sebagai keadaan terbaik, karena melalui syukur, seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh cinta, ridha, dan keikhlasan.
Hati yang sehat adalah hati yang mampu merasakan kedekatan bersama Allah SWT.
Betul sekali, hati yang sehat adalah hati yang mampu merasakan kedekatan dengan Allah SWT. Dalam Islam, hati memegang peranan penting sebagai pusat kehidupan spiritual dan emosional. Hati yang sehat memiliki ciri-ciri yang membuatnya selalu terhubung dengan Allah SWT, baik dalam pikiran, perasaan, maupun tindakan.
Ciri-Ciri Hati yang Sehat:
Kedekatan dengan Allah SWT:
Hati yang sehat merasakan kehadiran Allah SWT di setiap momen kehidupan. Ia menyadari bahwa Allah selalu dekat, mengetahui segala keadaan kita. Kedekatan ini melahirkan rasa takut (khauf) yang menahan dari dosa, sekaligus harapan (raja’) yang mendorong untuk terus memperbaiki diri.
Cara Menjaga Hati Agar Tetap Sehat:
Hati yang selalu merasakan kedekatan dengan Allah SWT akan menjadi sumber kebahagiaan sejati, kedamaian, dan ketenangan di dunia maupun akhirat.
Alhamdulillah Ya Allah atas segala nikmat dan keadaan.
( DR Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.