Ustadzfaqih • Nov 16 2024 • 185 Dilihat

Syukur adalah setengah dari keimanan
Ungkapan “syukur adalah setengah dari keimanan” adalah sebuah pernyataan yang sering digunakan untuk menggambarkan pentingnya sikap syukur dalam kehidupan seorang mukmin. Dalam Islam, keimanan seorang hamba kepada Allah mencakup dua aspek utama: syukur (bersyukur) dan sabar (bersabar). Syukur adalah ekspresi rasa terima kasih dan pengakuan atas nikmat yang diberikan Allah, sedangkan sabar adalah ketabahan dalam menghadapi cobaan atau ujian hidup.
Pernyataan ini memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam. Misalnya:
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat-Ku).” (QS. Al-Baqarah: 152)
“Apakah aku tidak pantas menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Sungguh mengagumkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan. Jika dia mendapat kesenangan, dia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Jika dia ditimpa kesulitan, dia bersabar, maka itu pun kebaikan baginya.”
Maka, ungkapan ini mengajarkan bahwa syukur merupakan salah satu inti keimanan, yang melengkapi aspek sabar sebagai pilar lainnya. Seorang mukmin yang bersyukur menunjukkan kedekatan hatinya kepada Allah dan pengakuannya terhadap segala nikmat-Nya.
Bersyukur dan Berdzikir.
Â
Bersyukur dan berdzikir adalah dua ibadah hati dan lisan yang sangat ditekankan dalam Islam. Keduanya memiliki keterkaitan yang erat, karena berdzikir (mengingat Allah) adalah salah satu cara utama untuk bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya. Berikut adalah penjelasan tentang hubungan antara bersyukur dan berdzikir:
“Dan sungguh, jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu; tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
“Ucapan yang paling dicintai Allah adalah ‘Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar’.” (HR. Muslim)
“Barang siapa yang setiap selesai shalat membaca Subhanallah (33 kali), Alhamdulillah (33 kali), dan Allahu Akbar (34 kali), maka Allah akan mengampuni dosanya, meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Muslim)
Kesimpulan
Bersyukur dan berdzikir adalah amalan yang saling melengkapi. Berdzikir adalah salah satu bentuk syukur yang paling mudah dilakukan, sementara bersyukur adalah inti dari mengingat Allah. Keduanya mendekatkan seorang hamba kepada Allah, memperkuat iman, dan membuka pintu-pintu keberkahan dalam hidup. Semakin sering seorang mukmin berdzikir dan bersyukur, semakin ia merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidupnya.
Tambahnya nikmat buah dari Syukur : Pertama. Bertambahnya keyakinan pada Allah. Kedua. Bertambahnya pengetahuan untuk lebih dekat dan mengenal Allah. Ketiga. Kemampuan untuk terus bersyukur, taat dan menggunakan kenikmatan di jalan yang diridhai Allah SWT.
Syukur adalah ibadah yang tidak hanya melibatkan lisan, tetapi juga hati dan tindakan. Ketika seorang mukmin bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, ia mendapatkan balasan berupa bertambahnya nikmat, sebagaimana janji Allah dalam QS. Ibrahim: 7. Tambahan nikmat ini tidak selalu berbentuk materi, tetapi juga mencakup hal-hal yang lebih mendalam, seperti yang Anda sebutkan. Berikut penjelasan lebih rinci:
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl: 53)
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.” (QS. Fussilat: 53)
“Maka barang siapa yang bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri.” (QS. Luqman: 12)
Kesimpulan
Bersyukur bukan hanya mengungkapkan rasa terima kasih kepada Allah, tetapi juga mengundang nikmat-nikmat yang lebih besar. Tambahan nikmat itu mencakup:
Semua ini menunjukkan bahwa syukur adalah pintu menuju kebaikan yang tiada habisnya. Rasulullah SAW pun mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, seperti dalam doa:
“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i).
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.