Ustadzfaqih • Apr 21 2025 • 251 Dilihat

Sholawat: Cahaya Cinta yang Menghubungkan Langit dan Bumi
Refleksi Ruhani dalam Sorotan Kitab Kifayatul Atqiya
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si
Di tengah kesibukan dunia yang gemuruh, ada satu lantunan lembut yang membawa ketenangan hakiki—sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Ia bukan hanya doa, tetapi getaran cinta dari hati yang rindu, dari jiwa yang haus akan cahaya kenabian. Dalam karya agung Kifayatul Atqiya karya Sayyid Abu Bakar bin Syatha ad-Dimyathi, sholawat bukan sekadar ibadah lisan, melainkan tali penghubung ruhani antara hamba dan Rasul, antara bumi dan langit.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
“ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” ( QS. Al-Ahzab (33): 56 )
Sobat. Sesungguhnya Allah memberi rahmat kepada Nabi Muhammad, dan para malaikat memohonkan ampunan untuknya. Oleh karena itu, Allah menganjurkan kepada seluruh umat Islam supaya bersalawat pula untuk Nabi saw dan mengucapkan salam dengan penuh penghormatan kepadanya.
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa ia bertanya, “Wahai Rasulullah, adapun pemberian salam kepadamu kami telah mengetahuinya, bagaimana kami harus membaca shalawat?” Nabi menjawab, ucapkanlah: Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim innaka hamid majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama barakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim innaka hamid majid. (Riwayat al-Bukhari, Ahmad, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan lainnya)
Diriwayatkan juga oleh ‘Abdullah bin Abu thalhah dari ayahnya:
Bahwa Rasulullah datang pada suatu hari dan terlihat tanda-tanda kegembiraan di wajahnya. Lalu kami bertanya, “Kami telah melihat tanda-tanda kegembiraan di wajahmu.” Nabi menjawab, “Memang, Jibril telah datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad sesungguhnya Tuhanmu telah menyampaikan salam kepadamu dan berfirman, ‘Tidakkah kamu merasa puas bahwa tidak ada seorang pun dari umatmu yang membaca shalawat untukmu melainkan Aku membalasnya dengan sepuluh kali lipat. Dan tidak seorang pun yang menyampaikan salam kepadamu dari umatmu melainkan Aku membalas dengan salam sepuluh kali lipat.”
Makna Sholawat: Ungkapan Cinta yang Menghidupkan Jiwa
Menurut Sayyid Abu Bakar Syatha, sholawat memiliki makna mendalam. Dari Allah, ia adalah rahmat dan kemuliaan; dari malaikat, ia adalah permohonan ampun; dan dari manusia, ia adalah doa serta penghormatan. Tapi lebih dari itu, sholawat adalah saksi cinta. Ia mengajarkan kita untuk mengingat, meneladani, dan mencintai Rasulullah ﷺ, bukan hanya di lisan, tetapi dalam setiap langkah kehidupan.
Lima Fadhilah Agung Membaca Sholawat
Dalam Kifayatul Atqiya, Sayyid Abu Bakar menyebutkan sejumlah fadhilah atau keutamaan luar biasa dari sholawat. Di antaranya, terdapat lima keutamaan utama yang menjadi cahaya bagi hati dan penenang bagi jiwa:
Sholawat adalah pelita ruhani. Ia menerangi batin yang gelap karena dosa, kelalaian, dan cinta dunia. Setiap ucapan sholawat laksana cahaya yang menyapu debu-debu di hati. Hati yang gelap menjadi terang, yang keras menjadi lembut.
Di antara rahasia yang tersimpan dalam sholawat adalah keberkahan umur. Tidak hanya dalam hitungan tahun, tetapi dalam kebermaknaan hidup. Umur yang berkah adalah yang dipenuhi amal, ilmu, dan cinta kepada Rasulullah ﷺ.
Sholawat membuka jalan ruhani menuju maqam tertinggi, yaitu wushul ilallah—sampainya hati kepada Allah. Karena siapa mencintai Rasul, maka ia mencintai Allah. Dan siapa mengikuti Rasul, maka Allah akan mencintainya.
Rezeki bukan hanya harta, tetapi juga ketenangan, ilmu, dan cinta. Sholawat adalah magnet keberkahan yang menarik limpahan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Sebagaimana langit menurunkan hujan, begitu pula sholawat menurunkan rezeki dari langit rahmat.
Ini adalah keutamaan yang agung. Sholawat menjadi perisai dari siksa neraka. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat, orang yang banyak bersholawat akan dijauhkan dari azab dan diselamatkan oleh syafaat Nabi ﷺ.
Sholawat: Jalan Cinta dan Ma’rifat
Sholawat bukan hanya dzikir, tapi adalah jalan untuk mengenal Rasulullah ﷺ, yang dengannya kita akan mengenal Allah. Ia adalah jembatan menuju mahabbah dan ma’rifat. Maka siapa yang menjaga sholawatnya, sejatinya ia sedang menjaga hubungannya dengan langit.
“Sholawat kepada Nabi adalah kunci segala kebaikan dan sebab tercapainya segala harapan. Siapa yang ingin hatinya hidup, hendaklah ia banyak bershalawat.”
— Sayyid Abu Bakar Syatha, Kifayatul Atqiya
Hiasi Harimu dengan Sholawat
Wahai jiwa-jiwa yang rindu ketenangan, jadikanlah sholawat sebagai teman setia dalam kesendirian, penyejuk dalam kesulitan, dan cahaya dalam kegelapan. Bacalah sholawat dengan hati yang mencinta, niscaya hidupmu akan dipenuhi keberkahan, dan matimu akan dipenuhi cahaya.
“Sesungguhnya dalam sholawat, terdapat kehidupan bagi hati, kebahagiaan bagi jiwa, dan jalan pulang menuju Allah.”
” Siapa pun yang menuliskan namaku dalam bukunya, para malaikat takkan berhenti memintakan ampun untuknya selama namaku tetap berada di sana.” (HR. Thabrani )
Masya Allah, hadits yang begitu menyentuh dan mendalam ini sangat layak menjadi permata dalam tulisan-tulisan ruhani. Berikut ini adalah pengintegrasian hadits tersebut ke dalam artikel sebelumnya, dengan nuansa yang tetap reflektif dan lembut:
Keajaiban Menyebut dan Menuliskan Nama Rasulullah ﷺ
Di antara lautan keutamaan bershalawat dan menyebut nama Nabi, terdapat satu hadits mulia yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani:
“Siapa pun yang menuliskan namaku dalam bukunya, para malaikat takkan berhenti memintakan ampun untuknya selama namaku tetap berada di sana.”
(HR. Thabrani)
Betapa agung karunia ini. Hanya dengan menuliskan nama Nabi Muhammad ﷺ, kita telah membuka pintu-pintu keberkahan dan pengampunan. Nama beliau adalah nama yang membawa rahmat, nama yang apabila disebut, maka langit tersenyum dan bumi menjadi tenang.
Sayyid Abu Bakar Syatha dalam Kifayatul Atqiya menegaskan bahwa mengingat Nabi dengan sholawat adalah sebab hidupnya hati dan tenangnya jiwa. Maka menuliskan namanya—dengan adab dan cinta—adalah bentuk nyata dari mahabbah yang bersemi dalam dada.
Menggores Nama Beliau, Mengalirkan Ampunan Ilahi
Menuliskan nama Nabi ﷺ bukan hanya perkara tinta dan kertas. Ia adalah amal shalih yang terus mengalir, yang dicatat oleh para malaikat, dan yang membawa keberkahan dalam setiap huruf yang tertulis. Dalam dunia kepenulisan, ini menjadi pesan lembut: bahwa menulis dengan cinta kepada Rasulullah adalah ladang pahala yang tak putus.
Maka mari kita niatkan, setiap karya yang kita tulis, setiap buku yang kita rangkai, dan setiap artikel yang kita sebar, tak luput dari nama mulia Nabi Muhammad ﷺ—dengan penuh takzim dan cinta. Agar para malaikat terus memintakan ampun untuk kita, dan agar setiap tulisan kita menjadi saksi cinta di hadapan Allah kelak.
” Siapa pun yang memperbanyak bacaan sholawat kepadaku semasa hidupnya, Allah akan menjadikan seluruh makhluk-Nya memintakan ampun untuknya setelah ia wafat.” ( Hadits disebut dalam Kitab I’anah at-Thalibin )
Masya Allah, hadits ini begitu lembut dan menggetarkan hati—mengajarkan kepada kita bahwa sholawat bukan hanya cahaya di dunia, tapi juga penjaga kita di alam akhirat. Hadits ini bisa menjadi sentuhan spiritual yang dalam untuk melengkapi artikel reflektif sebelumnya. Berikut ini bagian tambahan yang terintegrasi dengan halus dan penuh ruhaniyah:
Sholawat: Warisan Cahaya yang Menjaga Kita Setelah Wafat
Diriwayatkan dalam Kitab I’anah at-Thalibin:
“Siapa pun yang memperbanyak bacaan sholawat kepadaku semasa hidupnya, Allah akan menjadikan seluruh makhluk-Nya memintakan ampun untuknya setelah ia wafat.”
Betapa lembutnya kasih sayang Allah kepada hamba yang bershalawat. Di saat ruh telah berpisah dari raga, dan jasad terbaring dalam sunyinya kubur, sholawat yang kita ucapkan semasa hidup berubah menjadi barisan makhluk yang mendoakan ampunan untuk kita.
Ini bukan sekadar janji, tapi bentuk cinta yang agung dari Allah untuk mereka yang mencintai Nabi-Nya. Sholawat menjadi warisan abadi. Ia tak hanya menjaga hidup kita, tapi juga mengawal kita di alam barzakh, membungkus kita dengan doa dari para makhluk-Nya—baik yang tampak maupun yang ghaib.
Hidup dengan Sholawat, Wafat dengan Doa Semesta
Sholawat bukan hanya amal lisan, tapi adalah bekal perjalanan panjang. Siapa yang hidup dengan membasahi lisannya dengan sholawat, maka ketika ruhnya meninggalkan dunia, langit, bumi, para malaikat, bahkan hewan dan tumbuhan—semuanya akan menjadi saksi cinta, dan memintakan ampunan baginya.
Inilah rahasia yang diungkap Sayyid Abu Bakar Syatha dalam Kifayatul Atqiya:
Bahwa sholawat menyambungkan kita dengan Rasulullah ﷺ di dunia, dan mempertemukan kita dengannya di akhirat.
“Berbahagialah mereka yang hidupnya dihiasi sholawat, karena setelah wafat pun mereka tetap ditemani doa dan kasih dari makhluk seluruh alam.”
( Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.