Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Senangnya Berbagi Ilmu dan Meraih Keberkahan Ilmu.

    Jun 02 2025108 Dilihat

    Senangnya Berbagi Ilmu dan Meraih Keberkahan Ilmu.

    Dr. Nasrul Syarif M.Si .

     

    Cahaya yang Tak Pernah Padam

     

    Dalam dunia yang penuh hiruk-pikuk, kecepatan informasi, dan dominasi ego, berbagi ilmu mungkin tampak sepele. Namun sesungguhnya, ia adalah amal yang sangat besar nilainya di sisi Allah. Di antara sekian banyak bentuk ibadah dan kebaikan, berbagi ilmu menempati posisi yang istimewa — sebab darinya lahir peradaban, tumbuh pemahaman, dan bangkit generasi yang tercerahkan.

     

    Ilmu: Cahaya Ilahi yang Tak Pernah Padam.

     

    Allah ï·» mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Firman-Nya:

     

     

    “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

    (QS. Al-Mujadilah: 11)

     

    Ilmu dalam Islam bukan sekadar informasi atau pengetahuan akademis. Ia adalah cahaya — penerang hati, akal, dan jalan hidup. Ilmu yang benar membawa seseorang kepada Allah, menumbuhkan adab, dan menjauhkan dari kesombongan. Maka, ketika ilmu itu dibagikan, sebenarnya kita sedang menyalakan pelita di banyak hati yang mungkin gelap, bingung, atau kehilangan arah.

     

    Berbagi ilmu bukan hanya soal mengajar di podium. Ia bisa hadir dalam bisikan nasihat kepada teman, tulisan sederhana di media sosial, bahkan dalam diam yang diteladankan. Dalam Islam, siapa pun yang menyampaikan ilmu — sekecil apa pun — tercatat sebagai pemberi kebaikan, karena Rasulullah ﷺ bersabda:

     

    > “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat.”

    (HR. Bukhari)

     

    Keberkahan Ilmu: Bukan Sekadar Banyak, Tapi Manfaatnya Meluas

    Banyaknya ilmu tak menjamin keberkahan. Ilmu yang diberkahi adalah ilmu yang menuntun kepada kebenaran, diamalkan dengan ikhlas, dan dibagikan dengan niat mencari ridha Allah. Keberkahan ilmu tidak tampak dalam seberapa tinggi gelar, seberapa tebal buku, atau seberapa viral kontennya. Ia tampak dalam perubahan diri, kemuliaan akhlak, dan dampak positif bagi sekitar.

     

    Imam Malik rahimahullah berkata,

    > “Ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat, tetapi cahaya yang Allah letakkan di hati seseorang.”

     

    Ilmu yang berkah menghindarkan kita dari kesombongan dan kemalasan. Ia memotivasi, membimbing, dan membangkitkan harapan. Maka ketika ilmu dibagikan kepada orang lain dengan penuh cinta, ia menjadi sebab tumbuhnya generasi yang kuat secara ruhani dan tajam secara akal.

     

    Berbagi Ilmu adalah Sedekah Paling Menakjubkan

     

    Dalam banyak hadits, Rasulullah ﷺ menyebut ilmu yang bermanfaat sebagai sedekah jariyah — amal yang terus mengalir pahalanya, bahkan ketika kita telah tiada. Jika seseorang mengajarkan ilmu kepada satu orang, lalu ilmu itu diamalkan dan diajarkan lagi, maka pahalanya mengalir laksana mata air yang tak pernah kering.

     

    Bayangkan: mengajarkan satu doa, satu ayat, satu prinsip kebaikan kepada seorang anak, santri, murid, atau bahkan kepada rekan kerja — jika mereka terus mengamalkan dan menyebarkannya, kita akan terus mendapatkan bagian dari setiap amal itu. Itulah investasi akhirat yang tak tertandingi.

     

    > “Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah utus aku dengannya seperti hujan lebat yang jatuh di bumi…”

    (HR. Bukhari & Muslim)

     

    Dalam hadits ini, ilmu diibaratkan hujan. Ia menyuburkan hati yang lapang, memperbaiki tanah yang gersang, dan menghasilkan buah kebaikan yang tak ternilai. Maka betapa rugi orang yang menyimpan ilmunya, membungkusnya dengan ego, atau enggan membagikannya karena takut tersaingi.

     

    Mengapa Kita Harus Terus Berbagi?

     

    1. Karena Berbagi Ilmu Menghidupkan Hati

    Ilmu yang disampaikan dengan niat ikhlas menumbuhkan kehidupan dalam jiwa. Ia menyadarkan yang lalai, menyemangati yang letih, dan mengokohkan yang bimbang.

     

    1. Karena Umat Ini Haus Akan Pencerahan

    Di tengah derasnya hoaks, kesesatan digital, dan minimnya panutan, umat butuh suara-suara jernih. Butuh guru-guru yang bukan hanya mengajarkan, tapi juga menghadirkan keteladanan dan cinta.

     

    1. Karena Kita Semua Pemegang Amanah

    Jika Allah telah menganugerahkan kita ilmu, maka itu bukan sekadar untuk diri sendiri. Ia adalah amanah yang kelak akan ditanya: apakah kita menyimpannya, atau kita menyebarkannya?

     

    Menjadi Lentera Bagi Umat

     

    Tak perlu menjadi tokoh besar untuk mulai berbagi. Jadilah lentera kecil yang menyalakan cahaya di sekitar. Mulailah dari rumah, dari keluarga, dari lingkaran terkecil. Ajak anak-anak mencintai ilmu. Sampaikan kisah para ulama. Tulis hal bermanfaat. Jadikan lisan kita basah dengan nasihat yang lembut. Gunakan media sosial sebagai ladang dakwah. Dan jadikan hidup kita sebagai buku yang bisa dibaca oleh orang lain.

     

    > “Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah.”

    (Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu)

     

    Penutup: Kita Hanyalah Jalan, Bukan Tujuan

     

    Ketika kita berbagi ilmu, jangan pernah merasa paling tahu. Kita hanya perantara dari lautan hikmah yang berasal dari Allah. Jangan mencari pujian, jangan berharap viral, cukup ridha-Nya. Dan yakinlah, sekecil apa pun ilmu yang kita sebarkan, jika disampaikan dengan ikhlas, ia akan tumbuh — meski perlahan — seperti benih yang akan menjadi pohon kebaikan yang menaungi banyak jiwa.

     

    Berbagilah ilmu, karena ilmu adalah ladang amal yang tak pernah tandus.

    Cahayakan dunia dengan hikmah, tebarkan keberkahan dalam setiap kata.

    Jadilah sebab orang lain mengenal Allah, maka Allah akan mengenalimu di akhirat.

     

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo, 1 Juni 2025 Titik Nol Trawas )

     

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top