Ustadzfaqih • Mei 10 2025 • 83 Dilihat

SAINS DAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM ISLAM: Membangun Peradaban yang Berkah dan Ramah Alam
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A’raf: 56)
Pendahuluan: Islam, Sains, dan Amanah Lingkungan
Islam bukan hanya agama ibadah ritual, tetapi peradaban yang menyeluruh, mencakup hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta. Salah satu aspek penting dalam ajaran Islam yang sering terabaikan adalah etika terhadap lingkungan hidup.
Di tengah krisis iklim, kerusakan hutan, polusi air dan udara, serta kepunahan satwa, umat Islam ditantang untuk kembali kepada ajaran Islam yang ekologis, yang menjadikan ilmu pengetahuan (sains) dan iman sebagai dua sayap untuk menjaga bumi ini.
Alam bukan sekadar benda mati. Dalam pandangan Islam, alam adalah ciptaan Allah yang memancarkan tanda-tanda kebesaran-Nya (ayat kauniyah).
Allah berfirman:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.”
(QS. Ali Imran: 190)
Setiap elemen alam—air, udara, tumbuhan, gunung, dan binatang—adalah makhluk Allah yang tunduk kepada-Nya. Bahkan batu dan pepohonan pun bertasbih kepada Allah, walau kita tidak dapat mendengarnya (QS. Al-Isra’: 44).
Maka menghancurkan alam berarti merusak karya Tuhan, dan mencemari bumi berarti melanggar amanah kekhalifahan.
Islam menetapkan bahwa manusia adalah khalifah (wakil) di muka bumi (QS. Al-Baqarah: 30). Tugas khalifah bukan mengeksploitasi tanpa batas, melainkan mengelola, menjaga keseimbangan, dan melestarikan.
Tanggung jawab ini memiliki dua sisi:
Sains dalam Islam bukan sekadar alat, tapi cara untuk mengenal Allah lebih dekat melalui ciptaan-Nya. Maka tak heran para ilmuwan Muslim klasik seperti Ibnu Sina, Al-Biruni, dan Al-Kindi mempelajari alam dengan semangat spiritual—bukan sekadar eksperimen laboratorium.
Beberapa prinsip penting dalam ajaran Islam terkait lingkungan adalah:
“Dan Allah telah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan ukurannya dengan tepat.”
(QS. Al-Qamar: 49)
Alam diciptakan dalam keseimbangan. Merusak keseimbangan ini—misalnya deforestasi, limbah industri, dan konsumsi berlebihan—adalah bentuk kezhaliman.
“Makan dan minumlah, dan jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31)
Konsumsi berlebihan menyebabkan limbah, polusi, dan perusakan alam. Gaya hidup Islami adalah hemat, sederhana, dan berkelanjutan.
“Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-Baqarah: 195)
Islam memerintahkan berbuat ihsan (kebaikan) bahkan kepada binatang dan tanaman. Merusak habitat, membuang sampah sembarangan, atau berburu tanpa keperluan adalah pelanggaran terhadap nilai ihsan.
Sains dalam Islam bukan sekadar alat teknologi, melainkan jalan untuk membangun peradaban rahmatan lil ‘alamin.
Di masa kejayaan Islam, banyak penemuan ilmiah yang berorientasi pada harmoni antara manusia dan alam:
Kini, kita membutuhkan kebangkitan sains Islam yang berbasis etika, nilai, dan kepedulian terhadap lingkungan. Pendidikan, riset, dan teknologi harus diarahkan untuk melestarikan bumi, bukan sekadar mengejar laba.
Sebagai umat Islam, kita harus merenung:
Perubahan besar dimulai dari langkah kecil. Dari membuang sampah pada tempatnya, mengurangi plastik, menanam pohon, hingga mendukung kebijakan lingkungan yang adil.
Menjaga lingkungan bukan isu sekuler, tapi tugas keimanan. Ia bukan hanya proyek aktivis, tapi bagian dari misi kenabian.
Rasulullah SAW adalah figur yang sangat peduli pada lingkungan:
Maka mari kita jadikan bumi ini amanah, bukan warisan yang kita rusak. Karena di hari kiamat, bumi akan bersaksi:
“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”
(QS. Az-Zalzalah: 4)
Mari hadirkan peradaban Islam yang ramah bumi, berbasis ilmu, dan dilandasi iman. Bukan hanya demi masa depan umat, tetapi juga demi ridha Allah Sang Pencipta.
llmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Perspektif Islam: Menyatukan Iman dan Akal dalam Membangun Peradaban
“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”
(QS. Az-Zumar: 9)
Pendahuluan: Islam sebagai Agama Peradaban
Islam bukan sekadar ajaran ritual, tetapi merupakan sistem hidup menyeluruh yang membangun peradaban ilmu, adab, dan teknologi. Ketika dunia Barat masih berada dalam masa kegelapan (Dark Ages), dunia Islam justru mencapai masa keemasan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi—yang kini menjadi fondasi sains modern.
Ilmu (al-‘ilm) dalam Islam adalah cahaya yang menerangi kehidupan. Bukan sekadar akumulasi data atau pencapaian teknologi, tapi jalan menuju pengenalan terhadap Allah dan tugas kekhalifahan di bumi.
Al-Qur’an tidak hanya mengandung hukum-hukum ibadah dan akhlak, tetapi juga ayat-ayat yang mendorong eksplorasi ilmu dan teknologi:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.”
(QS. Ali Imran: 190)
Ribuan ayat berbicara tentang alam, penciptaan manusia, tumbuhan, hewan, laut, dan langit. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an menuntun umatnya untuk memikirkan, meneliti, dan mengembangkan sains.
Dalam Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban yang berorientasi ibadah. Rasulullah SAW bersabda:
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.”
(HR. Ibnu Majah)
Ilmu yang dicari bukan sekadar untuk kompetisi duniawi, tetapi sebagai alat mendekatkan diri kepada Allah dan menjalankan tugas kekhalifahan.
Ilmu juga harus melahirkan adab, karena dalam Islam, orang berilmu tanpa adab bisa menjadi sumber kerusakan yang lebih besar daripada orang bodoh.
Teknologi dalam Islam tidak dinilai dari kemutakhiran semata, tetapi dari tujuan dan dampaknya. Teknologi adalah alat, bukan tujuan akhir. Maka penggunaannya harus memenuhi tiga prinsip utama:
Contohnya:
Teknologi yang baik adalah yang mendekatkan manusia kepada nilai-nilai tauhid, bukan yang menjadikan manusia lalai, konsumtif, dan individualistis.
Pada masa keemasan Islam (abad ke-8 hingga 14 M), lahirlah para ilmuwan Muslim yang menjadi fondasi sains dunia. Mereka tidak memisahkan antara wahyu dan akal, antara spiritualitas dan eksperimen ilmiah.
Beberapa tokoh utama:
Mereka menulis dalam semangat mencari ridha Allah dan berkontribusi nyata bagi umat manusia. Ilmu bukan sekadar untuk prestise, tetapi untuk kebajikan dan kemajuan bersama.
Salah satu tantangan utama dunia modern adalah pemisahan antara ilmu dan agama. Ilmu menjadi sekuler, dingin, dan bebas nilai. Akibatnya:
Islam menawarkan solusi dengan integrasi antara iman dan ilmu. Pendidikan Islam tidak boleh berhenti pada ritual, tetapi juga harus mendorong penguasaan teknologi dengan akhlak Qur’ani dan semangat rahmatan lil ‘alamin.
Pendidikan Islam harus menjadi tempat lahirnya generasi:
Sekolah dan pesantren seharusnya tidak memisahkan pelajaran sains dari nilai-nilai spiritual. Laboratorium harus bersanding dengan mushala, mikroskop dengan mushaf.
Allah mencintai hamba-Nya yang menggunakan akalnya, menggali rahasia alam, lalu mengembalikannya dalam bentuk syukur dan pengabdian.
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila seseorang meninggal dunia, terputus amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Ilmu dan teknologi yang bermanfaat akan menjadi jejak amal yang tidak terputus, bahkan setelah kita wafat.
Penutup: Menuju Peradaban Ilmu yang Qur’ani
Dunia Islam hari ini membutuhkan kebangkitan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disinari cahaya iman. Kita harus membangun peradaban baru yang adil, sejahtera, dan beradab, bukan hanya dengan kekuatan ekonomi, tetapi dengan ilmu yang mencerahkan dan teknologi yang membebaskan.
Mari jadikan ilmu sebagai tangga menuju surga, bukan sekadar alat mencari dunia. Mari jadikan teknologi sebagai ladang amal, bukan sumber perpecahan. Karena Islam bukan hanya agama langit, tetapi agama kehidupan yang membumi.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.