Ustadzfaqih • Jun 04 2025 • 82 Dilihat

Produktif dalam Menulis: Gairah terhadap Media, Buku, dan Ilmu
Ketika Tulisan Menjadi Amal Jariyah dan Jalan Pencerahan
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Mukadimah: Menulis adalah Jejak Ilmu dan Amal
Menulis bukan sekadar aktivitas intelektual. Ia adalah saksi zaman, jejak pemikiran, sekaligus ladang amal jariyah. Dalam tinta-tinta yang mengalir di atas kertas atau media digital, tersembunyi ruh yang mampu menggerakkan hati, membangkitkan kesadaran, bahkan mengubah kehidupan.
Hari ini, dunia berada di era media dan informasi. Namun ironis, umat Islam yang dahulu dikenal sebagai “umat iqra’” — kini lebih banyak sebagai konsumen, bukan produsen ilmu. Padahal, para ulama terdahulu begitu produktif menulis. Bahkan mereka menulis dalam keadaan lapar, sakit, di pengasingan, atau di tengah perjuangan.
Menulis: Warisan Ilmu Para Ulama
Apa rahasia mereka? Mereka tidak sekadar menulis dengan pena, tapi dengan hati, jiwa, dan iman.
Mengapa Kita Harus Menulis Hari Ini?
Setiap tulisan yang lahir dari hati yang bersih adalah bentuk dzikir: mengingat Allah, mengingat ilmu, dan mengingat tanggung jawab sebagai khalifah ilmu.
Kata-kata yang baik bisa lebih tajam dari pidato. Satu artikel yang menyentuh bisa menembus hati ribuan orang tanpa perlu berteriak. Di era digital, satu tulisan bisa menembus batas geografis dan waktu.
“Jika manusia meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Tulisan yang bermanfaat adalah ilmu yang terus mengalir, bahkan saat penulisnya telah tiada.
Ketika kita menulis, kita sedang berbicara dengan hati sendiri. Menulis menjadi ruang refleksi, tafakkur, bahkan taubat.
Menulis dan Media: Peluang Emas Umat Islam
Hari ini, kita hidup dalam era demokratisasi media. Siapa pun bisa menjadi penulis. Media sosial, blog, e-book, atau podcast — semua bisa menjadi kendaraan dakwah dan penyebar ilmu.
Tapi sayangnya, tidak semua menggunakan kesempatan ini untuk kebaikan. Maka, umat Islam harus tampil sebagai produsen konten yang berkualitas, mencerahkan, dan membangun.
Gairah Menulis: Bagaimana Menumbuhkannya?
Apakah itu tafsir, sejarah, refleksi harian, atau catatan kehidupan? Tulis saja. Jangan tunggu sempurna.
Para penulis hebat pun dulunya adalah penulis pemula. Kesalahan adalah bagian dari proses.
Membaca akan membuka cakrawala. Tapi menulis akan mengokohkan ilmu itu dalam jiwa.
Hilangkan ambisi dunia semata. Niatkan untuk dakwah, ilmu, dan kemaslahatan.
Penutup: Pena yang Jujur adalah Jalan Ma’rifat
Hari ini, kita tidak hanya butuh penceramah, tapi juga penulis yang jujur, penulis yang menyentuh hati, penulis yang menghidupkan iman. Dunia sudah cukup penuh dengan sensasi. Kita butuh tulisan yang membawa renungan, bukan sekadar konsumsi pikiran.
Mari produktif dengan menulis. Jadikan setiap ide sebagai sedekah ilmu. Karena kelak, ketika tangan tak lagi mampu menggenggam pena, dan suara tak lagi mampu berdakwah, maka tulisan-tulisan kitalah yang akan terus berbicara.
“Sesungguhnya tinta para ulama lebih mulia dari darah para syuhada.”
(HR. Al-Baihaqi)
Wallahu a’lam.
( Penulis Buku dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.