Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Prinsip dan Strategi Manajemen Terhebat di Dunia: Pelajaran Abadi untuk Mencerdaskan Umat.

    Agu 27 202582 Dilihat

    Prinsip dan Strategi Manajemen Terhebat di Dunia: Pelajaran Abadi untuk Mencerdaskan Umat

     

    Manajemen bukan sekadar mengatur sumber daya, tetapi seni memimpin, menggerakkan, dan memberdayakan manusia serta potensi mereka agar mencapai tujuan yang bermakna. Sepanjang sejarah, keberhasilan peradaban tidak pernah lahir dari kekuatan materi semata, tetapi dari manajemen yang cerdas, berintegritas, dan penuh nilai.

    Artikel ini mengupas dua dimensi manajemen terhebat:

    1. Prinsip-prinsip manajemen abadi yang relevan dari masa Rasulullah SAW hingga era modern.
    2. 10 strategi manajemen terdahsyat menurut Michael LeBoeuf, Ph.D., pakar manajemen dunia.

     

    1. Fondasi: Prinsip-Prinsip Manajemen Terhebat Sepanjang Zaman

    1) Visi dan Tujuan Bernilai

    Tanpa tujuan yang luhur, manajemen kehilangan arah. Rasulullah SAW memiliki visi jelas: membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya (QS. Ibrahim: 1).
    Pemimpin besar seperti Ki Hajar Dewantara juga menanamkan visi pendidikan merdeka lahir-batin, bukan sekadar mencetak pekerja.

    “Hidup tanpa visi adalah seperti berlayar tanpa kompas.”

     

    2) Keteladanan: Memimpin dengan Contoh

    Kepemimpinan sejati bukan memerintah dari menara gading, tetapi turun langsung memberi contoh. Rasulullah ikut mengangkat batu membangun Masjid Nabawi. Umar bin Khattab memantau rakyatnya di malam hari.
    Prinsip ini di Nusantara dipraktikkan Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari: beliau bukan hanya mengajar, tetapi hidup sederhana bersama santri.

     

    3) Amanah dan Kompetensi

    1. Al-Qashash:26 menegaskan: “Sesungguhnya orang paling baik untuk bekerja adalah yang kuat (kompeten) dan amanah.”
      Artinya, manajemen hebat menempatkan orang sesuai kapasitasnya (right man in the right place) dan menjaga integritas.

     

    4) Manajemen Waktu yang Efektif

    Waktu adalah aset tak tergantikan. Rasulullah membagi waktu untuk ibadah, keluarga, dan urusan umat dengan disiplin.
    Modern: prinsip Pareto (80/20) dan teknik time blocking lahir dari kesadaran ini.

     

    5) Syura: Delegasi dan Kolaborasi

    1. Ali Imran:159 memerintahkan bermusyawarah.
      Wali Songo berhasil mendakwahkan Islam di Nusantara karena berkolaborasi, menghargai budaya lokal, dan melibatkan masyarakat.

     

    6) Adaptasi dan Inovasi

    Khalifah Umar mengubah sistem distribusi rampasan perang demi keberlanjutan.
    Modern: perusahaan seperti Netflix sukses karena inovatif menyesuaikan zaman.

     

    7) Manajemen Berbasis Nilai

    Tujuan bukan laba semata, tetapi keberkahan dan maslahat. Rasulullah melarang praktik bisnis zalim meski menguntungkan.
    Perusahaan modern sukses berkelanjutan karena menerapkan CSR dan etika bisnis.

     

    8) Evaluasi dan Perbaikan Berkelanjutan

    Prinsip muhasabah: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”
    Dalam bisnis modern dikenal Kaizen: perbaikan terus-menerus, sekecil apa pun.

     

    9) Kepedulian Sosial dan Keberlanjutan

    Rasulullah SAW menekankan keseimbangan ekosistem dan hak sesama. Manajemen hebat memperhatikan lingkungan, masyarakat, dan generasi mendatang.

     

    10) Fondasi Spiritual

    Manajemen dunia-akhirat harus berlandaskan tauhid. Bekerja adalah ibadah.

    “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah.” (QS. Al-An’am:162)

     

    1. 10 Strategi Manajemen Terdahsyat Menurut Michael LeBoeuf, Ph.D.

    Michael LeBoeuf menegaskan prinsip emas: “What gets rewarded gets done.” Apa yang dihargai, itulah yang akan diulang. Berikut 10 strateginya:

    1. Berikan Penghargaan pada Perilaku yang Diinginkan
      Hargai inovasi, disiplin, kejujuran; jangan hanya memuji kesibukan.
    2. Fokus Menghargai Hasil, Bukan Aktivitas Semu
      Nilai pencapaian nyata, bukan jam kerja panjang tanpa produktivitas.
    3. Penghargaan Harus Bermakna dan Relevan
      Kenali apa yang memotivasi tiap individu: uang, pengakuan, atau peluang berkembang.
    4. Jangan Menunda Penghargaan
      Apresiasi langsung ketika perilaku positif dilakukan.
    5. Konsistensi dalam Penghargaan
      Adil dan konsisten memperkuat budaya positif.
    6. Jangan Salah Memberi Penghargaan
      Jangan promosikan “politikus kantor” tapi abaikan pekerja tulus.
    7. Libatkan Orang dalam Menentukan Bentuk Penghargaan
      Tiap orang unik; buat mereka terlibat.
    8. Hargai Perbaikan, Bukan Kesempurnaan
      Apresiasi langkah maju, sekecil apa pun.
    9. Bangun Umpan Balik yang Jelas
      Karyawan ingin tahu ekspektasi dan bagaimana kinerjanya diukur.
    10. Jadikan Apresiasi Budaya Organisasi
      Jangan insidental; apresiasi harus jadi DNA organisasi.

     

    1. Integrasi Nilai: Inspirasi dari Sejarah dan Spiritualitas

    Prinsip LeBoeuf sejalan dengan ajaran Islam. Rasulullah menghargai sahabat sesuai kompetensi: Khalid di medan perang, Mu’adz di fiqh.
    Wali Songo menghargai kearifan lokal; karena itu dakwah diterima luas.
    Ki Hajar Dewantara menanamkan prinsip “Tut Wuri Handayani”: mendorong dan menghargai dari belakang.

    Semua ini menunjukkan: apresiasi dan nilai spiritual adalah bahan bakar manajemen berkelanjutan.

     

    1. Refleksi dan Pelajaran untuk Umat

    Manajemen yang hebat bukan hanya untuk bisnis; berlaku di keluarga, lembaga pendidikan, pesantren, dan negara.
    Bayangkan jika:

    • Pemerintah menghargai inovasi rakyat, bukan hanya elite politik.
    • Guru memberi apresiasi pada usaha murid, bukan hanya nilai ujian.
    • Orang tua menghargai karakter anak, bukan hanya rangking.

    Maka lahirlah generasi produktif, kreatif, dan berakhlak.

     

    Penutup: Warisan Manajemen Abadi

    Prinsip dan strategi manajemen terhebat membentuk warisan peradaban. Rasulullah SAW, para khalifah, Wali Songo, Ki Hajar Dewantara, hingga pemimpin modern menunjukkan:

    • Keberhasilan bukan hanya materi, tetapi keberkahan.
    • Manajemen terbaik selalu berpijak pada visi luhur, integritas, apresiasi, dan nilai spiritual.

    “Apa yang kita kelola hari ini bukan hanya menentukan nasib organisasi kita, tetapi juga peradaban umat di masa depan.”

     

    Inilah seni manajemen terdahsyat: menggabungkan akal, hati, dan ruhani.
    Bukan sekadar mengatur, tetapi menginspirasi dan mencerdaskan umat.

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo. The Alana Hotel Jogjakarta, 27 Agustus 2025 )

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top