Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Peranan Iman dalam Mewujudkan Kesehatan Jiwa.

    Apr 28 2025171 Dilihat

    Peranan Iman dalam Mewujudkan Kesehatan Jiwa dalam Perspektif Islam

    Pendahuluan

    Dalam kehidupan modern yang penuh tekanan dan kompetisi, masalah kesehatan jiwa menjadi semakin nyata dan kompleks. Gangguan kecemasan, depresi, stres, hingga perasaan hampa batin sering kali menyelimuti manusia. Di tengah situasi tersebut, Islam menawarkan solusi fundamental melalui konsep iman. Iman bukan sekadar keyakinan abstrak, melainkan kekuatan ruhani yang hidup dan aktif dalam setiap sisi kehidupan, termasuk dalam membangun ketenangan dan kesehatan jiwa. Artikel ini berupaya mengupas secara lebih dalam bagaimana iman berperan mewujudkan kesehatan jiwa dalam pandangan Islam, serta bagaimana prinsip-prinsip keimanan dapat menjadi sumber kekuatan mental, terapi spiritual, dan jalan pencerahan jiwa.

    Hakikat Kesehatan Jiwa dalam Islam

    Kesehatan jiwa dalam perspektif Islam bukan hanya sekadar tidak adanya gangguan mental, tetapi lebih luas: sebuah kondisi keseimbangan antara hati, akal, dan perilaku. Seorang yang sehat jiwanya adalah yang hatinya tenang, pikirannya jernih, serta tindakannya sejalan dengan prinsip-prinsip ketauhidan dan akhlak mulia.

    Al-Qur’an menggambarkan jiwa yang sempurna sebagai nafs al-muthma’innah, jiwa yang tenteram:

    يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ

    “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai.”
    (QS. Al-Fajr: 27-28)

    Kesehatan jiwa yang sejati bermula dari hati yang dipenuhi iman. Tanpa iman, jiwa menjadi rapuh, mudah cemas, kehilangan makna hidup, dan rentan terseret dalam keputusasaan.

    Definisi dan Hakikat Iman dalam Islam

    Iman dalam Islam bukan sekadar percaya dalam arti pasif, melainkan membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, dan membuktikan dengan amal. Iman meliputi keyakinan penuh kepada Allah, malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan takdir.

    Iman bukan hanya meyakini keberadaan Tuhan, tetapi juga menyandarkan seluruh keberadaan diri kepada-Nya, menyadari bahwa semua yang terjadi adalah dalam skenario ilahi yang penuh hikmah. Iman menghidupkan kesadaran ruhani bahwa hidup ini memiliki arah, makna, dan tujuan tinggi: mengabdi kepada Allah dan menggapai keridhaan-Nya.

    Peranan Iman dalam Menjaga dan Meningkatkan Kesehatan Jiwa

    1. Sumber Ketenangan Hati

    Iman adalah sumber ketenteraman batin yang sejati. Allah berfirman:

    “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
    (QS. Ar-Ra’d: 28)

    Ketika seorang beriman menghadapi ujian hidup, ia tidak merasa hancur karena hatinya bersandar kepada Allah. Ia yakin bahwa setiap cobaan membawa hikmah, sehingga ia tetap tenang dalam badai kehidupan.

    1. Penangkal Kecemasan dan Depresi

    Ketidakpastian masa depan sering menjadi sumber kecemasan. Namun, seorang mukmin diajarkan untuk bertawakal—yaitu menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah berikhtiar. Sikap tawakal ini membebaskan jiwa dari kecemasan berlebih.

    Sebagaimana hadis Nabi ﷺ:

    “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi dalam keadaan lapar, dan kembali sore dalam keadaan kenyang.”
    (HR. Tirmidzi)

    Iman mengajarkan manusia untuk melakukan usaha terbaik namun tetap menyandarkan hasilnya kepada Allah, sehingga menghindari rasa frustasi atau depresi ketika kenyataan tidak sesuai harapan.

    1. Memberikan Makna dan Tujuan Hidup

    Salah satu penyebab utama krisis jiwa adalah hilangnya makna hidup. Dalam Islam, iman memberikan makna yang dalam terhadap eksistensi manusia:

    “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
    (QS. Adz-Dzariyat: 56)

    Seorang beriman tahu bahwa hidup ini bukan kebetulan tanpa arah, melainkan perjalanan suci menuju pertemuan dengan Allah. Kesadaran ini membuat hidup terasa bermakna, penuh semangat, dan jauh dari kehampaan jiwa.

    1. Mengokohkan Daya Tahan Mental

    Iman menanamkan sikap sabar dalam menghadapi kesulitan, syukur dalam meraih nikmat, dan ridha dalam menerima ketentuan. Ketiga pilar ini memperkokoh daya tahan mental (resiliensi) seseorang.

    Allah berfirman:

    “Sesungguhnya Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
    (QS. Al-Baqarah: 155)

    Orang beriman tidak runtuh karena ujian, justru setiap ujian memperkuat karakter dan kedewasaannya.

    1. Menghaluskan Emosi dan Akhlak

    Iman mendorong pembentukan akhlak mulia seperti kasih sayang, pemaafan, rendah hati, dermawan, dan tidak mudah marah. Jiwa yang dipenuhi akhlak mulia lebih damai, stabil, dan sehat secara emosional.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
    (HR. Tirmidzi)

    Dengan akhlak yang luhur, seseorang dapat membangun hubungan sosial yang sehat, mengurangi konflik batin, dan menjaga ketenteraman jiwa.

    Implementasi Iman untuk Terapi Kesehatan Jiwa

    1. Membangun Rutinitas Spiritual

    Ibadah seperti shalat, puasa, dzikir, membaca Al-Qur’an bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi merupakan “makanan” bagi jiwa. Shalat lima waktu, misalnya, menjadi jeda spiritual yang merefresh jiwa dari tekanan duniawi.

    1. Berdoa dan Bertawakal

    Doa adalah bentuk komunikasi paling intim antara hamba dengan Tuhannya. Melalui doa, seorang Muslim mencurahkan semua keresahan, mempercayakan segala urusan kepada Allah, dan menguatkan dirinya dengan kekuatan ilahi.

    1. Mendekatkan Diri kepada Al-Qur’an

    Al-Qur’an adalah obat (syifa’) bagi penyakit hati:

    وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا

    Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.(QS. Al-Isra: 82)

    Merenungi ayat-ayat Allah mampu membangkitkan harapan, ketenangan, dan pencerahan ruhani.

    1. Membangun Pola Pikir Tauhidik

    Seorang Muslim harus membiasakan berpikir tauhidik—melihat segala peristiwa hidup dalam bingkai ketauhidan. Ini menumbuhkan sikap optimis, lapang dada, dan keberanian menghadapi hidup.

    Kutipan dari beberapa Ulama besar Islam :

    1. Imam Al-Ghazali (w. 505 H)

    Dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, Al-Ghazali menulis:

    “Ketenteraman hati tidak mungkin tercapai kecuali dengan mengenal Allah. Maka siapa yang mengenal Allah, ia akan mencintai-Nya, dan siapa yang mencintai-Nya, ia akan merasa tentram dalam mengingat-Nya.”

    Penjelasan ini menguatkan bahwa makrifatullah (mengenal Allah) adalah kunci utama kesehatan batin dan ketenangan jiwa.

    1. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H)

    Dalam karyanya Madarij al-Salikin, Ibnu Qayyim menyatakan:

    “Dalam hati manusia terdapat kekosongan yang tidak bisa diisi kecuali dengan cinta kepada Allah, kembali kepada-Nya, serta selalu berdzikir kepada-Nya. Bila hati dipenuhi selain itu, maka ia akan terus merasa resah, sedih, dan tersiksa.”

    Pernyataan ini menegaskan bahwa penyakit jiwa yang hakiki bersumber dari jauhnya hati dari Allah.

    1. Syekh Abdul Qadir al-Jailani (w. 561 H)

    Dalam Al-Fath ar-Rabbani, beliau berkata:

    “Carilah ketenangan hatimu dengan duduk di hadapan Allah. Hilangkan kegelisahanmu dengan memperbanyak dzikir. Tiada obat bagi jiwa kecuali kembali kepada Rabb-nya.”

    Saran beliau ini memperlihatkan bahwa ketenangan bukan datang dari dunia luar, tetapi dari keterhubungan batin dengan Allah.

    1. Syekh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi (w. 2013 M)

    Dalam bukunya Al-Iman: Haqiqatuhu, Khawashuhu, Nawaaqidhuhu, beliau mengatakan:

    “Iman yang kokoh menjadikan seseorang berjiwa besar, tahan menghadapi cobaan, tidak mudah goyah, sebab ia sadar bahwa seluruh hidupnya dalam genggaman kasih sayang Allah.”

    Kutipan ini menegaskan bahwa resiliensi (daya tahan jiwa) bertumpu pada kekuatan iman.

     

    Penutup

    Iman adalah cahaya dalam kegelapan, kekuatan dalam kelemahan, dan penyejuk dalam kegelisahan. Dalam Islam, kesehatan jiwa bukan sekadar urusan medis, tetapi erat terkait dengan kekuatan iman. Iman yang kokoh membangun jiwa yang tangguh, hati yang tenteram, pikiran yang sehat, dan hidup yang bermakna. Oleh karena itu, memperkuat iman bukan hanya jalan menuju keselamatan akhirat, tetapi juga menjadi fondasi utama untuk mewujudkan kesehatan jiwa di dunia.

    Di tengah dunia yang penuh tekanan ini, memperbarui iman, menghidupkan hubungan dengan Allah, dan memperdalam makna keberadaan menjadi kebutuhan pokok bagi setiap jiwa yang merindukan ketenangan dan kesejahteraan sejati.

     

    Daftar Pustaka

    Al-Qur’an dan Hadis

    • Departemen Agama RI. (2005). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: PT Syaamil Cipta Media.
    • Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.
    • At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan at-Tirmidzi.

    Buku-buku Klasik dan Modern

    • Al-Ghazali. (2010). Ihya’ Ulumuddin. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
    • Ibn Qayyim al-Jawziyyah. (1996). Madarij as-Salikin. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
    • Al-Jailani, Abdul Qadir. (2003). Al-Fath ar-Rabbani. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi.
    • Al-Buthi, Muhammad Sa’id Ramadhan. (2001). Al-Iman: Haqiqatuhu, Khawashuhu, Nawaaqidhuhu. Damaskus: Dar al-Fikr.

    Referensi Pendukung

    • Badri, Malik. (2000). Dilema Psikologi Modern: Suatu Kritik Islam. Jakarta: Gema Insani.
    • Sulaiman, Abdul Karim. (2017). Psikologi Islam: Membangun Jiwa Sehat dalam Perspektif Islam. Bandung: Pustaka Setia.

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    • Vera Agustina Zahra berkata:

      Semoga dengan adannya artikel ini mampu mengurangi tingkat depresi di indonesia dan setelah saya membacannya saya yang kemarin merasa goyah sekarang lebih bersemangat lagi karena saya yakin iman adalah kekuatan dalam kelemahan

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top