Ustadzfaqih • Agu 27 2025 • 188 Dilihat

Pemahaman Bid’ah Menurut Ulama Ahlus Sunnah: Perspektif Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari
Istilah bid’ah sering kali menjadi perdebatan panjang di kalangan umat Islam. Banyak orang yang secara tergesa-gesa melabeli setiap hal baru dalam agama sebagai bid’ah sesat. Padahal, para ulama besar, termasuk Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), memiliki pemahaman yang lebih komprehensif dan ilmiah mengenai konsep bid’ah.
Dalam kitab beliau Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Syaikh Hasyim Asy’ari menukil pandangan para ulama klasik seperti Imam Asy-Syafi’i, Imam An-Nawawi, dan Syaikh Abdus Salam, yang menjelaskan bahwa tidak semua hal baru adalah bid’ah tercela. Ada perbedaan mendasar antara hal baru yang bertentangan dengan syariat dan hal baru yang mendukung atau tidak keluar dari koridor syariat.
Apa yang Termasuk Bid’ah Tercela?
Menurut penjelasan Syaikh Hasyim Asy’ari, hal-hal yang termasuk kategori bid’ah tercela (yang dimaksud dalam hadits-hadits ancaman terhadap bid’ah) adalah:
Namun, tidak termasuk bid’ah tercela adalah hal-hal baru yang tetap memiliki korelasi dengan dalil syar’i, walau dalilnya bersifat ijtihadi dan zhanni. Contohnya:
Klasifikasi Bid’ah Menurut Syaikh Abdus Salam (dikutip Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari)
Syaikh Abdus Salam membagi bid’ah menjadi lima kategori hukum, sebagaimana pembagian hukum syariat pada umumnya (wajib, haram, sunnah, makruh, mubah):
Menurut beliau, semua ini tidak termasuk bid’ah tercela selama tujuannya selaras dengan syariat dan ada dalil umum yang melandasinya, seperti anjuran zikir, doa, silaturrahmi, dan amar ma’ruf.
Bid’ah yang Buruk: Pertunjukan Tidak Bermoral
Menariknya, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari juga menyebut contoh bid’ah buruk dalam konteks sosial, seperti:
Pada konteks modern, ini bisa dianalogikan dengan berbagai hiburan yang justru menjauhkan orang dari nilai-nilai agama, seperti konser maksiat, judi, atau perilaku destruktif yang menggerus akhlak.
Refleksi: Hikmah dari Klasifikasi Bid’ah Ini
Dari penjelasan Syaikh Hasyim Asy’ari, kita bisa mengambil pelajaran penting:
Pandangan ini menunjukkan kearifan ulama Ahlus Sunnah yang menyejukkan dan mencerdaskan. Bukan memecah umat dengan klaim sesat-menyesatkan, tapi membimbing agar semua kegiatan tetap berada di rel syariat.
Penutup: Warisan Pemikiran Ulama untuk Umat
Pemikiran Syaikh Hasyim Asy’ari tentang bid’ah menunjukkan betapa luasnya wawasan ulama Nusantara. Mereka memadukan:
Di era modern, kita perlu menghidupkan semangat ini: menerima pembaruan yang bermanfaat, menolak penyimpangan, dan menjaga kesatuan umat. Bid’ah bukan alat untuk memvonis, tapi konsep ilmiah untuk menjaga agama tetap murni sekaligus relevan.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.