Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Merajut Keluarga Bahagia di Tanah Suci

    Mei 30 202579 Dilihat

    Merajut Keluarga Bahagia di Tanah Suci

    Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.

    Pendahuluan: Tanah Suci, Tanah Pembersih Jiwa

    Tanah Suci—Makkah dan Madinah—bukan sekadar destinasi ibadah. Ia adalah tempat yang menyimpan pancaran rahmat, getar keimanan, dan cahaya transformasi hati. Setiap jengkalnya menyimpan kisah cinta para nabi, perjuangan para sahabat, dan lompatan ruhani para salihin. Ketika kaki menapak di sana, hati yang selama ini beku mulai mencair. Air mata yang lama tertahan, luruh dalam syahdu doa di Multazam dan Raudhah.

    Namun lebih dari itu, Tanah Suci adalah ruang suci untuk merajut ulang makna keluarga. Sebuah kesempatan langka di mana suami, istri, dan anak-anak menyingkap kembali tujuan sejati hidup bersama: menuju Allah, bersama-sama.

    Keluarga: Amanah, Bukan Sekadar Ikatan

    Allah menciptakan keluarga bukan sekadar untuk kenyamanan duniawi, melainkan sebagai kendaraan menuju surga. Suami bukan hanya pencari nafkah, tapi pembimbing jalan takwa. Istri bukan sekadar pengurus rumah tangga, tapi penyejuk iman. Anak-anak bukan sekadar amanah, tapi ladang amal jariyah yang kelak akan menjadi saksi di hadapan Allah.

    “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

    Di Tanah Suci, ayat ini menggema lebih kuat. Shalat berjamaah, munajat di malam hari, tilawah bersama, dan zikir di bawah langit Madinah—semuanya menjadi cara membangun kembali spiritualitas keluarga. Momen ini bukan hanya untuk menunaikan umrah, tapi untuk membentuk keluarga yang bertakwa dan sakinah.

    Menghidupkan Doa di Baitullah: Doa Bersama, Bukan Sendiri

    Betapa sering kita berdoa sendiri, mengejar impian pribadi, lupa bahwa keluarga juga butuh dibimbing dalam doa. Di depan Ka’bah, saat air mata mengalir dan hati terangkat ke langit, hadirkan istri dan anak-anak dalam doa:

    “Ya Allah, jadikan kami keluarga yang Engkau cintai. Satukan hati kami dalam iman. Perbaiki kekurangan kami. Tumbuhkan cinta karena-Mu. Dan kumpulkan kami kelak di surga-Mu…”

    Mengucapkan doa itu bersama, saling menggenggam tangan, akan menjadi memori spiritual yang tak lekang oleh waktu. Bahkan setelah pulang ke tanah air, momen itu akan terus hidup di dalam hati.

    Menapak Jejak Rasul Bersama Keluarga

    Umrah bukan sekadar ibadah fisik, tapi ziarah ruhani. Ketika keluarga berjalan bersama di Masjid Quba, berdiri di Jabal Rahmah, atau menangis di Raudhah, mereka bukan hanya menelusuri sejarah Islam, tapi juga mengikat kembali makna cinta dan perjuangan bersama.

    Jadikan momen ini sebagai madrasah:

    • Untuk anak-anak, kenalkan keteladanan Nabi sejak dini.
    • Untuk pasangan, jadikan Rasulullah dan Khadijah sebagai model rumah tangga.
    • Untuk diri sendiri, niatkan perubahan hidup pasca-umrah: lebih tenang, lebih lembut, lebih taat.

    Tanah Suci Sebagai Titik Nol: Restart Keluarga

    Seringkali rumah tangga terjebak dalam rutinitas: komunikasi kering, perhatian hilang, dan spiritualitas menipis. Tanah Suci memberi kesempatan melakukan “titik nol” — menghapus amarah lama, memaafkan kesalahan, dan memulai ulang perjalanan cinta.

    Di tengah jutaan jamaah, temukan kembali pasanganmu. Tatap matanya saat thawaf, genggam tangannya saat sa’i, dan berdoalah bersamanya. Katakan dengan lembut, “Aku ingin kita masuk surga bersama.” Inilah cinta yang abadi. Bukan karena harta, bukan karena status, tapi karena sama-sama ingin bertemu Allah.

    Pasca-Umrah: Membawa Tanah Suci ke Rumah

    Perjalanan umrah bukan akhir, tapi awal dari kehidupan baru. Tugas utama bukan hanya pulang membawa oleh-oleh, tapi membawa pulang ruh Tanah Suci:

    • Jadikan rumah sebagai rumah ibadah: ada waktu tilawah bersama, zikir berjamaah, dan shalat malam bergantian.
    • Jadikan keluarga sebagai tim ruhani: saling menguatkan dalam sedekah, puasa sunnah, dan silaturahmi.
    • Jadikan cinta sebagai ibadah: setiap senyum, pelukan, dan perhatian diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

    Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

    Penutup: Keluarga Bahagia Adalah Jalan Menuju Surga

    Tanah Suci mengajarkan kita bahwa bahagia bukanlah soal banyaknya harta atau liburan mewah. Tapi tentang hati yang bersatu dalam ibadah. Tentang cinta yang dibangun karena Allah. Dan tentang janji bersama untuk menempuh jalan takwa hingga akhir hayat.

    “Ya Allah, bangunlah untuk kami rumah tangga di sisi-Mu, rumah tangga yang Engkau berkahi, Engkau rahmati, dan Engkau bimbing hingga kami kembali kepada-Mu dalam keadaan Engkau ridha.”

     

    Refleksi Harian:

    “Pergi ke Tanah Suci bisa siapa saja, tapi menjadikan keluarga sebagai jalan menuju surga, itulah misi yang harus diperjuangkan.”

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top