Ustadzfaqih • Jun 10 2025 • 68 Dilihat

Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Bab 1: Ridha, Akhlak Para Nabi yang Terlupakan
Dalam pusaran kehidupan yang penuh ketidakpastian, banyak manusia terombang-ambing antara harapan dan kecemasan, ambisi dan kekhawatiran, doa dan kekecewaan. Di sinilah ridha menjadi cahaya yang menuntun hati menuju ketenangan sejati.
Ridha: Sebuah Akhlak Langit
Imam Abu Laits As-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin menuliskan bahwa ridha terhadap apa yang Allah tetapkan merupakan akhlak para Nabi. Ia bukan sekadar sikap pasrah, tetapi puncak kepasrahan yang berbuah manis: kedamaian hati. Seorang mukmin sejati adalah mereka yang hatinya luluh kepada takdir, karena mereka tahu siapa yang mengatur semuanya.
“Tidaklah seseorang mencapai puncak iman hingga dia ridha terhadap apa yang dibencinya, sebagaimana ia ridha terhadap apa yang dicintainya.”
— Tanbihul Ghafilin, Abu Laits As-Samarqandi
Para Nabi bukanlah manusia tanpa ujian. Nabi Ayyub diuji dengan sakit yang berkepanjangan, Nabi Yusuf dijerumuskan ke dalam sumur dan penjara, Nabi Muhammad SAW dihina, diusir, dan dikepung. Namun dalam setiap derita, mereka berkata: “Hasbiyallahu wa ni’mal wakil.” Mereka tidak mengeluh kepada makhluk. Mereka mengadu hanya kepada Allah, dan hatinya ridha.
Ridha adalah Pintu Bahagia
Hidup tak selalu sesuai harapan. Namun bagi hati yang ridha, setiap kejadian adalah anugerah. Orang yang ridha tidak bertanya, “Mengapa ini terjadi padaku?”, melainkan berkata, “Apa yang Allah ingin ajarkan kepadaku melalui ini?”
“Barang siapa ridha, maka baginya keridhaan Allah. Barang siapa murka, maka baginya kemurkaan Allah.”
— HR. Tirmidzi
Ridha juga bukan tanda kelemahan. Justru ia lahir dari kekuatan iman. Ridha bukan menyerah sebelum berjuang, tetapi tenang setelah berikhtiar. Inilah rahasia batin orang-orang saleh: mereka selalu tenang dalam badai kehidupan, karena mereka bersandar kepada Tuhan yang Mahakuasa.
Bab 2: Enam Pilar Keimanan dan Akhlak Mukmin Sejati
Dalam zaman yang serba cepat, serba viral, dan serba pragmatis, keutuhan iman sering terkikis oleh godaan dunia. Maka setiap mukmin perlu kembali kepada enam fondasi spiritual yang dapat menegakkan iman dan akhlak secara utuh. Inilah enam pilar keimanan dan akhlak mukmin sejati, yang menjadi pembentuk pribadi ruhani yang matang dan kuat.
Iman kepada janji Allah adalah fondasi keteguhan dalam beramal. Orang yang percaya bahwa setiap kebaikan akan dibalas, tidak akan letih menanam amal walau tak segera tampak buahnya. Janji Allah itu pasti.
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”
— QS. At-Taubah: 111
Seorang mukmin yang yakin pada janji Allah akan terus melangkah meski sendiri, terus menabur meski tak langsung menuai.
Menggantungkan hati kepada makhluk adalah sumber kekecewaan. Berharap kepada Allah adalah sumber kekuatan. Inilah tauhid praktis dalam kehidupan. Para salaf berkata, “Jangan kau harap dari manusia apa yang hanya Allah yang mampu memberikannya.”
Semakin tinggi tauhid, semakin kecil harapan kepada makhluk. Bukan karena putus asa, tapi karena telah percaya bahwa Allah-lah satu-satunya pemilik segala sesuatu.
Setan tidak pernah cuti. Ia bekerja siang dan malam, bukan dengan senjata, tetapi dengan bisikan. Maka memusuhinya butuh kesadaran dan mujahadah. Allah telah mewanti-wanti:
“Sesungguhnya setan adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh.”
— QS. Fathir: 6
Jangan kompromi dengan maksiat, jangan berdamai dengan keburukan. Kemenangan ruhani dimulai dengan sikap tegas terhadap godaan syaitan.
Agama ini dibangun di atas kasih sayang. Rasulullah SAW adalah Nabi yang paling penyayang, bahkan terhadap anak kecil, hamba sahaya, bahkan hewan. Menyayangi sesama bukan sekadar akhlak, tapi ekspresi iman.
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah. Sayangilah makhluk yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.”
— HR. Tirmidzi
Dunia ini bisa berubah lebih baik, jika para mukmin menjadikan kasih sayang sebagai fondasi pergaulan, bukan kebencian dan kekerasan.
Surga dan neraka bukan simbol, tapi realita. Iman kepada keduanya menjadikan seorang mukmin cerdas dalam menata prioritas. Ia tidak akan menukar surga dengan gemerlap dunia yang sementara.
“Dan barangsiapa takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.”
— QS. An-Nazi’at: 40-41
Inilah iman yang menggerakkan: takut akan neraka, rindu akan surga, dan serius menyiapkan bekal.
Tawadhu adalah mahkota akhlak. Ia menjadikan ilmu bermanfaat, dakwah diterima, dan nasihat menyentuh. Orang yang rendah hati tak merasa lebih suci, tak menolak kebenaran hanya karena datang dari orang biasa.
Ali bin Abi Thalib pernah berkata:
“Lihatlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan.”
Kebenaran itu cahaya. Maka terimalah, meski datang dari pelita kecil. Orang yang sombong terhadap kebenaran, akan gelap meski berada di tengah cahaya.
Penutup: Jalan Para Nabi, Jalan Kita
Ridha dan enam pilar ini bukan sekadar teori. Inilah jalan yang ditempuh oleh para Nabi, oleh para sahabat, oleh para wali dan ulama. Jalan yang penuh tantangan, tapi juga penuh cahaya. Jika kita ingin hidup yang tenang, jiwa yang bersih, dan akhir yang indah, maka mari kita mulai dengan satu langkah: ridha kepada Allah, dan teguh di atas fondasi iman.
۞وَمَن يُسۡلِمۡ وَجۡهَهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰۗ وَإِلَى ٱللَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ
“ Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.”
— QS. Luqman: 22
( Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.