Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • “Menjadi Anak Dunia atau Anak Akhirat?” — Renungan dari Futuhul Ghaib

    Jun 25 202561 Dilihat

    “Menjadi Anak Dunia atau Anak Akhirat?” — Renungan dari Futuhul Ghaib

    Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.

     

    “Jadilah kamu anak akhirat, jangan menjadi anak dunia. Karena anak dunia akan celaka, sedangkan anak akhirat akan bahagia dan mulia.”
    — Sayyid Abdul Qadir al-Jailani, Futuhul Ghaib

     

    1. Dunia dan Akhirat: Dua Jalan yang Tidak Sama

    Dalam kitab Futuhul Ghaib, Sayyid Abdul Qadir al-Jailani menjelaskan bahwa manusia hidup di antara dua alam: alam dunia yang sementara, dan alam akhirat yang kekal. Beliau menyebut, manusia akan menjadi anak dari apa yang ia cintai, ia tuju, dan ia usahakan.

    • Jika seseorang mencintai dunia, mengejar kenikmatannya, dan menjadikan harta, jabatan, serta popularitas sebagai tujuannya, maka ia anak dunia.
    • Jika seseorang mencintai akhirat, mengutamakan keridhaan Allah, mengejar amalan saleh, serta mempersiapkan bekal untuk kehidupan abadi, maka ia anak akhirat.
    1. Anak Dunia: Hidup Terikat, Mati Merugi

    Al-Jailani menggambarkan anak dunia sebagai sosok yang tertipu oleh gemerlap dunia, hingga hatinya terikat pada yang fana. Ia memandang dunia sebagai tempat tujuan, bukan tempat singgah. Ia sibuk membangun istana dunia, namun lupa menyiapkan rumah di akhirat.

    “Hatinya dipenuhi oleh syahwat dan nafsu, amalnya untuk dirinya sendiri, lisannya memuji dunia, dan matanya buta terhadap akhirat.” — (Futuhul Ghaib)

    Mereka ini:

    • Berambisi pada dunia, tapi lalai dari tanggung jawab kepada Allah.
    • Sibuk menumpuk harta, tapi pelit bersedekah.
    • Semangat mengejar karier, tapi malas untuk shalat dan ibadah.

    Sayyid al-Jailani memperingatkan: anak dunia akan kehilangan segalanya, karena ketika mati, seluruh hartanya ditinggal, dan ia hanya membawa penyesalan.

    1. Anak Akhirat: Hidup Mulia, Mati Bahagia

    Sebaliknya, anak akhirat adalah mereka yang menjadikan dunia sebagai ladang amal, bukan tempat berpesta. Mereka bekerja, berusaha, bahkan mungkin kaya — tetapi hati mereka selalu terpaut kepada Allah. Dunia hanya di tangan, bukan di hati.

    Ciri-ciri anak akhirat menurut al-Jailani:

    • Hidupnya sederhana, tapi hatinya kaya.
    • Setiap usaha duniawi disertai niat untuk Allah.
    • Tidak tergoda pujian manusia, karena yang dicari hanya ridha Ilahi.

    “Jadikan dunia di tanganmu, jangan di hatimu. Gunakan dunia sebagai alat menuju Allah, bukan sebagai tujuan yang melalaikan.”
    — Futuhul Ghaib

    Anak akhirat adalah mereka yang tahu bahwa:

    • Dunia bukan musuh, tapi ujian.
    • Harta bukan kutukan, tapi amanah.
    • Jabatan bukan kemuliaan, tapi tanggung jawab yang berat.
    1. Jalan Tengah: Seimbang Tapi Condong pada Akhirat

    Sayyid Abdul Qadir al-Jailani bukan berarti memerintahkan umat untuk meninggalkan dunia sepenuhnya. Beliau justru menyeru agar kita hidup di dunia, namun berhati akhirat. Kita tetap bekerja, berumah tangga, bersosialisasi — tapi semua itu dilakukan dalam bingkai takwa dan kesadaran akan akhirat.

    “Carilah dunia dengan tanganmu, tapi jangan sampai hatimu tercemari oleh cinta dunia.”
    — Futuhul Ghaib

    Ini adalah jalan para wali Allah — mereka menapaki dunia, tapi langkah mereka menuju surga. Mereka mengambil dunia seperlunya, dan menyedekahkan sisanya. Mereka tidak bergantung pada makhluk, karena hanya Allah tempat mereka berharap.

    1. Nasihat Penutup: Pilih Jalanmu Sekarang

    Sayyid Abdul Qadir al-Jailani mengakhiri nasihatnya dengan panggilan yang menggugah:

    “Wahai manusia, sadarlah! Dunia hanya bayangan yang menipu, sedangkan akhirat adalah hakikat. Jangan tertipu oleh yang sementara dan melalaikan yang abadi.”

    Kini saatnya kita bertanya pada diri sendiri:

    • Apakah aku lebih mencintai dunia atau akhirat?
    • Apakah aku lebih sibuk mengejar materi, atau memperbanyak amal?
    • Apakah aku anak dunia — yang sibuk, tapi kosong?
    • Atau anak akhirat — yang tenang, karena dekat dengan Allah?

     

    Penutup

    Menjadi anak dunia atau anak akhirat bukan soal status sosial atau seberapa banyak harta yang dimiliki. Itu soal hati — kepada siapa ia bergantung, kepada apa ia condong. Dunia hanya tempat ujian, dan waktu kita di sini sangat singkat. Maka, mari kita gunakan sisa umur ini untuk menjadi anak akhirat — agar saat dunia ditinggal, kita tak menyesal.

    “Beruntunglah orang yang hidupnya sederhana, tapi hatinya bercahaya karena Allah.”
    — Sayyid Abdul Qadir al-Jailani

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo )

     

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top