Ustadzfaqih • Apr 25 2025 • 115 Dilihat

Meniti Jalan Sabar: Ketika Hati Berserah dan Jiwa Menguat
Dalam hidup ini, tidak ada satu pun insan yang luput dari ujian. Kadang berbentuk kehilangan, kadang berupa harapan yang tak kunjung menjadi nyata. Namun dalam setiap peristiwa itu, ada pesan Ilahi yang tersembunyi. Ia memanggil hamba-hamba-Nya untuk bersabar, berserah, dan tetap berjalan di jalan yang lurus—meski langkah terasa berat dan arah belum tampak jelas.
Allah SWT berfirman:
قُلۡ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٞۗ وَأَرۡضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-Zumar: 10)
Ayat ini bukan sekadar kabar gembira, melainkan juga pelita bagi jiwa-jiwa yang letih. Ketika dunia tak memberikan jawaban, ketika doa terasa menggantung di langit, maka sabarlah. Sebab kesabaran bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan ruhani. Sabar adalah iman yang sedang menancap kuat di dalam dada. Ia menahan amarah, mengekang lisan dari keluhan, dan menguatkan kaki untuk tetap melangkah di jalan kebaikan.
Bersabar berarti menunda kepuasan nafsu demi keridhaan Allah. Melawan keinginan sesaat demi keselamatan abadi. Ia bukan sekadar pasrah, tapi menerima takdir dengan lapang dada dan terus berharap pada kemurahan-Nya. Sabar adalah bentuk tertinggi dari tawakal. Sebuah kepercayaan mendalam bahwa apa pun yang terjadi adalah bagian dari rencana-Nya yang sempurna.
Di saat kita merasa sendirian dalam ujian, ingatlah bahwa Allah tidak pernah jauh. Ia Maha Mengetahui isi hati dan jerih payah hamba-Nya. Ketika kita menahan tangis dalam sujud, Ia menyaksikan. Ketika kita menolak bisikan dosa meski tak ada yang melihat, Ia mencatat. Dan saat kita memilih sabar, meski pintu-pintu dunia tertutup, maka sesungguhnya pintu langit sedang terbuka lebar.
Mari kita lawan nafsu yang mengajak pada keluh dan putus asa. Genggamlah perintah-Nya dengan iman, meski terkadang tangan ini gemetar. Terimalah takdir dengan ridha, dan biarkan harapan kepada-Nya tetap menyala—sebab cahaya-Nya tidak pernah padam.
Ketika Ujian Menyapa: Tips Menghadapi Musibah dengan Hati yang Tegar
Musibah dan ujian adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Ia datang tidak untuk melemahkan, tetapi untuk menguatkan. Ia hadir bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk membentuk. Di balik setiap duka, selalu ada hikmah yang belum tampak, dan setiap air mata adalah jalan menuju kedewasaan iman.
Berikut beberapa tips ruhani dalam menghadapi musibah dan ujian dari Allah:
Langkah pertama adalah bersabar. Sabar bukan hanya menahan emosi, tapi juga menjaga hati tetap tenang saat badai datang. Sabar adalah kekuatan yang membuat kita tetap berdiri, meski dunia terasa goyah.
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar: 10)
Bersabarlah bukan hanya menerima, tetapi meridhai segala keputusan Allah. Ridha itu lebih dalam daripada sabar—ia adalah penerimaan total bahwa apa pun yang terjadi, adalah yang terbaik menurut Allah.
Dalam ujian, hati mudah gelisah. Maka tenangkanlah dengan mengingat Allah (dzikir). Ucapkan:
“Hasbunallahu wa ni’mal wakil” – Cukuplah Allah sebagai Penolong kami dan sebaik-baik Pelindung.
Perbanyak doa di waktu-waktu mustajab. Menangislah dalam sujud, karena setiap air mata di hadapan-Nya akan menjadi saksi cinta dan keteguhanmu. Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang kembali dengan penuh harap.
Setiap musibah membawa pesan. Ia bisa jadi peringatan, ujian kesabaran, atau pembersih dosa. Maka muhasabahlah—introspeksi diri dengan jujur dan tenang. Tanyakan pada diri, “Apa pesan Allah di balik peristiwa ini?”
“Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah, meski hanya tertusuk duri, melainkan Allah menghapuskan dosanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika diuji, jangan biarkan dirimu larut dalam kesendirian. Carilah teman yang shalih, yang bisa menenangkanmu, mendoakanmu, dan mengingatkanmu pada akhirat. Mereka adalah penawar di kala hati terasa pahit.
Jangan biarkan musibah membuatmu terhenti dari kebaikan. Tetaplah shalat, bersedekah, menolong orang lain. Justru di saat diuji, amal kita menjadi lebih bermakna. Karena kebaikan di tengah kesulitan adalah bukti keikhlasan.
Penutup:
Musibah bukan hukuman, tetapi sapaan cinta dari Sang Maha Bijaksana. Allah sedang mengajarimu tentang keteguhan, tawakal, dan ketulusan. Maka, hadapilah ujian itu dengan hati yang yakin: bahwa setiap kesulitan akan berujung pada kemudahan, dan setiap luka akan dibalut oleh kasih-Nya.
“Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.