Ustadzfaqih • Jul 01 2025 • 73 Dilihat

Mengapa Hati Tidak Terguncang Saat Mendengar Ayat-Ayat Kiamat?
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
“Seandainya engkau mengetahui dengan ilmu yang yakin, sungguh engkau akan melihat neraka Jahim.”
(QS. At-Takatsur: 5-6)
Pendahuluan: Gemuruh Ayat Kiamat dan Keheningan Hati
Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kemuliaan kitab-Nya telah menyebut kiamat dan berbagai peristiwa akhirat dalam ribuan ayat. Ada yang menggambarkan kedahsyatan tiupan sangkakala, langit yang terbelah, bumi yang diguncang, hingga percakapan antara ahli neraka dan malaikat penjaga mereka. Namun, realitas hari ini menunjukkan betapa banyak manusia yang tak terusik oleh itu semua.
Mengapa telinga mendengar, namun hati tak terguncang? Mengapa bibir membaca, namun mata tak menangis? Mengapa hati tetap tenang padahal hari kehancuran semesta semakin dekat?
Artikel ini mengajak kita merenung dalam-dalam, menyelami kedalaman ruhani, untuk menemukan penyebab kebekuan hati dan jalan kembali menuju hati yang hidup.
Dalam Al-Qur’an, hari kiamat disebut dengan berbagai istilah: Yaum al-Qiyamah, As-Sa’ah, Yaum ad-Din, Yaum al-Hasrah, Yaum al-Fasl, Yaum al-Hisab, dan lainnya. Semua mengisyaratkan betapa genting dan seriusnya hari itu.
“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya…”
(QS. Az-Zalzalah: 1-2)
Namun hari ini, ayat-ayat seperti ini hanya menjadi lantunan bacaan yang indah, bukan peringatan yang menampar nurani. Kita lebih terkesima pada suara qari-nya, bukan pada pesan Ilahinya.
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi…”
(QS. Al-Baqarah: 74)
Hati yang telah lama jauh dari dzikrullah dan siraman iman, perlahan mengeras. Ia menjadi batu yang tak bisa lagi menyerap cahaya. Bahkan suara ayat pun hanya memantul di permukaannya, tak pernah menyentuh kedalaman jiwa.
Nabi SAW bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba, apabila melakukan dosa, akan muncul titik hitam di dalam hatinya…”
(HR. Tirmidzi)
Ketika titik-titik itu menumpuk, muncullah hijab tebal antara hati dan ayat-ayat Allah. Sehingga, peringatan tidak lagi menakutkan, nasihat tidak lagi menyentuh.
“Kalian dicintakan kepada dunia dan membenci kematian.”
(HR. Bukhari)
Manusia modern terlalu tenggelam dalam cinta dunia: harta, pangkat, popularitas, teknologi, dan keindahan fana. Mereka membaca tentang akhirat, tapi seluruh perhatian, rencana, dan usahanya hanya untuk dunia. Ini menyebabkan ketidakseimbangan ruhani yang mematikan getaran hati terhadap kehidupan setelah mati.
Imam Al-Ghazali menyebutkan, tanda hati yang mati adalah:
Inilah yang sedang terjadi. Ayat-ayat kiamat hanya menjadi rutinitas bacaan, bukan cambuk penyadar. Akhirat menjadi cerita mitos, bukan arah hidup. Padahal kematian bisa datang kapan saja, dan kiamat pribadi akan dimulai seketika itu juga.
Tidak ada yang bisa melunakkan hati selain taubat yang jujur dan tangisan yang tulus. Menangislah di malam hari, bukan karena dunia, tapi karena takut kepada-Nya.
“Mereka menangis dan hati mereka menjadi tenang karena takut kepada Tuhan mereka.”
(QS. As-Sajdah: 16)
Jangan sekadar membaca. Rasakan! Bayangkan! Renungkan! Ulangi ayat-ayat tentang hari pembalasan. Bawa dirimu dalam suasana itu. Baca tafsirnya. Tulis renungannya. Hidupkan kembali rasa takut yang sehat (al-khauf) dalam hati.
“Cukuplah kematian sebagai penasihat.”
(HR. Thabrani)
Setiap hari lihatlah kubur. Kunjungi orang sakit. Hadiri takziah. Bicarakan tentang kematian dengan anak-anak. Jadikan kematian sebagai guru terbaik yang menuntun kita pulang.
Meskipun hati keras, Allah tidak pernah menutup pintu-Nya:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka?”
(QS. Al-Hadid: 16)
Ayat ini seolah menegur kita dengan lembut. “Wahai hamba-Ku, sudah cukup engkau lalai. Kembalilah! Bukankah sudah waktunya hatimu tersentuh?”
Penutup: Kiamat di Pelupuk Mata
Setiap detik kita melangkah menuju kiamat pribadi kita. Usia terus berkurang. Kubur terus menganga. Malaikat maut tidak pernah salah alamat.
“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati…”
(QS. Ali Imran: 185)
Kini saatnya menjadikan ayat-ayat kiamat sebagai cambuk dan cahaya. Jangan tunggu sampai melihat neraka dengan mata kepala. Melihat dengan iman jauh lebih menyelamatkan daripada menyaksikan dengan keterlambatan.
Mari kita berdoa:
“Ya Allah, hidupkanlah hati kami dengan cahaya ayat-Mu. Lunakkanlah hati kami agar tergetar saat mendengar tentang kematian dan akhirat. Jangan biarkan kami mati sebelum taubat kami Engkau terima.”
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.