Ustadzfaqih • Jun 30 2025 • 61 Dilihat

Menanamkan Cara Berpikir Positif pada Anak: Cahaya Kecil yang Menerangi Peradaban
Mukadimah: Anak Adalah Amanah, Bukan Milik
Dalam pandangan Islam, anak adalah amanah dari Allah, bukan milik kita. Mereka adalah titipan yang harus dijaga, dididik, dan disiapkan untuk menghadapi dunia serta akhirat. Maka setiap cara mendidik anak adalah cerminan dari sejauh mana kita memahami misi hidup dan amanah Ilahiyah.
Salah satu warisan terindah yang bisa ditanamkan sejak dini adalah cara berpikir positif. Ia bukan sekadar sikap mental, melainkan pondasi akhlak, kunci ketahanan jiwa, dan modal utama membangun peradaban masa depan. Karena anak-anak yang berpikir positif tidak hanya kuat secara psikologis, tapi juga kaya secara spiritual.
Berpikir Positif: Antara Harapan dan Tawakal
Islam bukan agama pesimis. Ia dibangun di atas keyakinan, pengharapan, dan kerja keras yang bertawakal. Berpikir positif adalah bagian dari husnudzan, yakni berbaik sangka kepada Allah, kepada sesama, dan kepada diri sendiri. Ini adalah kekuatan batin yang menyelamatkan seseorang dari kesempitan dunia dan kebutaan akhirat.
Berpikir positif bukan sekadar berkata “aku bisa”, tetapi melihat dengan kaca mata iman, bahwa segala sesuatu adalah bagian dari takdir yang sempurna, dan setiap ujian memiliki hikmah tersembunyi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah engkau mengira bahwa musibah yang menimpamu itu buruk bagimu, tetapi bisa jadi di dalamnya terdapat kebaikan yang besar.”
Mengapa Harus Dimulai Sejak Anak?
“Anak-anak bukan bejana kosong, tapi seperti tanah subur. Jika ditanam benih yang baik, akan tumbuh pohon yang kuat.”
Pola pikir anak dibentuk sejak dini. Setiap kata, respon, dan sikap orang tua adalah coretan awal dalam kitab kehidupan mereka. Ketika anak dibesarkan dengan pandangan penuh harapan, optimisme, dan rasa syukur, mereka tumbuh menjadi pribadi:
Sebaliknya, jika yang ditanamkan adalah rasa takut, pesimisme, dan ucapan negatif, anak akan tumbuh dengan luka batin, krisis percaya diri, dan rentan terhadap tekanan hidup.
Mendidik dengan Cahaya, Bukan Dengan Ancaman
Sebagian orang tua masih menggunakan pendekatan keras: bentakan, ancaman, atau ejekan. Padahal, hati anak lebih mudah terbuka dengan cinta dan penghargaan. Salah satu caranya adalah mengajarkan mereka untuk melihat dunia dengan kaca mata yang jernih.
Daripada berkata:
“Kamu kok malas sih!”
Katakan:
“Yuk kita coba atur waktu biar kamu lebih semangat!”
Daripada berkata:
“Kamu itu selalu gagal!”
Katakan:
“Setiap orang gagal, tapi orang hebat belajar dari gagal.”
Kalimat-kalimat ini bukan sekadar retorika, tapi doa dan harapan yang menanamkan benih kekuatan jiwa dalam hati anak.
Membangun Ketahanan Jiwa Anak di Tengah Dunia yang Keras
Hari ini, kita hidup di dunia yang penuh tekanan: media sosial, standar kesuksesan palsu, dan budaya instan. Anak-anak kita kelak akan menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks.
Mereka butuh bukan hanya pengetahuan, tapi juga kekuatan batin. Mereka perlu belajar bahwa:
Berpikir positif melatih mereka untuk tetap kuat meski disalahpahami, tetap sabar meski dikhianati, dan tetap bersyukur meski diuji.
Peran Orang Tua dan Guru: Pendidik yang Menanam Cahaya
Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR. Bukhari-Muslim)
Kini, tantangannya bukan lagi soal agama semata, tapi juga cara berpikir dan sudut pandang hidup. Akankah anak-anak kita tumbuh dengan pikiran positif, sikap solutif, dan hati yang penuh iman? Atau justru menjadi generasi yang sinis, apatis, dan penuh kecemasan?
Di sinilah letak tanggung jawab orang tua, guru, dan masyarakat. Kita harus menjadi pendidik yang menyalakan cahaya, bukan memadamkan semangat. Kita harus menjadi penjaga taman jiwa anak, bukan penjaga tembok ketakutan.
Strategi Praktis: Cara Menanamkan Berpikir Positif pada Anak
Penutup: Mewariskan Peradaban Melalui Jiwa yang Cerah
Anak-anak bukan hanya generasi penerus, mereka adalah penentu arah peradaban. Dan peradaban tidak dibangun oleh kecerdasan semata, tetapi oleh jiwa-jiwa yang positif, sabar, dan percaya pada Rabb-nya.
Mari jadikan rumah-rumah kita tempat tumbuhnya anak-anak yang berpikir jernih, bersikap lembut, dan berhati luas. Karena dari jiwa mereka, akan lahir umat yang tangguh dalam iman dan bijak dalam kehidupan.
“Tanamlah pikiran yang baik dalam jiwa anak, niscaya kelak ia akan menumbuhkan pohon yang buahnya memberi naungan bagi dunia dan akhirat.”
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.