Ustadzfaqih • Jun 25 2025 • 52 Dilihat

“Meminta Hanya Kepada-Nya, dan Jangan Beramal Karena Dorongan Nafsu”
Renungan Sufi Bersama Sayyid Abdul Qadir al-Jailani
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
“Mintalah hanya kepada Allah, dan jangan engkau beramal karena dorongan nafsumu. Karena amal yang lahir dari nafsu tidak akan membawamu mendekat, justru menjauhkanmu dari Tuhanmu.”
— Sayyid Abdul Qadir al-Jailani, Futuhul Ghaib
Salah satu fondasi utama dalam ajaran tasawuf adalah kebergantungan total hanya kepada Allah. Sayyid Abdul Qadir al-Jailani dengan tegas melarang kita bergantung pada makhluk, sekalipun mereka tampak mampu memberi bantuan.
“Siapa yang menggantungkan hatinya kepada makhluk, maka hatinya akan tercabik dan jiwanya akan gundah. Tapi siapa yang hanya meminta kepada Allah, ia akan tenang dan cukup.”
Meminta hanya kepada-Nya adalah:
Al-Jailani menegaskan, ketika seorang hamba telah benar-benar bertauhid, maka ia akan:
Al-Jailani juga memperingatkan agar kita tidak beramal karena dorongan nafsu. Ini adalah nasihat yang sangat penting dan dalam, karena nafsu sangat pandai menyusup ke dalam ibadah — membuat kita shalat untuk dipuji, sedekah untuk dihormati, berdakwah untuk popularitas, atau bahkan berzikir untuk merasakan kelezatan spiritual duniawi.
“Amal yang dibangun atas dorongan nafsu akan melahirkan kesombongan, riya’, dan pengharapan kepada makhluk.”
— Futuhul Ghaib
Ciri-ciri amal karena nafsu:
Sebaliknya, amal yang lahir karena dorongan iman dan keikhlasan akan bersih, tenang, dan berkah. Orang yang beramal karena Allah:
“Amal orang yang ikhlas tidak akan pernah sia-sia. Walaupun tak diketahui manusia, ia dikenal oleh para malaikat dan diterima oleh Tuhan semesta alam.”
— Al-Jailani
Sayyid Abdul Qadir al-Jailani mengajarkan bahwa orang yang ingin dekat kepada Allah harus menegakkan dua prinsip:
Al-Jailani memberikan bimbingan untuk menyucikan amal:
“Siapa yang membersihkan niat dan hanya bergantung kepada Allah, maka dia akan menjadi wali Allah yang sejati. Ia tidak dikendalikan oleh dunia, dan dunia pun tunduk kepadanya.”
— Sayyid Abdul Qadir al-Jailani
Mintalah hanya kepada-Nya. Jangan beramal karena egomu. Bersihkan hati. Luruskan niat. Tinggalkan riya’. Lupakan dunia. Hanya Allah — hanya Dia.
Inilah jalan para wali, jalan orang-orang yang mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya. Jalan yang sepi, tapi terang. Jalan yang penuh ujian, tapi penuh cahaya.
Doa Penutup
“Ya Allah, ajarkan kami untuk hanya bergantung kepada-Mu. Bersihkan niat kami dari kotoran nafsu. Jadikan setiap amal kami semata-mata karena Engkau, dan terimalah amal kami meski penuh kekurangan.”
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.