Ustadzfaqih • Okt 22 2025 • 110 Dilihat

Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Al-Qur’an sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ mengandung petunjuk dan tujuan luhur bagi kehidupan manusia. Para ulama tafsir klasik menekankan bahwa maqāṣid al-Qur’an atau tujuan-tujuan Al-Qur’an tidak hanya berhenti pada dimensi hukum dan akidah, tetapi juga pada pembinaan akhlak, peradaban, dan kemanusiaan universal. Artikel ini mengkaji maqāṣid al-Qur’an melalui pendekatan tafsir klasik seperti Al-Ṭabari, Al-Qurṭubi, Ibn Kathir, dan Fakhruddin al-Razi, serta mengaitkannya dengan dua ayat penting: QS. Al-Kahfi: 110 dan QS. Fushshilat: 6. Kedua ayat tersebut menegaskan inti tujuan Al-Qur’an, yaitu tauhid, amal saleh, dan keikhlasan dalam ibadah. Kajian ini menunjukkan bahwa maqāṣid al-Qur’an adalah membangun manusia bertauhid yang beramal ikhlas, beradab, dan menjadi rahmat bagi alam semesta.
Kata Kunci: Maqāṣid al-Qur’an, Tafsir klasik, Tauhid, Amal saleh, Keikhlasan.
The Qur’an, as the word of God revealed to Prophet Muhammad ﷺ, contains divine guidance and lofty purposes for human life. Classical exegetes emphasize that the maqāṣid al-Qur’an (objectives of the Qur’an) go beyond the dimensions of law and creed to include moral formation, civilization building, and universal humanity. This article explores the maqāṣid al-Qur’an through classical exegeses such as those of al-Ṭabari, al-Qurṭubi, Ibn Kathir, and Fakhruddin al-Razi, while correlating them with two pivotal verses: Surah Al-Kahf (18:110) and Surah Fushshilat (41:6). Both verses encapsulate the essence of the Qur’an’s objectives—monotheism, righteous deeds, and sincerity. The study concludes that the Qur’an’s ultimate objective is to cultivate monotheistic, sincere, and ethical human beings who embody mercy for all creation.
Keywords: Maqāṣid al-Qur’an, Classical Tafsir, Monotheism, Righteous deeds, Sincerity.
Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan yang suci, melainkan pedoman hidup yang sarat dengan tujuan-tujuan luhur. Ia hadir bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk membentuk manusia yang mengenal Tuhannya, memahami hakikat dirinya, dan menegakkan keadilan di bumi. Dalam khazanah keilmuan Islam, para ulama menyebut tujuan-tujuan ilahiah ini dengan istilah maqāṣid al-Qur’an. Ibn ‘Ashur dalam At-Tahrir wa at-Tanwir menjelaskan bahwa setiap ayat Al-Qur’an mengandung ghayah (tujuan) dan hikmah (kebijaksanaan) yang mengantarkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Para ulama tafsir klasik memiliki pendekatan yang kaya dalam memahami tujuan-tujuan Al-Qur’an. Al-Ṭabari menekankan bahwa Al-Qur’an bertujuan mengokohkan keimanan kepada Allah dan mengingatkan manusia tentang hari akhir. Al-Qurṭubi menegaskan maqāṣid Al-Qur’an adalah hidayah syamilah — petunjuk menyeluruh bagi seluruh aspek kehidupan. Ibn Kathir menyoroti bahwa setiap ayat mengandung hikmah tarbiyah. Fakhruddin al-Razi menambahkan dimensi filosofis: Al-Qur’an berfungsi sebagai tazkiyah an-nafs dan ta‘lim al-‘aql.
Berikut ini penjelasan “Maqāṣid al-Qur’ān (Tujuan-tujuan Al-Qur’an)” menurut para ulama tafsir klasik, disertai landasan pemikiran, contoh, dan tokoh-tokohnya:
Secara bahasa, maqāṣid (مقاصد) berarti tujuan-tujuan, maksud, atau sasaran utama.
Sedangkan maqāṣid al-Qur’ān berarti tujuan-tujuan utama yang menjadi orientasi diturunkannya Al-Qur’an—yakni pesan pokok yang hendak dicapai Allah melalui wahyu-Nya kepada manusia.
Dalam istilah para ulama tafsir klasik, Maqāṣid al-Qur’ān mencakup:
“Al-ghāyāt wa al-ma‘ānī al-kulliyyah allatī yurīduhā Allāh min kitābihi li islāḥ al-insān wa al-‘ālam.”
(Tujuan-tujuan umum yang Allah kehendaki dari kitab-Nya untuk memperbaiki manusia dan dunia.)
Para mufasir klasik menafsirkan bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca atau dihafal, tetapi untuk menegakkan tatanan kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah. Berikut pandangan beberapa ulama besar:
Imam al-Ghazālī membagi kandungan Al-Qur’an menjadi dua maqāṣid besar:
Beliau menyimpulkan:
“Seluruh isi Al-Qur’an kembali pada dua hal: mengenal Allah dan menempuh jalan menuju-Nya.”
Ar-Rāzī menyebut bahwa maqāṣid utama Al-Qur’an ada lima, yaitu:
Menurut beliau, semua ayat Al-Qur’an dapat dikembalikan kepada lima pokok tersebut.
Ibn al-Qayyim menekankan bahwa maqāṣid Al-Qur’an adalah:
“Al-Qur’an datang untuk menghidupkan hati, memperbaiki akhlak, dan menegakkan keadilan.”
Ibn Kathīr memahami bahwa maqāṣid Al-Qur’an adalah pembimbing manusia agar beribadah kepada Allah semata, sebagaimana dalam QS. Adz-Dzāriyāt: 56.
Beliau menyebut tiga poros utama:
Al-Qurṭubī menegaskan bahwa tujuan Al-Qur’an adalah menegakkan kemaslahatan manusia melalui hukum, adab, dan akhlak.
“Tidak ada satu hukum pun dalam Al-Qur’an kecuali di dalamnya terdapat maslahat bagi agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.”
Pandangan ini sejalan dengan konsep maqāṣid al-syarī‘ah yang kelak dikembangkan oleh Imam Asy-Syāṭibī.
Asy-Syāṭibī menjelaskan bahwa maqāṣid Al-Qur’an dan maqāṣid as-syarī‘ah saling berkaitan:
Tujuan Al-Qur’an adalah mewujudkan kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat melalui penjagaan terhadap:
Secara ringkas, maqāṣid Al-Qur’an dapat dikelompokkan menjadi tiga dimensi besar:
| Dimensi | Tujuan Pokok | Contoh Ayat |
| Aqidah dan Tauhid | Menegakkan keesaan Allah dan iman kepada-Nya | QS. Al-Ikhlash, QS. Al-Baqarah: 255 |
| Syari‘ah dan Amal | Menuntun manusia hidup adil dan bermoral | QS. Al-Māidah: 8, QS. Al-Hujurat: 13 |
| Akhlaq dan Tazkiyah | Membersihkan jiwa dan membentuk karakter | QS. Asy-Syams: 9-10, QS. Al-A‘lā: 14-15 |
Para ulama tafsir klasik sepakat bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab hukum atau kisah sejarah, tetapi kitab hidayah yang menyinari seluruh aspek kehidupan manusia.
Tujuannya agar manusia:
“Mengetahui Tuhannya, mengenali dirinya, dan hidup dengan nilai-nilai ilahiyyah di dunia menuju kebahagiaan abadi di akhirat.”
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًۭا صَـٰلِحًۭا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۭا
“Katakanlah (Muhammad): Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Esa. Maka barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
— (QS. Al-Kahfi: 110)
Menurut Imam al-Ṭabarī, Ibn Kathīr, dan Fakhruddin ar-Rāzī, ayat ini merangkum maqāṣid besar Al-Qur’an dalam tiga pokok:
Kesimpulan Tafsir Klasik:
QS. Al-Kahfi: 110 adalah puncak maqāṣid Al-Qur’an — mengajarkan tauhid, amal saleh, dan ikhlas sebagai jalan menuju liqā’ Allāh (perjumpaan dengan Tuhan).
قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌۭ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ فَاسْتَقِيمُوٓا۟ إِلَيْهِ وَٱسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌۭ لِّلْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah (Muhammad): Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Esa. Maka tetaplah kamu pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan celakalah orang-orang yang mempersekutukan-Nya.”
— (QS. Fushshilat: 6)
Para mufasir seperti al-Baghawī, Ibn ‘Aṭiyyah, dan Asy-Syaukānī menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan fungsi kerasulan dan wahyu serta tujuan Al-Qur’an bagi kehidupan manusia.
Ada tiga tujuan utama yang tampak jelas:
Kesimpulan Tafsir Klasik:
QS. Fushshilat: 6 menunjukkan maqāṣid al-da‘wah al-Qur’āniyyah — menegakkan tauhid, membimbing kepada istiqamah, dan menyeru kepada taubat.
| Aspek Maqāṣid | QS. Al-Kahfi: 110 | QS. Fushshilat: 6 |
| Tauhid & Aqidah | Penegasan bahwa Tuhan hanyalah satu | Penegasan risalah dan keesaan Allah |
| Tazkiyah & Amal Saleh | Anjuran beramal saleh dan ikhlas | Seruan istiqamah dan istighfar |
| Hidayah & Da‘wah | Petunjuk menuju liqā’ Allāh | Seruan untuk mengikuti jalan yang lurus |
| Anti Syirik & Penyimpangan | Larangan mempersekutukan Allah | Ancaman bagi kaum musyrik |
Kedua ayat ini seolah menjadi penutup maknawi dari seluruh kandungan Al-Qur’an:
bahwa tujuan wahyu bukan sekadar pengetahuan, tetapi pembentukan manusia tauhidi —
yang mengenal Tuhannya, beramal saleh dengan ikhlas, dan hidup istiqamah dalam ampunan-Nya.
“Al-Qur’an turun untuk menegakkan tauhid, membersihkan hati, dan menuntun manusia menuju perjumpaan dengan Allah dengan wajah berseri dan hati yang selamat.”
— (Tafsiran Ibn al-Qayyim, Madarij as-Salikin)
Katakanlah (Muhammad): Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Esa. Maka barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya. Ayat ini menegaskan tiga tujuan utama Al-Qur’an: Tauhid, Amal Saleh, dan Ikhlas.
Katakanlah (Muhammad): Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; maka tetaplah pada jalan yang lurus kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan celakalah orang-orang yang mempersekutukan-Nya. Ayat ini memperkuat maqāṣid yang sama dengan nuansa yang lebih sosial dan spiritual.
Kedua ayat tersebut menampilkan harmoni maqāṣid Al-Qur’an yang indah: Tauhid sebagai fondasi keimanan, Amal saleh dan Istighfar sebagai wujud kesadaran moral, Keikhlasan dan Istiqamah sebagai penopang spiritualitas.
Dalam konteks kekinian, maqāṣid Al-Qur’an mengajak manusia modern untuk kembali menemukan makna hidup. Tauhid meneguhkan orientasi hidup yang jelas di tengah krisis identitas. Amal saleh menumbuhkan etika sosial di tengah hedonisme. Dan ikhlas membangun keseimbangan batin di tengah hiruk pikuk dunia digital.
Maqāṣid al-Qur’an merupakan jantung dari seluruh pesan ilahi. Menurut para ulama tafsir klasik, seluruh kandungan Al-Qur’an berpuncak pada tiga tujuan besar: tauhid, tazkiyah, dan tashri‘. QS. Al-Kahfi ayat 110 dan QS. Fushshilat ayat 6 menegaskan esensi itu melalui perintah untuk bertauhid, beramal saleh, beristighfar, dan beribadah dengan ikhlas.
Al-Qur’an al-Karim.
Al-Ṭabari, Abu Ja‘far. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Beirut: Dār al-Fikr, 2000.
Al-Qurṭubi, Abu ‘Abdullah. Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’an. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2006.
Ibn Kathir, Isma‘il. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999.
Fakhruddin al-Razi. Mafātih al-Ghaib. Beirut: Dār al-Fikr, 1981.
Al-Qaradawi, Yusuf. Kayfa Nata‘āmal ma‘a al-Qur’an al-‘Aẓīm. Kairo: Dār al-Syurūq, 2000.
Bintu Syathi’, Aisyah Abdurrahman. At-Tafsir al-Bayani lil-Qur’an al-Karim. Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1971.
Ibn ‘Ashur, Muhammad al-Ṭahir. At-Tahrir wa at-Tanwir. Tunis: Dār Sahnun, 1984.
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.