Ustadzfaqih • Agu 22 2025 • 63 Dilihat

Manusia pada Hakikatnya Baik: Inspirasi dari Humankind untuk Dunia yang Lebih Cerah
Selama berabad-abad, kita sering dicekoki narasi bahwa manusia pada dasarnya egois, kejam, dan serigala bagi sesamanya. Cerita-cerita perang, konflik, dan kejahatan diangkat berulang-ulang dalam sejarah dan media. Tak heran, banyak orang memandang dunia dengan rasa curiga dan ketakutan. Pertanyaannya: apakah benar sifat asli manusia memang jahat? Atau mungkinkah kita terlalu lama mempercayai mitos pesimistis ini?
Rutger Bregman, seorang sejarawan muda asal Belanda, menggugat asumsi lama itu melalui bukunya Humankind: A Hopeful History. Dengan riset sejarah, antropologi, dan psikologi sosial, ia menunjukkan bahwa kebaikan, empati, dan kerja sama justru adalah sifat dasar manusia. Artikel ini mengupas gagasan Bregman dan mengaitkannya dengan refleksi kehidupan kita, termasuk dari perspektif nilai-nilai Islam dan pengalaman bangsa Indonesia.
Bregman menekankan bahwa kebaikan adalah sifat alami manusia. Ini selaras dengan konsep fitrah dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Fitrah manusia cenderung kepada kebaikan. Al-Qur’an menegaskan:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)
Namun fitrah ini bisa ternodai oleh lingkungan, sistem yang tidak adil, dan prasangka buruk. Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah sistem sosial dan budaya yang mendukung kebaikan tersebut.
Thomas Hobbes menggambarkan kehidupan manusia alami sebagai brutal, “manusia serigala bagi manusia lain”. Namun Bregman dan banyak antropolog membantahnya. Sejarah menunjukkan masyarakat purba hidup saling membantu dan egaliter.
Dalam sejarah Islam pun kita menemukan bukti serupa: Rasulullah SAW membangun masyarakat Madinah di atas Piagam Madinah yang memuat prinsip persaudaraan lintas suku dan agama. Beliau menumbuhkan trust (kepercayaan), bukan fear (ketakutan).
Imam al-Ghazali berkata:
“Husnuzan (berprasangka baik) terhadap sesama mukmin adalah kewajiban, kecuali ada bukti nyata sebaliknya.” (Ihya Ulumuddin)
Sayangnya, di banyak negara modern, sistem politik dan ekonomi justru dibangun atas dasar ketidakpercayaan. Akibatnya, muncul budaya saling curiga, yang menumbuhkan egoisme.
Bregman membongkar kelemahan eksperimen-eksperimen yang selama ini jadi dasar pandangan pesimistis terhadap manusia: Milgram, Stanford Prison, hingga kisah Lord of the Flies. Dalam kenyataan, banyak orang justru menunjukkan empati dan menolak kekejaman.
Islam sejak awal mengingatkan bahwa manusia tidak boleh disamaratakan buruk. Allah berfirman:
“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Sejarah bangsa kita kaya dengan bukti nyata bahwa kebaikan manusia muncul dalam situasi sulit:
Ini menunjukkan bahwa dalam krisis, manusia bukan serigala, melainkan sahabat. Rasulullah SAW bersabda:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh; jika satu anggota sakit, seluruh tubuh merasakan sakitnya.” (HR. Muslim)
Jika kita percaya manusia dasarnya baik, kita akan membangun sistem yang mendukung munculnya kebaikan:
Bregman menekankan optimisme yang realistis: kebaikan manusia bisa berkembang jika diberi ruang. Ulama Islam juga menekankan hal serupa.
Ibnu Khaldun, bapak sosiologi Islam, menulis dalam Muqaddimah:
“Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Keberlangsungan hidup mereka bergantung pada kerja sama dan solidaritas.”
Pandangan ini memperkuat bahwa kejahatan bukan fitrah manusia, tapi akibat sistem dan hawa nafsu yang tidak dikendalikan.
Dunia modern dipenuhi berita negatif. Media lebih suka memberitakan kejahatan ketimbang kebaikan. Padahal, banyak kisah inspiratif di sekitar kita: relawan bencana, guru di pedalaman, anak muda yang mendirikan gerakan sosial.
Sebagai umat Islam, kita dipanggil untuk menulis ulang narasi tentang manusia. Allah berfirman:
“Berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ahmad)
Jika kita menanamkan narasi kebaikan ini dalam pendidikan, dakwah, media, dan kebijakan publik, umat akan bangkit dengan wajah yang ramah, bukan menyeramkan.
Refleksi untuk Kita:
Jawaban kita menentukan arah masa depan bangsa dan umat. Sebab ketika kita percaya manusia itu baik, kita ikut membentuk masyarakat yang lebih damai, adil, dan makmur.
Penutup
Buku Humankind mengajak kita percaya pada fitrah kebaikan manusia. Nilai ini selaras dengan ajaran Islam. Di tengah banyaknya narasi pesimis, kita perlu menyalakan lilin harapan. Optimisme ini bukan naif, tapi berbasis data, sejarah, dan wahyu.
Bangunlah sekolah yang penuh kasih, masjid yang menghidupkan empati, media yang menyebarkan inspirasi, dan kebijakan publik yang mempercayai rakyat. Itulah cara mewujudkan sabda Nabi: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)
Jika umat Islam di Indonesia mampu menulis narasi kebaikan ini, dunia akan melihat bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Dan dari negeri ini bisa lahir cahaya peradaban baru, berlandaskan iman dan optimisme terhadap fitrah kebaikan manusia.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.