Ustadzfaqih • Des 15 2024 • 223 Dilihat

Manfaat dari Asmaul Khusna menurut Ibnu Atha’illah as-Sakandari.
Menurut Ibnu Atha’illah as-Sakandari, seorang sufi besar dari Mesir yang terkenal melalui kitabnya Al-Hikam, Asmaul Husna memiliki manfaat yang sangat mendalam bagi spiritualitas seseorang. Beliau menekankan bahwa Asmaul Husna, atau nama-nama Allah yang indah, bukan sekadar untuk dihafal, tetapi harus menjadi sarana untuk memahami, mendekatkan diri, dan meneladani sifat-sifat Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut beberapa manfaat utama dari Asmaul Husna menurut pandangan Ibnu Atha’illah:
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Kesimpulan:
Ibnu Atha’illah mengajarkan bahwa Asmaul Husna bukan sekadar kumpulan nama, tetapi pintu menuju makrifatullah (pengenalan mendalam terhadap Allah). Dengan mempelajari, merenungkan, dan mengamalkannya, seseorang akan mendapatkan manfaat luar biasa, baik secara spiritual maupun dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini akan membawa ketenangan, kebahagiaan, dan kedekatan dengan Allah SWT.
Dzikir Asmaul Husna adalah obat bagi penyakit hati dan penyakit para salik yakni orang-orang yang melakukan perjalanan menuju hadirat Allah Yang Maha mengetahui hal Ghaib.
Â
Dzikir Asmaul Husna sebagai obat bagi penyakit hati dan sebagai penuntun bagi para salik (orang yang menempuh jalan menuju Allah) adalah konsep yang sering dijelaskan dalam tasawuf. Dalam pandangan tasawuf, Asmaul Husna (99 nama Allah yang indah) memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa, tidak hanya untuk menyucikan hati tetapi juga untuk membantu perjalanan ruhani seseorang dalam mencapai makrifatullah (pengenalan mendalam terhadap Allah).
Berikut penjelasan tentang manfaat dzikir Asmaul Husna bagi penyakit hati dan sebagai sarana bagi para salik:
Â
Penyakit hati seperti sombong, iri, dengki, tamak, atau cinta dunia sering menjadi penghalang bagi manusia untuk mendekat kepada Allah. Dzikir dengan Asmaul Husna menyucikan hati dari penyakit-penyakit ini.
Sifat-sifat seperti As-Salam (Maha Damai), Al-Mu’min (Maha Pemberi Keamanan), dan Al-Latif (Maha Lembut) memberikan ketenangan bagi jiwa yang gelisah.
Mengingat Allah sebagai Al-Mutakabbir (Yang Maha Besar) dan Al-Azim (Yang Maha Agung) membantu manusia untuk menyadari betapa kecil dirinya, sehingga menghilangkan rasa sombong.
Dzikir dengan nama Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) membantu seseorang untuk menyerahkan urusan dunia kepada Allah, mengurangi keserakahan, dan menguatkan rasa syukur.
Para salik memerlukan petunjuk dalam perjalanan spiritual mereka untuk mencapai hadirat Allah. Dzikir Asmaul Husna membantu mereka memahami hakikat Allah dan memperkuat langkah menuju tujuan tersebut.
Melalui dzikir Asmaul Husna, seorang salik memahami Allah sebagai Al-Awwal (Yang Awal) dan Al-Akhir (Yang Akhir), sehingga hatinya hanya bergantung pada Allah semata.
Para salik sering dihadapkan pada ujian berat dalam perjalanan spiritual mereka. Mengingat Allah sebagai Al-Hakim (Maha Bijaksana) dan As-Shabur (Maha Sabar) membantu mereka untuk bertahan dan melihat hikmah di balik ujian tersebut.
Dzikir Asmaul Husna adalah sarana untuk membuka basirah (mata hati), sehingga seorang salik dapat melihat dan memahami tanda-tanda kebesaran Allah dalam ciptaan-Nya.
Dengan menyebut nama Al-Alim (Maha Mengetahui) dan An-Nur (Cahaya), hati menjadi lebih peka terhadap kebenaran dan kebijaksanaan yang berasal dari Allah.
Dzikir dengan nama-nama seperti Al-Haqq (Yang Maha Benar) dan Al-Khaliq (Sang Pencipta) membantu para salik untuk menyingkirkan hijab duniawi yang menghalangi mereka dari makrifatullah.
Dzikir Asmaul Husna tidak hanya menghilangkan penyakit hati tetapi juga memperkuat hubungan spiritual dengan Allah. Para salik memanfaatkan dzikir ini untuk merasakan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan.
Menyebut nama Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang) menguatkan rasa cinta kepada Allah, sehingga hati seorang salik dipenuhi kasih sayang ilahi.
Nama Al-Jabbar (Maha Perkasa) mengajarkan rasa takut kepada kebesaran Allah, sementara nama Al-Ghaffar (Maha Pengampun) membangkitkan harapan untuk rahmat dan ampunan-Nya.
Para salik membutuhkan “energi ruhani” untuk melanjutkan perjalanan mereka, terutama saat menghadapi cobaan yang berat. Dzikir Asmaul Husna adalah sumber kekuatan spiritual yang tidak pernah habis.
Dengan mengingat Allah sebagai Al-Qadir (Maha Berkuasa) dan Al-Muqtadir (Yang Maha Menentukan), seorang salik percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah.
Dzikir dengan nama As-Samad (Yang Maha Bergantung) mengingatkan para salik bahwa hanya kepada Allah mereka bersandar dalam setiap langkah perjalanan spiritualnya.
Dzikir Asmaul Husna mengarahkan hati kepada kehadiran Allah yang selalu menyertai manusia. Ini penting bagi para salik yang berusaha merasakan hubungan langsung dengan Allah.
Nama-nama seperti Al-Basir (Maha Melihat) dan As-Sami’ (Maha Mendengar) membuat para salik selalu merasa diawasi oleh Allah, sehingga mendorong mereka untuk menjaga amal dan hati.
Kesimpulan:
Dzikir Asmaul Husna adalah sarana penyembuhan hati dan petunjuk bagi para salik dalam perjalanan menuju Allah. Dengan mengamalkan dzikir ini, hati menjadi bersih, jiwa semakin dekat kepada Allah, dan langkah spiritual para salik menjadi lebih mantap. Asmaul Husna bukan sekadar nama-nama yang indah, tetapi juga jembatan yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta dalam setiap aspek kehidupan.
( DR Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.