Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Makna Tauhid : Abaikan Apa Pun Selain Dia

    Jun 25 202557 Dilihat

    Makna Tauhid: Abaikan Apa pun Selain Dia

    Renungan Bersama Sayyid Abdul Qadir al-Jailani

    Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.

    1. Tauhid Bukan Hanya Ilmu, Tapi Pengosongan Hati

    Sebagian orang mengira tauhid hanya sebatas mengenal Allah secara rasional: meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah. Namun menurut para wali dan arifin seperti Sayyid Abdul Qadir al-Jailani, tauhid sejati adalah pengosongan hati dari segala sesuatu selain Allah.

    “Kamu tidak disebut orang yang bertauhid selama masih bergantung pada makhluk, mengharap selain Allah, dan takut kepada selain Dia.”
    Futuhul Ghaib

    Dalam bahasa lain, beliau mengatakan:
    “Tauhid itu mencabut akar ketergantungan pada makhluk dari hatimu, sampai hanya tersisa Allah.”

    Tauhid bukan hanya “mengucapkan” la ilaha illallah — tetapi membenamkan makna “tiada selain Allah” ke dalam setiap detak hati.

    1. Abaikan Apa pun Selain Dia: Sebuah Revolusi Spiritual

    Ketika al-Jailani berkata:

    “Abaikan apa pun selain Dia.”

    Beliau mengajak kita kepada inti tauhid, yaitu:

    • Mengabaikan pujian dan cacian makhluk.
    • Mengabaikan harta, jabatan, nama baik, dan dunia, jika itu menjauhkanmu dari Allah.
    • Mengabaikan logika duniawi, ketika perintah Allah sudah jelas.

    Ini bukan berarti menjadi manusia yang pasif atau antisosial. Justru ini adalah puncak kebebasan spiritual — ketika hati hanya tunduk kepada Allah, bukan kepada tekanan dunia, opini manusia, atau bujukan nafsu.

    “Orang yang bertauhid sejati akan tegar di hadapan musuh, tenang di tengah kesulitan, dan teguh di atas kebenaran, karena ia hanya melihat Allah.”
    — Sayyid Abdul Qadir al-Jailani

     

    1. Bentuk-bentuk “Selain Dia” yang Harus Diabaikan

    Apa yang dimaksud dengan “selain Dia” yang harus diabaikan?

    • Keakuan (ego) — merasa diri bisa tanpa Allah.
    • Rasa takut berlebihan — pada rezeki, kemiskinan, penyakit, yang membuat lupa kepada Rabb-nya.
    • Ketergantungan — pada manusia, sistem, uang, dan pujian.
    • Bisikan syahwat — yang membisikkan kesenangan sesaat sebagai kebahagiaan sejati.

    Al-Jailani mengingatkan:

    “Siapa yang bergantung kepada makhluk, dia akan dikecewakan. Tapi siapa yang bergantung kepada Allah, dia akan dimuliakan.”

    1. Bertauhid Artinya Melebur dalam Kehendak-Nya

    Al-Jailani juga menekankan bahwa tauhid sejati tidak cukup dengan meninggalkan yang haram, tapi juga meninggalkan kehendak diri jika bertentangan dengan kehendak Allah.

    “Kamu belum bertauhid sampai kehendakmu tidak mengalahkan kehendak Allah.”

    Ini adalah maqam yang tinggi — disebut sebagai fana’ fi al-tauhidmeleburnya kehendak pribadi dalam kehendak Ilahi. Orang seperti ini tidak marah ketika gagal, tidak sombong ketika berhasil, dan tidak gelisah ketika diuji. Ia hanya memikirkan: “Apa yang Allah inginkan dariku sekarang?”

     

    1. Buah dari Tauhid Sejati

    Jika seseorang mengabaikan segala selain Allah, dan hatinya lurus menuju-Nya, maka ia akan mendapat:

    • Keteguhan hati yang luar biasa.
    • Ketenangan jiwa bahkan di tengah badai.
    • Keberanian menghadapi hidup, karena ia tahu Allah bersamanya.
    • Kebeningan hati, sehingga doanya tembus ke langit.
    • Kehidupan yang bermakna, karena semua demi Allah.

    “Hamba yang sempurna adalah yang tidak melihat apa pun selain Allah, tidak berharap dari selain Allah, dan tidak takut kepada siapa pun kecuali Allah.”
    — Al-Jailani

     

    Penutup: Jalan Panjang Menuju Tauhid Hakiki

    Tauhid bukan hanya kalimat, tapi jalan hidup. Ia adalah latihan harian: melawan ego, menolak kesyirikan tersembunyi, dan terus membersihkan hati.

    Sayyid Abdul Qadir al-Jailani mengajak kita untuk:

    • Meluruskan tujuan hidup.
    • Membersihkan niat dalam ibadah dan aktivitas dunia.
    • Menguatkan keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya tempat kembali.

    “Jadilah orang yang jika semua makhluk menentangmu, kamu tetap tenang — karena hatimu hanya melihat Allah.”
    — Futuhul Ghaib

     

    Doa Penutup

    “Ya Allah, ajarkan kami makna tauhid sejati. Jauhkan kami dari ketergantungan kepada selain Engkau. Bersihkan hati kami dari syirik tersembunyi. Jadikan Engkau satu-satunya Tujuan, Harapan, dan Sandaran hidup kami.”

    Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

    ( Penulis, Pendidik dan Konsultan SDM. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top