Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Makna Kata Nafs ( Jiwa ) dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

    Feb 04 2025330 Dilihat

    Makna Kata Nafs (Jiwa) dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah

    Kata nafs (نفس) dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah memiliki berbagai makna tergantung pada konteks penggunaannya. Secara umum, nafs merujuk pada esensi diri manusia, mencakup aspek fisik, psikis, dan spiritual. Dalam Islam, konsep nafs berkaitan erat dengan karakter, perilaku, dan kondisi kejiwaan seseorang.

    1. Makna Nafs dalam Al-Qur’an

    Dalam Al-Qur’an, nafs memiliki beberapa makna tergantung pada ayat dan konteksnya:

    1. a) Nafs sebagai Diri atau Individu

    Dalam banyak ayat, kata nafs digunakan untuk merujuk pada diri manusia secara umum.
    “Setiap yang bernyawa (nafs) akan merasakan mati.”
    (QS. Ali Imran: 185)

    “Dan janganlah kamu membunuh jiwa (nafs) yang diharamkan Allah, kecuali dengan alasan yang benar.”
    (QS. Al-Isra: 33)

    Dalam konteks ini, nafs berarti individu atau manusia secara keseluruhan.

    1. b) Nafs sebagai Jiwa atau Ruh

    Allah juga menggunakan kata nafs untuk menunjukkan unsur ruhani dalam diri manusia.
    “Allah memegang jiwa (al-anfus) ketika kematiannya, dan (memegang) jiwa yang belum mati di waktu tidurnya.”
    (QS. Az-Zumar: 42)

    Ayat ini menunjukkan bahwa nafs bisa berarti ruh yang dikendalikan oleh Allah dalam kehidupan dan kematian.

    1. c) Nafs sebagai Aspek Kejiwaan yang Berjenjang

    Dalam Al-Qur’an, nafs memiliki tiga tingkatan berdasarkan kondisi kejiwaan manusia:

    1. Nafs al-Amarah bis Suu’ (Jiwa yang Mengajak pada Kejahatan)
      • Jiwa yang cenderung mengikuti hawa nafsu dan bisikan setan.
      • “Sesungguhnya jiwa (nafs) itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”
        (QS. Yusuf: 53)
    2. Nafs al-Lawwamah (Jiwa yang Mencela Diri Sendiri)
      • Jiwa yang memiliki kesadaran moral dan menyesali dosa, tetapi masih berjuang antara kebaikan dan keburukan.
      • “Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela (nafs al-lawwamah).”
        (QS. Al-Qiyamah: 2)
    3. Nafs al-Muthmainnah (Jiwa yang Tenang)
      • Jiwa yang telah mencapai ketenangan karena dekat dengan Allah dan selalu berbuat kebaikan.
      • “Hai jiwa yang tenang (nafs al-muthmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.”
        (QS. Al-Fajr: 27-28)
    1. Makna Nafs dalam As-Sunnah

    Dalam hadits, kata nafs juga digunakan dengan berbagai makna:

    1. a) Nafs sebagai Ruh atau Nyawa

    Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Ketika seseorang meninggal dunia, maka rohnya (nafs) naik ke langit…”
    (HR. Muslim)

    1. b) Nafs sebagai Hawa Nafsu atau Dorongan Diri

    Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Orang yang cerdas adalah yang menundukkan hawa nafsunya (nafs) dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.”
    (HR. Tirmidzi)

    1. c) Nafs sebagai Diri Manusia

    Rasulullah ﷺ berdoa:
    “Ya Allah, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku (nafs) dan sucikanlah ia, karena Engkaulah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya.”
    (HR. Muslim)

    Kesimpulan

    Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, nafs memiliki berbagai makna, di antaranya:

    1. Diri manusia secara umum (individu).
    2. Ruh atau nyawa yang diberikan oleh Allah.
    3. Hawa nafsu atau dorongan dalam diri manusia.
    4. Aspek kejiwaan dengan tiga tingkatan:
      • Nafs al-Amarah bis Suu’ (jiwa yang mengajak keburukan).
      • Nafs al-Lawwamah (jiwa yang mencela diri sendiri).
      • Nafs al-Muthmainnah (jiwa yang tenang).

    Pemahaman terhadap konsep nafs ini penting dalam psikologi Islam, karena berpengaruh pada cara manusia mengendalikan hawa nafsunya dan mencapai ketenangan jiwa melalui kedekatan dengan Allah.

     

    Al-Qur’an dan As-Sunnah Mengajak untuk Menjaga Nafs (Jiwa)

    Islam memberikan perhatian besar terhadap nafs (jiwa) dan mengajarkan manusia untuk menjaga, menyucikan, serta mengendalikannya agar selamat di dunia dan akhirat. Al-Qur’an dan As-Sunnah banyak mengandung ajakan serta tuntunan dalam menjaga nafs agar tetap dalam kebaikan.

    1. Perintah untuk Menjaga dan Menyucikan Nafs dalam Al-Qur’an

    Allah ﷻ menjelaskan bahwa keberuntungan manusia bergantung pada kemampuannya menjaga dan menyucikan jiwanya:

    “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya (nafs), dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”
    (QS. Asy-Syams: 9-10)

    Ayat ini menegaskan bahwa manusia harus menjaga nafs dari keburukan, seperti hawa nafsu yang merusak dan penyakit hati.

    “Dan janganlah kamu membunuh jiwa (nafs) yang diharamkan Allah (untuk dibunuh), kecuali dengan alasan yang benar.”
    (QS. Al-Isra’: 33)

    Ayat ini menunjukkan bahwa Allah melarang tindakan yang merusak jiwa, baik dalam bentuk pembunuhan, penyiksaan, maupun tindakan yang membahayakan diri sendiri.

     

    1. Menjaga Nafs dari Hawa Nafsu dan Dosa

    Islam mengajarkan manusia untuk mengendalikan hawa nafsunya agar tidak terjerumus ke dalam dosa dan kesesatan.

    “Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka surga adalah tempat tinggalnya.”
    (QS. An-Nazi’at: 40-41)

    Ayat ini mengajarkan bahwa keberhasilan manusia dalam menjaga nafs dari hawa nafsu akan membawa mereka ke surga.

    “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”
    (QS. Sad: 26)

    Allah memperingatkan bahwa mengikuti hawa nafsu secara berlebihan akan menjauhkan manusia dari kebenaran dan menyesatkannya.

     

    1. Hadis tentang Menjaga Nafs

    Rasulullah ﷺ juga memberikan banyak nasihat tentang menjaga dan mengendalikan nafs:

    Menjaga Nafs dari Hawa Nafsu
    “Tidaklah seorang di antara kalian beriman dengan sempurna hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (syariat Islam).”
    (HR. Al-Baghawi)

    Menjaga Nafs dengan Mengendalikan Amarah
    Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
    “Wahai Rasulullah, berilah aku nasihat!”
    Beliau bersabda: “Jangan marah.” (HR. Bukhari)

    Ini menunjukkan bahwa menjaga nafs dari kemarahan merupakan bagian dari menjaga kesehatan jiwa.

    Jihad Melawan Nafs
    Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Pejuang sejati adalah orang yang berjihad melawan dirinya sendiri (nafs) dalam menaati Allah.”
    (HR. Tirmidzi)

    Hadis ini menegaskan bahwa jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu yang mengajak kepada keburukan.

     

    1. Cara Menjaga dan Menyucikan Nafs dalam Islam

    Berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah, berikut adalah cara menjaga dan menyucikan nafs:

    1. Meningkatkan keimanan dan bertakwa kepada Allah
      • Senantiasa mengingat Allah dalam setiap aktivitas agar terhindar dari godaan nafs yang buruk.
    2. Menjalankan ibadah secara konsisten
      • Shalat, puasa, zikir, dan membaca Al-Qur’an membantu menyucikan jiwa dan menjaganya dari keburukan.
    3. Menjauhi hawa nafsu yang merusak
      • Mengendalikan syahwat, menghindari maksiat, serta tidak berlebihan dalam duniawi.
    4. Bersabar dan bersyukur dalam setiap keadaan
      • Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kesabaran adalah kunci utama dalam menjaga kestabilan jiwa.
    5. Menjaga hati dari penyakit hati
      • Iri, dengki, sombong, dan ujub adalah penyakit jiwa yang harus dijauhi agar nafs tetap bersih.

     

    Kesimpulan

    Al-Qur’an dan As-Sunnah mengajarkan manusia untuk menjaga nafs (jiwa) dari keburukan, menyucikannya, serta mengendalikannya agar selamat di dunia dan akhirat. Dengan meningkatkan keimanan, beribadah dengan konsisten, menjauhi hawa nafsu yang buruk, dan menjaga hati dari penyakit batin, seseorang dapat mencapai ketenangan jiwa dan kebahagiaan yang hakiki.

    Sebagaimana firman Allah:
    “Hai jiwa yang tenang (nafs al-muthmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.”
    (QS. Al-Fajr: 27-28)

    Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menjaga dan menyucikan jiwa agar mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Psikologi Islam UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top