Ustadzfaqih • Feb 04 2025 • 330 Dilihat

Makna Kata Nafs (Jiwa) dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah
Kata nafs (نفس) dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah memiliki berbagai makna tergantung pada konteks penggunaannya. Secara umum, nafs merujuk pada esensi diri manusia, mencakup aspek fisik, psikis, dan spiritual. Dalam Islam, konsep nafs berkaitan erat dengan karakter, perilaku, dan kondisi kejiwaan seseorang.
Dalam Al-Qur’an, nafs memiliki beberapa makna tergantung pada ayat dan konteksnya:
Dalam banyak ayat, kata nafs digunakan untuk merujuk pada diri manusia secara umum.
“Setiap yang bernyawa (nafs) akan merasakan mati.”
(QS. Ali Imran: 185)
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa (nafs) yang diharamkan Allah, kecuali dengan alasan yang benar.”
(QS. Al-Isra: 33)
Dalam konteks ini, nafs berarti individu atau manusia secara keseluruhan.
Allah juga menggunakan kata nafs untuk menunjukkan unsur ruhani dalam diri manusia.
“Allah memegang jiwa (al-anfus) ketika kematiannya, dan (memegang) jiwa yang belum mati di waktu tidurnya.”
(QS. Az-Zumar: 42)
Ayat ini menunjukkan bahwa nafs bisa berarti ruh yang dikendalikan oleh Allah dalam kehidupan dan kematian.
Dalam Al-Qur’an, nafs memiliki tiga tingkatan berdasarkan kondisi kejiwaan manusia:
Dalam hadits, kata nafs juga digunakan dengan berbagai makna:
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ketika seseorang meninggal dunia, maka rohnya (nafs) naik ke langit…”
(HR. Muslim)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang cerdas adalah yang menundukkan hawa nafsunya (nafs) dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.”
(HR. Tirmidzi)
Rasulullah ﷺ berdoa:
“Ya Allah, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku (nafs) dan sucikanlah ia, karena Engkaulah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya.”
(HR. Muslim)
Kesimpulan
Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, nafs memiliki berbagai makna, di antaranya:
Pemahaman terhadap konsep nafs ini penting dalam psikologi Islam, karena berpengaruh pada cara manusia mengendalikan hawa nafsunya dan mencapai ketenangan jiwa melalui kedekatan dengan Allah.
Al-Qur’an dan As-Sunnah Mengajak untuk Menjaga Nafs (Jiwa)
Islam memberikan perhatian besar terhadap nafs (jiwa) dan mengajarkan manusia untuk menjaga, menyucikan, serta mengendalikannya agar selamat di dunia dan akhirat. Al-Qur’an dan As-Sunnah banyak mengandung ajakan serta tuntunan dalam menjaga nafs agar tetap dalam kebaikan.
Allah ﷻ menjelaskan bahwa keberuntungan manusia bergantung pada kemampuannya menjaga dan menyucikan jiwanya:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya (nafs), dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams: 9-10)
Ayat ini menegaskan bahwa manusia harus menjaga nafs dari keburukan, seperti hawa nafsu yang merusak dan penyakit hati.
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa (nafs) yang diharamkan Allah (untuk dibunuh), kecuali dengan alasan yang benar.”
(QS. Al-Isra’: 33)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah melarang tindakan yang merusak jiwa, baik dalam bentuk pembunuhan, penyiksaan, maupun tindakan yang membahayakan diri sendiri.
Islam mengajarkan manusia untuk mengendalikan hawa nafsunya agar tidak terjerumus ke dalam dosa dan kesesatan.
“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka surga adalah tempat tinggalnya.”
(QS. An-Nazi’at: 40-41)
Ayat ini mengajarkan bahwa keberhasilan manusia dalam menjaga nafs dari hawa nafsu akan membawa mereka ke surga.
“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”
(QS. Sad: 26)
Allah memperingatkan bahwa mengikuti hawa nafsu secara berlebihan akan menjauhkan manusia dari kebenaran dan menyesatkannya.
Rasulullah ﷺ juga memberikan banyak nasihat tentang menjaga dan mengendalikan nafs:
Menjaga Nafs dari Hawa Nafsu
“Tidaklah seorang di antara kalian beriman dengan sempurna hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (syariat Islam).”
(HR. Al-Baghawi)
Menjaga Nafs dengan Mengendalikan Amarah
Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
“Wahai Rasulullah, berilah aku nasihat!”
Beliau bersabda: “Jangan marah.” (HR. Bukhari)
Ini menunjukkan bahwa menjaga nafs dari kemarahan merupakan bagian dari menjaga kesehatan jiwa.
Jihad Melawan Nafs
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Pejuang sejati adalah orang yang berjihad melawan dirinya sendiri (nafs) dalam menaati Allah.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu yang mengajak kepada keburukan.
Berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah, berikut adalah cara menjaga dan menyucikan nafs:
Kesimpulan
Al-Qur’an dan As-Sunnah mengajarkan manusia untuk menjaga nafs (jiwa) dari keburukan, menyucikannya, serta mengendalikannya agar selamat di dunia dan akhirat. Dengan meningkatkan keimanan, beribadah dengan konsisten, menjauhi hawa nafsu yang buruk, dan menjaga hati dari penyakit batin, seseorang dapat mencapai ketenangan jiwa dan kebahagiaan yang hakiki.
Sebagaimana firman Allah:
“Hai jiwa yang tenang (nafs al-muthmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.”
(QS. Al-Fajr: 27-28)
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menjaga dan menyucikan jiwa agar mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Psikologi Islam UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.