Ustadzfaqih • Des 03 2025 • 33 Dilihat

Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta
Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulang
Dalam kehidupan ini, banyak manusia yang merasa dirinya memiliki segalanya. Mereka berkata: “Ini rumahku, ini hartaku, ini tanahku, ini keluargaku.”
Namun sesungguhnya, kita bukan pemilik—kita hanyalah tamu.
Semua yang kita nikmati hari ini: usia, kesehatan, keluarga, kedudukan, dan harta—bukan milik kita. Itu semua titipan dari Allah, yang kelak pasti akan dikembalikan.
Allah berfirman:
وَآتُوهُم مِّن مَّالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ
“Berikanlah kepada mereka dari harta Allah yang Dia titipkan kepadamu.”
(QS. An-Nur: 33)
Perhatikan, Allah tidak mengatakan “harta kalian,” tetapi harta Allah yang Dia titipkan.
Seorang tamu tidak tinggal selamanya.
Seorang tamu tidak boleh sombong.
Seorang tamu tidak berhak memegang sesuatu seolah ia pemiliknya.
Nabi ﷺ bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara.”
(HR. Bukhari)
Maka jangan terlalu menetap—karena dunia bukan rumahmu.
Jangan terlalu melekat—karena semuanya akan dilepas.
Allah memberi harta bukan sebagai tanda mulia atau hina, tetapi sebagai ujian.
وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
“Kami uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.”
(QS. Al-Anbiya: 35)
Harta menjadi mulia jika dipakai untuk:
Tetapi harta menjadi fitnah jika membuat kita:
Jika harta membuat kita lupa shalat, lupa masjid, lupa akhirat—itu bukan rezeki, tetapi musibah yang disamarkan.
Istri adalah titipan.
Suami adalah titipan.
Anak-anak adalah titipan.
Orang tua pun titipan.
Karena itu:
Allah berfirman:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami pasti kembali.”
(QS. Al-Baqarah: 156)
Ayat ini tidak hanya dibaca saat musibah—tetapi untuk menyadarkan: semuanya milik Allah dan pasti kembali kepada-Nya.
Akan tiba satu hari—hari yang sudah pasti—di mana Allah mengambil kembali semua titipan itu.
Ada yang ditarik:
Saat itu kita sadar:
Gedung yang dibanggakan → bukan milikku.
Tabungan yang disimpan → tidak dibawa.
Kedudukan yang dibela mati-matian → tidak menyelamatkan.
Yang tersisa hanya:
Itulah bekal sesungguhnya.
Karena ia amanah, maka ia akan diuji, dihisab, dan dimintai pertanggungjawaban.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ
“Dua kaki seorang hamba tidak akan bergerak pada hari kiamat sebelum ia ditanya…”
(HR. Tirmidzi)
Pertanyaan itu termasuk:
Maka berbuatlah baik, sebelum kesempatan itu hilang.
Penutup: Jangan Mengikat Hati pada Titipan
Hiduplah dengan tanggung jawab, bukan ketergantungan.
Gunakan titipan dengan syukur, bukan kesombongan.
Rawat keluarga dengan cinta, bukan angkuh seolah mereka milikmu selamanya.
Karena pada akhirnya—kita akan pulang sendirian.
Doa
للَّهُمَّ اجْعَلْنَا أُمَنَاءَ عَلَى مَا اسْتَخْلَفْتَنَا فِيهِ، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخِتَامِ وَالْقُرْبَ مِنْكَ فِي الْجِنَانِ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
“Ya Allah, jadikanlah kami sebagai penjaga amanah terhadap apa yang Engkau titipkan kepada kami. Dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami, atau batas dari ilmu dan pemikiran kami. Dan karuniakan kepada kami akhir kehidupan yang terbaik, serta kedekatan dengan-Mu di dalam surga-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.”
Penjelasan Hikmah dari Doa Ini
Doa ini mengandung empat permohonan besar—empat pintu keselamatan:
“Jadikan kami penjaga amanah atas apa yang Engkau titipkan.”
Kalimat ini menyadarkan kita bahwa:
Ini adalah permintaan agar Allah menjadikan kita pengelola, bukan pemilik.
Orang yang merasa dirinya pemilik akan sombong.
Tapi orang yang sadar ia hanya diberi amanah akan takut berbuat salah dan ringan memberi.
“Jangan jadikan dunia sebagai fokus dan kekhawatiran terbesar kami.”
Karena sebagian manusia:
Namun dunia tidak pernah setia—dan tidak pernah cukup.
Jika dunia menjadi tujuan utama, maka hati akan gelisah, iri, kecewa, dan tidak tenang.
Namun jika akhirat menjadi orientasi, dunia menjadi kendaraan, bukan tuhan pengganti.
“Dan jangan jadikan dunia sebagai puncak ilmu kami.”
Artinya:
Jangan sampai ilmu yang kami cari hanya tentang:
Tapi jadikan kami orang yang:
Karena ilmu dunia berakhir di kuburan,
sementara ilmu iman menemani sampai akhirat.
“Karuniakan kami husnul khatimah dan kedekatan dengan-Mu di surga.”
Ini adalah permintaan terbesar:
bukan sekadar masuk surga, tetapi dekat dengan Allah, bersama para nabi, siddiqin, syuhada, dan orang saleh.
Karena hidup ini bukan tentang berapa lama kita hidup, tetapi tentang bagaimana kita mengakhiri hidup ini.
Ada orang penuh dosa tapi kembali kepada Allah dan wafat dalam taubat — maka ia mulia.
Ada orang penuh kebaikan tapi hatinya rusak di akhir — maka ia celaka.
Husnul khatimah adalah mahkota penyudah perjalanan iman.
Penutup Hikmah
Doa ini seperti kompas bagi kehidupan:
Jika seorang hamba mengamalkan makna doa ini, maka hatinya akan tenang, hidupnya terarah, dan ia akan mengumpulkan bahagia dunia dan mulia di akhirat.
Semoga Allah menjadikan doa ini hidup dalam hati dan nyata dalam amal.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT LIrboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
Filsafat Pendidikan Islam Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas: Membangun Kembali Peradaban yang Hi...
No comments yet.