Ustadzfaqih • Nov 14 2024 • 243 Dilihat

Keutamaan Sabar Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyah.
Ibnul Qayyim al-Jauziyah, seorang ulama besar dalam Islam, memberikan banyak penjelasan tentang keutamaan dan kedudukan sabar dalam karya-karyanya, terutama dalam kitabnya Madarij as-Salikin dan ‘Uddah ash-Shabirin wa Dhakhirah ash-Shakirin. Menurut Ibnul Qayyim, sabar memiliki posisi yang sangat tinggi dalam Islam dan merupakan akhlak yang penting dalam menjalani kehidupan sebagai seorang hamba Allah. Berikut adalah beberapa keutamaan sabar menurut Ibnul Qayyim:
Kesimpulan
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa sabar bukan hanya tentang menahan diri atau bersikap pasif, tetapi juga tentang berjuang dalam ketaatan dan menjalani takdir Allah dengan ikhlas. Sabar adalah akhlak mulia yang menguatkan hati, meningkatkan derajat iman, dan mendatangkan rahmat serta pertolongan dari Allah. Seseorang yang bersabar akan mencapai kebahagiaan sejati di dunia dan pahala yang abadi di akhirat.
Sabar terbagi menjadi tiga Tingkatan : Pertama. Meninggalkan nafsu ini tingkatan orang bertaubat. Kedua, Meridhai Takdir ini tingkatan orang zuhud. Ketiga, Mencintai semua ketentuan Allah ini tingkatan orang lurus.
Benar, menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyah, sabar dapat diklasifikasikan ke dalam tiga tingkatan yang menggambarkan level kedewasaan iman seseorang dalam menerima dan menjalani ketentuan Allah. Ketiga tingkatan sabar ini mencerminkan perjalanan ruhani seorang hamba, dari bertaubat, menjadi zuhud, hingga mencapai kelurusan hati yang mendalam. Berikut adalah rincian ketiga tingkatan tersebut:
Ini adalah tingkatan pertama dalam sabar, yaitu kemampuan untuk menahan diri dari mengikuti hawa nafsu yang mengajak pada keburukan dan maksiat. Orang yang berada pada tingkatan ini berusaha untuk mengendalikan keinginan-keinginan buruk dan menjauh dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Menurut Ibnul Qayyim, orang yang bersabar pada level ini adalah mereka yang telah melakukan taubat dan ingin kembali ke jalan yang benar, menjauhi godaan duniawi yang dapat merusak keimanan.
Di tingkatan ini, seorang hamba masih berjuang melawan godaan hawa nafsunya dan berusaha untuk tetap istiqamah. Sabar ini adalah bentuk jihad pribadi dalam melawan godaan, baik yang datang dari dalam dirinya sendiri maupun dari pengaruh lingkungan.
Tingkatan kedua adalah sabar dalam meridhai dan menerima takdir yang ditetapkan Allah. Orang yang berada pada tingkatan ini mampu menghadapi ujian dan cobaan hidup dengan hati yang ridha (ikhlas). Mereka tidak hanya sekadar menahan diri dari mengeluh, tetapi juga menerima dengan lapang dada setiap ketentuan Allah, baik yang berupa kenikmatan maupun kesulitan.
Pada tahap ini, seorang hamba telah mencapai sifat zuhud, yaitu tidak lagi terikat dengan dunia. Mereka memahami bahwa segala sesuatu adalah ketetapan Allah yang terbaik untuk mereka, sehingga mereka tidak merasa terbebani atau kecewa oleh keadaan duniawi. Ridha terhadap takdir membuat hati menjadi tenang dan menganggap setiap ujian sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Tingkatan tertinggi dalam sabar menurut Ibnul Qayyim adalah mencintai semua ketentuan Allah dengan sepenuh hati. Di sini, seorang hamba tidak hanya ridha terhadap takdir, tetapi juga mencapai tingkat kecintaan yang mendalam terhadap segala apa yang Allah kehendaki untuknya, baik itu ujian maupun anugerah. Orang yang mencapai tingkatan ini adalah mereka yang telah mencapai “istiqamah” atau kelurusan hati yang sempurna.
Di level ini, seorang hamba melihat segala sesuatu yang terjadi sebagai bentuk kasih sayang dan hikmah dari Allah. Mereka tidak memandang baik atau buruknya keadaan dari sisi dunia, tetapi dari hikmah ilahi yang Allah tanamkan di balik semua kejadian. Mencintai ketentuan Allah menunjukkan kedalaman iman dan kecintaan seseorang kepada-Nya, sehingga apapun yang terjadi pada dirinya dianggap sebagai anugerah yang indah.
Kesimpulan
Tiga tingkatan sabar ini menggambarkan perjalanan spiritual seorang mukmin dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dari bertaubat dan melawan hawa nafsu, kemudian mencapai ridha terhadap segala ketentuan Allah, hingga akhirnya mencintai ketentuan tersebut sebagai bagian dari kebesaran Allah. Semakin tinggi tingkatan sabar yang dimiliki seseorang, semakin dalam keimanannya dan semakin dekat ia dengan Allah. Ini adalah bentuk kesabaran yang mengarahkan seorang hamba kepada kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat.
( DR Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.