Ustadzfaqih • Apr 10 2025 • 72 Dilihat

Keutamaan Manusia adalah Aqalnya.
Benar sekali. Ungkapan “Keutamaan manusia adalah akalnya” menggambarkan bahwa yang membedakan manusia dari makhluk lainnya adalah akal atau kemampuan berpikirnya. Dengan akal, manusia bisa:
Dalam banyak tradisi filsafat dan agama, akal dianggap sebagai anugerah tertinggi yang diberikan kepada manusia. Bahkan dalam Islam misalnya, banyak ayat Al-Qur’an yang menyeru manusia untuk “berpikir”, “merenung”, dan “menggunakan akal”.
Manusia yang Paling Utama adalah Manusia yang berakal dalam Al-Quran
Ya, dalam Al-Qur’an, akal memiliki posisi yang sangat tinggi. Meskipun kata “akal” (عقل) sendiri dalam bentuk kata benda tidak sering muncul secara langsung, Al-Qur’an sangat sering menggunakan bentuk-bentuk kata kerja yang mengacu pada berpikir, memahami, dan merenung, seperti:
Berikut beberapa ayat yang menunjukkan keutamaan orang yang berakal:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya hanya orang yang berakal (Ulul Albab) yang dapat menerima pelajaran.”
Makna: Orang yang berilmu dan berakal memiliki kedudukan yang lebih tinggi karena merekalah yang dapat mengambil pelajaran dan hikmah.
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, dan barang siapa diberi hikmah, sungguh, dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.”
Makna: Hikmah (kebijaksanaan) adalah anugerah besar, dan hanya orang berakal yang bisa memanfaatkannya.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
Makna: Alam semesta menjadi bahan renungan bagi mereka yang berpikir—bukti bahwa akal adalah alat utama memahami tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Kesimpulan:
Manusia paling utama dalam pandangan Al-Qur’an adalah yang menggunakan akalnya untuk mencari kebenaran, mengenal Tuhan, dan berbuat kebajikan. Akal bukan sekadar alat berpikir, tapi juga tanggung jawab.
Ciri-ciri manusia yang disebut dalam AL-Quran Ulul Albab.
Pertanyaan yang bagus banget! Dalam Al-Qur’an, “Ulul Albab” (أُولُو الْأَلْبَابِ) adalah sebutan istimewa bagi orang-orang yang memiliki akal yang jernih, tajam, dan dipakai untuk merenung serta mendekat kepada Allah. Mereka ini bukan cuma cerdas intelektual, tapi juga cerdas spiritual dan moral.
Berikut ini adalah ciri-ciri Ulul Albab berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an:
Surah Ali Imran (3:191):
“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi…”
Ciri: Hati mereka selalu terhubung dengan Allah, zikir dalam semua kondisi.
Masih di Ali Imran (3:191):
“…seraya berkata: ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.'”
Ciri: Mereka suka berpikir dalam-dalam tentang alam, kehidupan, dan makna di balik ciptaan Allah.
Surah Az-Zumar (39:9):
“…Sesungguhnya hanya orang yang berakal (Ulul Albab) yang dapat menerima pelajaran.”
Ciri: Terbuka terhadap ilmu dan nasehat, bukan keras kepala atau sombong.
Ali Imran (3:191-194) menggambarkan doa mereka:
“…Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mendengar orang yang menyeru kepada iman… maka ampunilah dosa-dosa kami…”
Ciri: Hatinya lembut, sadar akan akhirat, dan selalu memohon ampun.
5. Berusaha Menjadi Orang Baik dalam Amal Perbuatan
Surah Az-Zumar (39:18):
“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, dan mereka itulah Ulul Albab.”
Ciri: Selektif dalam menerima informasi dan selalu memilih jalan terbaik, bukan ikut-ikutan.
Surah Ar-Ra’d (13:19-22):
“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan rezeki…”
Ciri: Konsisten, sabar, amanah, dan dermawan.
Kesimpulan:
Ulul Albab adalah pribadi yang seimbang: akalnya tajam, hatinya bersih, dan amalnya nyata. Mereka bukan hanya pintar, tapi bijak. Bukan hanya tahu, tapi paham. Dan bukan hanya paham, tapi bertindak.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.