Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Keutamaan Malam Lailatul Qadar

    Mar 11 202570 Dilihat

    Keutamaan Malam Lailatul Qadar Menurut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani

     

    Malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan dan lebih baik dari seribu bulan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qadr [97]: 1-3:

    إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٞ مِّنۡ

    “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.”

    Sobat. Terdapat empat tempat dalam Al-Qur’an yang menerangkan tentang turunnya Al-Quran  kepada Nabi saw yaitu:

    1. Dalam Surah al-Qadr.
    2. Dalam Surah ad-Dukhan, yaitu pada firman-Nya:

    حمٓ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡمُبِينِ إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةٖ مُّبَٰرَكَةٍۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ فِيهَا يُفۡرَقُ كُلُّ أَمۡرٍ حَكِيمٍ أَمۡرٗا مِّنۡ عِندِنَآۚ إِنَّا كُنَّا مُرۡسِلِينَ رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

     

    ha Mim. Demi Kitab (Al-Qur’an) yang jelas, sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan dari sisi Kami. Sungguh, Kamilah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (ad-Dukhan/44: 1-6)

     

    1. Dalam Surah al-Baqarah, yaitu pada firman-Nya:

    شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ

     

    Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). (al-Baqarah/2: 185)

     

    1. Dalam Surah al-Anfal, yaitu pada firman-Nya:

     

    Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil, (demikian) jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (al-Anfal/8: 41)

     

    Ayat Surah al-Qadr menyatakan bahwa turunnya Al-Qur’an dari Lauh Mahfudh ke Baitul-‘Izzah jelas pada malam Lailatul Qadr. Ayat Surah ad-Dukhan menguatkan turunnya Al-Qur’an pada malam yang diberkahi, ayat Surah al-Baqarah menunjukkan turunnya Al-Qur’an pada bulan Ramadan. Sedangkan Surah al-Anfal/8: 41 di atas menerangkan penyelesaian pembagian rampasan perang pada Perang Badar. Perang ini disebut yaumul-furqan karena merupakan pertempuran antara tentara Islam dengan tentara kafir, di mana kemenangan berada di tangan tentara Islam.

    Dalam ayat ini diungkapkan bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an pertama kali kepada Nabi saw pada malam yang mulia. Kemudian diturunkan terus-menerus secara berangsur-angsur menurut peristiwa dan suasana yang menghendakinya dalam jangka waktu dua puluh dua tahun lebih sebagai petunjuk bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti.

    Sehubungan dengan uraian di atas, para ulama mengatakan bahwa kata anzala dan nazzala berbeda penggunaan dan maknanya. Oleh sebab itu, makna anzalnahu dalam Surah al-Qadr menunjukkan turunnya kitab suci Al-Qur’an pertama kali dan sekaligus dari Lauh Mahfudh ke langit dunia. Kemudian diturunkan berangsur-angsur dari langit dunia kepada Nabi Muhammad, yang dibawa oleh Malaikat Jibril selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari. Sedangkan makna nazzala bermakna diturunkan berangsur-angsur.

    Tidak diragukan lagi bahwa manusia sangat memerlukan Al-Qur’an sebagai pedoman yang menjelaskan sesuatu yang mereka ragukan dalam hal-hal yang berhubungan dengan soal-soal keagamaan atau masalah-masalah duniawi. Al-Qur’an juga menerangkan kepada mereka kejadian manusia dan kejadian yang akan datang ketika datangnya hari kebangkitan.

    Manusia memerlukan pegangan tersebut karena tanpanya, mereka tidak dapat memahami prinsip-prinsip kemaslahatan yang sebenarnya untuk membentuk peraturan-peraturan dan undang-undang. Oleh sebab itu, benarlah pendapat yang menyatakan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama dan petunjuk rohani yang menentukan ukuran dan nilai sesuatu setelah mengetahui secara ilmiah keadaan dan khasiat sesuatu.

    Kemudian dalam ayat ini, Allah menyatakan keutamaan Lailatul-Qadr yang tidak dapat diketahui oleh para ulama dan ilmuwan, bagaimanapun tingginya ilmu pengetahuan mereka. Pengertian dan pengetahuan Nabi-Nya pun tidak sanggup menentukan kebesaran dan keutamaan malam itu. Hanya Allah yang mengetahui segala hal yang gaib, yang menciptakan alam semesta, yang mewujudkannya dari tidak ada menjadi ada.

    Pada ayat ini, Allah menerangkan keutamaan Lailatul-Qadr yang sebenarnya. Malam itu adalah suatu malam yang memancarkan cahaya hidayah sebagai permulaan tasyri’ yang diturunkan untuk kebahagiaan manusia. Malam itu juga sebagai peletakan batu pertama syariat Islam, sebagai agama penghabisan bagi umat manusia, yang sesuai dengan kemaslahatan mereka sepanjang zaman. Malam tersebut lebih utama dari seribu bulan yang mereka lalui dengan bergelimang dosa kemusyrikan dan kesesatan yang tidak berkesudahan. Ibadah pada malam itu mempunyai nilai tambah berupa kemuliaan dan ganjaran yang lebih baik dari ibadah seribu bulan

    Sebutan kata “seribu” dalam ayat ini tidak bermaksud untuk menentukan bilangannya. Akan tetapi, maksudnya untuk menyatakan banyaknya yang tidak terhingga sebagaimana yang dikehendaki dengan firman Allah:

     

    Masing-masing dari mereka ingin diberi umur seribu tahun. (al-Baqarah/2: 96).

     

    Apakah ada malam yang lebih mulia daripada malam yang padanya mulai diturunkan cahaya hidayah untuk manusia setelah berabad-abad lamanya mereka berada dalam kesesatan dan kekufuran? Apakah ada kemuliaan yang lebih agung daripada malam di mana cahaya purnama ilmu makrifah ketuhanan menerangi jiwa Muhammad saw yang diutus sebagai rahmat untuk seluruh manusia, menyampaikan berita gembira dan ancaman serta memanggil mereka ke jalan yang lurus, menjadikan mereka umat yang melepaskan manusia dari belenggu perbudakan dan penindasan penguasa yang zalim di timur dan barat, dan mempersatukan mereka sesudah berpecah-belah dan bermusuh-musuhan?

    Maka seyogyanya umat Islam menjadikan malam tersebut sebagai hari raya karena malam itu merupakan waktu turunnya undang-undang dasar samawi yang mengarahkan manusia ke arah yang bermanfaat bagi mereka. Penurunan ini juga memperbaharui janji mereka dengan Tuhan yang berhubungan dengan jiwa dan harta sebagai tanda syukur atas nikmat pemberian-Nya serta mengharapkan pahala balasan-Nya.

     

    Para ulama, termasuk Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, menjelaskan berbagai keutamaan malam ini dalam karya-karya mereka, terutama dalam kitab “Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq” dan “Futuhul Ghaib”.

     

    1. Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan dan Takdir

    Menurut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, Lailatul Qadar adalah malam di mana ketetapan takdir setahun ke depan ditentukan oleh Allah. Pada malam ini:

    • Rezeki, ajal, dan segala ketentuan hidup manusia ditetapkan.
    • Malaikat turun membawa rahmat dan keberkahan bagi hamba-hamba yang beribadah.

    Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani menyebutkan bahwa siapa yang benar-benar menghidupkan malam ini dengan ibadah dan hati yang bersih, maka kehidupannya akan penuh berkah dan keberlimpahan dalam urusan dunia dan akhirat.

     

    1. Lebih Baik dari Seribu Bulan

    Beliau menafsirkan bahwa ibadah yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar lebih baik daripada ibadah selama 83 tahun 4 bulan.

    • Satu rakaat sholat pada malam ini lebih berharga dibandingkan sholat sepanjang hidup seseorang.
    • Dzikir dan doa yang dipanjatkan pada malam ini memiliki bobot pahala yang luar biasa di sisi Allah.

    Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani juga menekankan pentingnya keikhlasan dalam beribadah, karena hanya orang yang benar-benar ikhlas yang akan mendapatkan rahasia dan keutamaan malam ini.

     

    1. Lailatul Qadar sebagai Malam Pembersihan Hati

    Dalam kitab “Futuhul Ghaib”, Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani mengajarkan bahwa:

    • Malam Lailatul Qadar bukan hanya tentang ibadah lahiriah, tetapi juga tentang kebersihan hati.
    • Orang yang hatinya dipenuhi kedengkian, kesombongan, dan kecintaan dunia sulit mendapatkan cahaya dan keberkahan malam ini.
    • Lailatul Qadar adalah saat Allah membukakan pintu rahmat dan ampunan bagi mereka yang benar-benar bertaubat dan kembali kepada-Nya dengan hati yang suci.

     

    1. Tanda dan Cara Meraih Lailatul Qadar

    Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani menjelaskan bahwa tanda-tanda malam Lailatul Qadar meliputi:
    ✅ Malam yang tenang dan damai.
    ✅ Suasana hati terasa khusyuk dan nyaman dalam ibadah.
    ✅ Udara terasa sejuk, tidak panas dan tidak terlalu dingin.
    ✅ Matahari terbit di pagi harinya dengan sinar yang lembut dan tidak menyilaukan.

    Untuk meraih keutamaannya, beliau menganjurkan:
    ✔️ Memperbanyak sholat tahajud dan dzikir.
    ✔️ Memohon ampunan dan rahmat Allah.
    ✔️ Memperbanyak istighfar dan membaca Al-Qur’an.
    ✔️ Bersedekah dan berbuat baik kepada sesama.
    ✔️ Meninggalkan maksiat dan memperbaiki niat dalam beribadah.

     

    Kesimpulan

    Menurut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, Lailatul Qadar adalah malam yang penuh rahasia dan keberkahan. Hanya mereka yang benar-benar bersungguh-sungguh dalam ibadah, membersihkan hati, dan mendekatkan diri kepada Allah yang akan merasakan keutamaannya. Oleh karena itu, hendaknya kita tidak hanya mengejar tanda-tanda lahiriahnya, tetapi juga mempersiapkan hati agar layak mendapatkan cahaya dan rahmat malam Lailatul Qadar.

    Semoga kita termasuk orang-orang yang meraihnya. Aamiin.

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top