Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Akademik
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Jeritan dari Dasar Neraka

    Mei 23 20264 Dilihat

    Jeritan dari Dasar Neraka

    Tafakur Dakwah Ideologis-Sufistik atas QS. Fatir Ayat 37

     

    Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ menghadirkan sebuah dialog menggetarkan dari penghuni neraka dalam Surah Fatir. Ayat ini bukan sekadar ancaman, tetapi panggilan langit agar manusia sadar sebelum semuanya terlambat.

    وَهُمۡ يَصۡطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا نَعۡمَلۡ صَٰلِحًا غَيۡرَ ٱلَّذِي كُنَّا نَعۡمَلُۚ أَوَ لَمۡ نُعَمِّرۡكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَآءَكُمُ ٱلنَّذِيرُۖ فَذُوقُواْ فَذُوقُواْ فَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِن نَّصِيرٍ

    “ Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” ( QS. Fatir  (35) : 37 )

     

    “Dan mereka berteriak di dalam neraka: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal saleh yang berbeda dari apa yang dahulu kami kerjakan.’ Allah berfirman: ‘Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan telah datang kepada kalian pemberi peringatan? Maka rasakanlah azab itu. Dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.’”

    Ayat ini menggambarkan tragedi terbesar manusia:
    bukan miskin harta,
    bukan kehilangan jabatan,
    tetapi terlambat sadar kepada Allah.

    Di neraka, manusia tidak meminta emas, kekuasaan, atau kemewahan dunia. Mereka hanya meminta satu hal:

    “Kembalikan kami ke dunia…”

    Karena di sana mereka baru memahami bahwa satu sujud yang ikhlas lebih mahal daripada seluruh isi bumi. Satu dzikir yang diterima Allah lebih bernilai daripada popularitas dunia. Dan satu air mata taubat lebih berharga daripada segala kemegahan kehidupan fana.

    Namun penyesalan di akhirat tidak lagi berguna.

     

    Dunia Modern dan Krisis Ruhani

    Hari ini manusia hidup di tengah kemajuan peradaban yang luar biasa. Teknologi berkembang cepat. Informasi mengalir tanpa batas. Dunia terasa semakin dekat dalam genggaman.

    Tetapi di balik semua itu, manusia modern mengalami krisis ruhani yang sangat dalam.

    Banyak manusia memiliki:

    • rumah besar tetapi hati sempit,
    • jabatan tinggi tetapi jiwa kosong,
    • kekayaan melimpah tetapi hidup tanpa ketenangan,
    • ribuan pengikut tetapi kehilangan arah hidup.

    Manusia modern sibuk membangun dunia, namun lupa membangun akhirat.

    Inilah penyakit besar zaman ini:

    manusia kehilangan orientasi menuju Allah.

    Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa hati manusia tidak akan pernah tenang kecuali dengan mengingat Allah. Dunia tidak akan mampu mengenyangkan ruh. Sebab ruh berasal dari langit dan hanya akan hidup dengan cahaya ilahi.

    Karena itu, sehebat apa pun pencapaian dunia, jika hati jauh dari Allah maka hidup tetap terasa gelap.

     

    Umur adalah Amanah, Bukan Sekadar Angka

    Allah bertanya:

    “Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu?”

    Ini adalah pertanyaan yang sangat dalam.

    Setiap manusia diberi umur yang cukup untuk:

    • berpikir,
    • belajar,
    • memperbaiki diri,
    • dan kembali kepada Allah.

    Namun banyak manusia hidup seolah-olah kematian tidak akan datang.

    Padahal:

    • rambut mulai memutih,
    • tubuh mulai melemah,
    • teman satu generasi mulai wafat,
    • dan kuburan terus bertambah.

    Semua itu adalah “peringatan” dari Allah.

    Al-Qurthubi menjelaskan bahwa “an-nadzir” dalam ayat ini bukan hanya nabi dan ulama, tetapi juga uban dan usia tua yang menjadi alarm kematian bagi manusia.

    Ironisnya, manusia sering lebih takut kehilangan uang daripada kehilangan iman. Lebih khawatir kehilangan jabatan daripada kehilangan hidayah.

     

    Dakwah yang Membangunkan, Bukan Meninabobokan

    Ayat ini mengajarkan bahwa dakwah Islam bukan hanya hiburan spiritual, tetapi peringatan ideologis yang mengguncang hati manusia agar bangun dari kelalaian.

    Nabi Muhammad tidak diutus sekadar untuk menghibur manusia, tetapi untuk:

    • menghancurkan kesyirikan,
    • membersihkan hati,
    • membangun tauhid,
    • dan menegakkan keadilan.

    Karena itu dakwah sejati selalu mengandung:

    • cahaya ilmu,
    • sentuhan ruhani,
    • keberanian moral,
    • dan kesadaran akhirat.

    Hari ini umat membutuhkan dakwah yang:

    • menghidupkan hati,
    • membangunkan jiwa,
    • menumbuhkan cinta kepada Allah,
    • dan mengembalikan manusia kepada Al-Qur’an.

    Bukan dakwah yang hanya mengejar popularitas dan tepuk tangan manusia.

     

    Lalai: Penyakit Paling Berbahaya

    Musuh terbesar manusia bukan sekadar kemiskinan, tetapi kelalaian.

    Lalai membuat manusia:

    • menunda taubat,
    • meremehkan dosa,
    • meninggalkan shalat,
    • jauh dari Al-Qur’an,
    • dan lupa bahwa kematian semakin dekat.

    Padahal kubur tidak menunggu tua.

    Banyak anak muda meninggal sebelum lansia. Banyak orang sehat wafat mendadak. Banyak manusia tidur malam tetapi tidak bangun pagi.

    Karena itu para ulama salaf hidup dengan kesadaran akhirat yang sangat tinggi.

    Mereka takut terhadap:

    • hati yang keras,
    • amal yang ditolak,
    • dan kehidupan yang jauh dari Allah.

    Mereka menangis bukan karena sedikitnya dunia, tetapi karena sedikitnya amal saleh.

     

    Tasawuf Sejati: Membersihkan Hati Menuju Allah

    Jalan sufistik yang benar bukan melarikan diri dari dunia, tetapi membersihkan hati agar dunia tidak menguasai jiwa.

    Tasawuf sejati adalah:

    • meluruskan niat,
    • memerangi hawa nafsu,
    • menghidupkan dzikir,
    • memperbanyak muhasabah,
    • dan menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas.

    Seseorang boleh menjadi:

    • pedagang,
    • akademisi,
    • pejabat,
    • pengusaha,
    • atau pemimpin,

    tetapi hatinya tetap tunduk kepada Allah.

    Inilah kemerdekaan ruhani:

    dunia berada di tangan, bukan di hati.

    Sayyid Abdul Qadir al-Jailani pernah berkata:

    “Jangan jadikan dunia sebagai tujuan, tetapi jadikan ia kendaraan menuju Allah.”

     

    Tanda-Tanda Hati yang Mulai Hidup

    Ketika Allah mulai memberi cahaya hidayah kepada seorang hamba, biasanya ia mulai:

    • mencintai shalat,
    • menikmati membaca Al-Qur’an,
    • mudah tersentuh oleh nasihat,
    • takut berbuat zalim,
    • dan sering mengingat kematian.

    Ia tidak lagi terlalu haus pujian manusia.

    Karena yang paling ia cari adalah ridha Allah.

    Ia sadar bahwa hidup bukan sekadar:

    • makan,
    • bekerja,
    • mencari uang,
    • dan mengejar status sosial.

    Tetapi perjalanan menuju perjumpaan dengan Rabb semesta alam.

     

    Seruan untuk Umat Islam

    Wahai umat Islam…

    Jangan tunggu sakit untuk bertobat.
    Jangan tunggu tua untuk mendekat kepada Allah.
    Jangan tunggu kematian orang terdekat baru sadar tentang akhirat.

    Karena hidup ini sangat singkat.

    Mari kembali:

    • menghidupkan shalat berjamaah,
    • mencintai majelis ilmu,
    • memperbanyak dzikir,
    • memperkuat ukhuwah,
    • mendidik keluarga dengan Al-Qur’an,
    • dan memperjuangkan nilai-nilai Islam dengan hikmah dan ketulusan.

    Jangan sampai kelak kita termasuk manusia yang menjerit di neraka:

    “Ya Allah, kembalikan kami…”

    Namun waktu telah habis dan pintu amal telah ditutup.

     

    Penutup

    QS. Fatir ayat 37 adalah suara akhirat yang Allah perdengarkan kepada manusia sebelum datang hari penyesalan.

    Ayat ini mengingatkan bahwa:

    • umur adalah amanah,
    • dunia adalah ujian,
    • kematian adalah kepastian,
    • dan akhirat adalah tujuan akhir perjalanan manusia.

    Orang cerdas bukanlah yang paling kaya,
    tetapi yang paling siap menghadap Allah.

    Semoga Allah ﷻ melembutkan hati kita, membimbing langkah kita menuju jalan-Nya, menghidupkan ruh kita dengan cahaya iman, dan menjadikan akhir hidup kita husnul khatimah.

    Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Ukuran Sukses Sejati adalah Bahagia yang...

    by Mei 23 2026

    Ukuran Sukses Sejati adalah Bahagia yang Dirasakan Hati Banyak manusia mengukur sukses dari apa yang...

    Syukur, Pikiran, dan Jalan Cahaya Kehidu...

    by Mei 23 2026

    Syukur, Pikiran, dan Jalan Cahaya Kehidupan. Dakwah Motivasi Spiritual untuk Menata Hati dan Masa De...

    Melampaui Keyakinan Menuju Ketenteram...

    by Mei 23 2026

    Melampaui Keyakinan Menuju Ketenteraman. Tafakur Sufistik atas Dialog Agung Nabi Ibrahim AS dalam Al...

    Jangan Mengharap ” Terima Kasih...

    by Mei 21 2026

    Jangan Mengharap “Terima Kasih” dari Manusia. Berbuat Baiklah Karena Allah, Bukan Karena Pujian ...

    Empat Tahap Sukses Berpidato.

    by Mei 19 2026

    Empat Tahap Sukses Berpidato atau Berceramah. Berpidato atau berceramah bukan sekadar berbicara di d...

    Dolar Naik, Rakyat Menjerit.

    by Mei 18 2026

    Dolar Naik, Rakyat Menjerit. Dakwah Ideologis-Sufistik tentang Empati Pemimpin dan Derita Wong Cilik...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top