Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Akademik
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Jangan Mengharap ” Terima Kasih” dari Manusia.

    Mei 21 20267 Dilihat

    Jangan Mengharap “Terima Kasih” dari Manusia.
    Berbuat Baiklah Karena Allah, Bukan Karena Pujian

    Dalam perjalanan hidup, salah satu luka paling menyakitkan adalah ketika kebaikan yang kita berikan justru dibalas dengan pengingkaran, hinaan, bahkan permusuhan. Banyak orang yang telah mengorbankan tenaga, waktu, pikiran, harta, bahkan air mata demi membantu orang lain, tetapi pada akhirnya justru dilupakan, diremehkan, atau disakiti oleh orang yang pernah mereka tolong.
    Namun sesungguhnya, itulah tabiat sebagian manusia yang telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Manusia sering lupa nikmat, mudah mengingkari jasa, dan cepat berubah ketika kepentingannya telah terpenuhi. Karena itu, seorang mukmin tidak boleh menggantungkan kebahagiaannya pada ucapan “terima kasih” manusia.
    Allah ﷻ berfirman:
    “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih.”
    (QS. Al-Insan: 9)
    Ayat ini mengajarkan sebuah fondasi keikhlasan yang agung: berbuat baik semata-mata karena Allah. Bukan demi pujian, penghormatan, balas jasa, popularitas, atau pengakuan manusia.

    Penyakit Lama Bernama Kufur Nikmat
    Salah satu penyakit paling tua dalam sejarah manusia adalah kufur nikmat. Allah memberi kehidupan, kesehatan, rezeki, udara, air, dan kasih sayang tanpa batas, tetapi banyak manusia justru melupakan-Nya. Maka jangan heran jika manusia juga sering melupakan jasa sesamanya.
    Orang tua membesarkan anak dengan penuh pengorbanan. Mereka rela lapar agar anak kenyang, rela tidak tidur demi masa depan anak, rela bekerja keras agar anak bisa sekolah tinggi. Namun ketika anak telah dewasa, sebagian berubah menjadi keras hati, sombong, bahkan durhaka kepada orang tuanya sendiri.
    Itulah gambaran betapa lemahnya hati manusia ketika jauh dari iman dan syukur.
    Karena itu, bila suatu hari Anda membantu seseorang lalu ia melupakan jasa Anda, jangan terlalu terkejut. Bila Anda menolong seseorang lalu ia membalas dengan keburukan, jangan biarkan hati Anda hancur. Sebab hakikatnya, Anda sedang bertransaksi dengan Allah, bukan dengan manusia.

    Keikhlasan Adalah Kemerdekaan Jiwa
    Orang yang berbuat baik karena manusia akan mudah kecewa. Tetapi orang yang berbuat baik karena Allah akan tetap tenang meski dicaci, diabaikan, atau dilupakan.
    Keikhlasan membuat hati merdeka.
    Ia tidak bergantung pada penilaian manusia. Ia tidak hidup demi tepuk tangan. Ia tidak mati karena hinaan. Ia sadar bahwa pahala terbaik bukan berada di tangan manusia, melainkan di sisi Allah Yang Maha Kaya.
    Betapa banyak orang menjadi sedih hanya karena tidak dihargai. Padahal, penghargaan manusia itu sangat berubah-ubah. Hari ini dipuji, besok dicela. Hari ini dibutuhkan, besok dilupakan.
    Sedangkan Allah tidak pernah lupa satu pun amal hamba-Nya.
    Bahkan setetes air mata karena keikhlasan, sepotong roti yang diberikan kepada orang lapar, atau doa yang dipanjatkan dalam kesendirian, semuanya tercatat dengan sempurna di sisi-Nya.

    Jangan Berhenti Menjadi Orang Baik
    Ketika dikhianati, sebagian orang berkata:
    “Aku kapok berbuat baik!”
    Kalimat ini lahir karena kebaikannya masih bergantung pada balasan manusia. Padahal seorang mukmin sejati tetap berbuat baik meski disakiti. Tetap menolong meski dilupakan. Tetap memberi meski tidak dihargai.
    Mengapa?
    Karena sumber kebaikannya bukan manusia, tetapi iman.
    Matahari tetap bersinar meski banyak manusia tidak bersyukur atas cahayanya. Awan tetap menurunkan hujan meski sebagian manusia bermaksiat di bumi Allah. Pohon tetap memberi buah meski dilempari batu.
    Begitulah semestinya seorang mukmin:
    tetap memberi manfaat karena Allah.

    Kebaikan Tidak Pernah Sia-Sia
    Tidak ada satu pun amal baik yang hilang.
    Jika manusia melupakan, Allah mengingat.
    Jika manusia tidak membalas, Allah menyiapkan balasan yang jauh lebih besar.
    Jika manusia menyakiti, Allah melihat semuanya.
    Allah ﷻ berfirman:
    “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
    (QS. Az-Zalzalah: 7)
    Karena itu, jangan pernah menyesal menjadi orang baik. Jangan biarkan keburukan manusia memadamkan cahaya iman dalam hati Anda.
    Tetaplah menjadi penolong.
    Tetaplah menjadi penyabar.
    Tetaplah menjadi pemaaf.
    Tetaplah menjadi orang yang bermanfaat.
    Sebab kemuliaan seorang mukmin bukan terletak pada seberapa besar ia dihargai manusia, tetapi pada seberapa ikhlas ia di hadapan Allah.

    Dakwah Sufistik: Membersihkan Hati dari Ketergantungan kepada Manusia
    Dalam perjalanan ruhani, para ulama tasawuf mengajarkan bahwa salah satu hijab terbesar antara manusia dan Allah adalah ketergantungan hati kepada makhluk.
    Selama hati masih haus pujian manusia, maka ia akan mudah terluka.
    Selama hati masih mengharap penghargaan manusia, maka ia akan mudah kecewa.
    Selama amal masih menunggu ucapan “terima kasih”, maka keikhlasan belum sempurna.
    Seorang arif billah berkata:
    “Beramallah untuk Allah. Sebab manusia itu berubah, sedangkan Allah tidak pernah berubah.”
    Orang yang ikhlas akan tetap tenang meski dicela. Sebab yang ia cari bukan penilaian manusia, tetapi ridha Allah.
    Ia sadar:
    bahwa manusia hanyalah makhluk lemah yang hatinya mudah berubah,
    sedangkan Allah adalah Dzat Yang Maha Adil dan tidak pernah menyia-nyiakan amal hamba-Nya.

    Penutup
    Jangan kecewa bila kebaikanmu dilupakan manusia.
    Jangan sedih bila pengorbananmu tidak dihargai.
    Jangan berhenti menjadi baik hanya karena manusia tidak tahu berterima kasih.
    Tetaplah berbuat baik.
    Tetaplah menebar manfaat.
    Tetaplah ikhlas.
    Karena pada akhirnya, bukan manusia yang menentukan nilai amalmu, tetapi Allah ﷻ.
    Dan ketahuilah:
    orang yang paling tenang hidupnya adalah orang yang hanya mengharap ridha Allah, bukan pujian manusia.

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Ukuran Sukses Sejati adalah Bahagia yang...

    by Mei 23 2026

    Ukuran Sukses Sejati adalah Bahagia yang Dirasakan Hati Banyak manusia mengukur sukses dari apa yang...

    Syukur, Pikiran, dan Jalan Cahaya Kehidu...

    by Mei 23 2026

    Syukur, Pikiran, dan Jalan Cahaya Kehidupan. Dakwah Motivasi Spiritual untuk Menata Hati dan Masa De...

    Melampaui Keyakinan Menuju Ketenteram...

    by Mei 23 2026

    Melampaui Keyakinan Menuju Ketenteraman. Tafakur Sufistik atas Dialog Agung Nabi Ibrahim AS dalam Al...

    Jeritan dari Dasar Neraka

    by Mei 23 2026

    Jeritan dari Dasar Neraka Tafakur Dakwah Ideologis-Sufistik atas QS. Fatir Ayat 37   Dalam Al-Qur&#...

    Empat Tahap Sukses Berpidato.

    by Mei 19 2026

    Empat Tahap Sukses Berpidato atau Berceramah. Berpidato atau berceramah bukan sekadar berbicara di d...

    Dolar Naik, Rakyat Menjerit.

    by Mei 18 2026

    Dolar Naik, Rakyat Menjerit. Dakwah Ideologis-Sufistik tentang Empati Pemimpin dan Derita Wong Cilik...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top