Ustadzfaqih • Agu 19 2025 • 79 Dilihat

Jagalah Tujuh Anggota Tubuhmu
Nasehat Sayid Abu Bakar Syatha dalam Kifayatul Atqiya’
Sayid Abu Bakar bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi, seorang ulama besar dari Makkah yang menulis banyak kitab penting, dalam karyanya Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Ashfiya’ menekankan pentingnya menjaga tujuh anggota tubuh manusia dari perbuatan dosa. Sebab anggota tubuh adalah amanah dari Allah yang kelak akan menjadi saksi atas perbuatan kita di hari kiamat.
Allah ﷻ berfirman:
يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ
“Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS. An-Nur: 24)
Dan juga:
ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيهِمۡ وَتَشۡهَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka berbicara kepada Kami, dan kaki mereka menjadi saksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS. Yasin: 65)
Maka, seorang salik (penempuh jalan Allah) hendaknya senantiasa menjaga dirinya. Menurut Sayid Abu Bakar Syatha, ada tujuh anggota tubuh yang wajib dijaga:
Mata adalah jendela hati. Apa yang kita lihat akan memengaruhi kebersihan batin. Jangan gunakan mata untuk melihat sesuatu yang diharamkan atau melalaikan dari Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Pandangan adalah salah satu panah beracun dari panah-panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan iman yang manisnya akan ia rasakan dalam hatinya.”
(HR. Hakim)
Refleksi: Pandangan yang dijaga akan menjadikan hati bersih dan mudah merasakan nikmatnya ibadah.
Telinga adalah jalan ilmu, namun juga bisa menjadi jalan dosa jika mendengar ghibah, fitnah, atau hal-hal sia-sia.
Allah ﷻ mengingatkan:
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isra’: 36)
Refleksi: Seorang yang menjaga telinganya hanya untuk mendengar Al-Qur’an, dzikir, nasihat ulama, dan kata-kata baik akan mendapat cahaya di hatinya.
Lidah bisa menjadi sebab keselamatan, bisa juga menjadi sebab kebinasaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam tasawuf, menjaga lidah termasuk maqam utama, sebab lidah adalah cermin hati.
Refleksi: Lidah yang dijaga dari ghibah, fitnah, dusta, dan kata-kata kasar akan mendatangkan ketenangan jiwa.
Perut adalah pintu masuk halal dan haram. Makanan yang haram akan menggelapkan hati dan menghalangi doa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap daging yang tumbuh dari makanan haram, maka neraka lebih layak baginya.”
(HR. Tirmidzi)
Refleksi: Hati yang bersih lahir dari perut yang dijaga. Orang saleh hanya makan yang halal, secukupnya, dan berniat ibadah dengan makanan itu.
Menjaga kehormatan diri adalah tanda ketakwaan.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”
(QS. Al-Mu’minun: 5–7)
Refleksi: Menjaga kemaluan adalah benteng akhlak mulia dan syarat kebersihan ruhani.
Tangan digunakan untuk beramal. Jangan sampai digunakan untuk mengambil yang haram, menyakiti orang lain, atau menulis hal yang batil.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seorang muslim adalah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Refleksi: Tangan yang dipakai untuk menolong, bersedekah, dan berbuat baik akan menjadi cahaya di hari kiamat.
Kaki membawa manusia menuju kebaikan atau keburukan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, serta tubuhnya untuk apa ia gunakan.”
(HR. Tirmidzi)
Refleksi: Kaki yang diarahkan ke masjid, majelis ilmu, dan jalan kebaikan akan menjadi saksi kebahagiaan kelak.
Penutup
Sayid Abu Bakar Syatha melalui Kifayatul Atqiya’ menegaskan bahwa jalan menuju Allah bukan hanya dzikir dan wirid, tetapi juga menjaga anggota tubuh dari dosa. Seorang salik yang ingin meraih maqam wali Allah harus terlebih dahulu mensucikan dirinya dari dosa-dosa anggota badan.
Imam Junaid al-Baghdadi berkata:
“Tasawuf adalah engkau bersama Allah tanpa adanya sesuatu yang lain dalam hatimu.”
Dan hal itu tidak mungkin dicapai kecuali dengan membersihkan anggota tubuh dari maksiat.
Inspirasi untuk kita:
Jagalah matamu, telingamu, lidahmu, perutmu, kemaluanmu, tanganmu, dan kakimu. Jika tujuh anggota tubuhmu selamat, maka seluruh hidupmu akan selamat.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.