Ustadzfaqih • Apr 29 2025 • 139 Dilihat

Jadikan Setiap Tempat sebagai Sajadah
(Refleksi Perjalanan Hamba di Bumi Allah)
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si
Dalam perjalanan panjang kita di dunia ini, sesungguhnya kita tidak pernah lepas dari misi suci: menjadi hamba Allah yang bersujud, beribadah, dan menebarkan kebaikan di setiap sudut kehidupan. Hidup ini bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, bukan sekadar pergantian pemandangan, melainkan perjalanan ruhani untuk meninggalkan jejak amal di setiap jengkal bumi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan bumi ini sebagai masjid yang luas. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dijadikan bumi bagiku sebagai tempat sujud dan suci.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan kita untuk memandang seluruh bumi sebagai ladang ibadah. Setiap tanah yang kita pijak adalah sajadah. Setiap langkah adalah kesempatan untuk mendekat kepada-Nya.
Setiap Kota, Ladang Amal dan Dakwah
Saat kita memasuki sebuah kota, jangan hanya melihatnya sebagai tempat singgah atau bisnis semata. Lihatlah setiap kota sebagai ladang amal dan ladang dakwah. Tebarkan kebaikan kepada siapa saja yang kita jumpai. Jika tidak mampu berbicara, maka pancarkanlah senyuman yang tulus. Jika tidak mampu memberi nasihat, maka berikan teladan dengan akhlak mulia.
Satu kata yang santun, satu senyum yang ikhlas, satu doa yang lirih — bisa menjadi benih shodaqah yang tumbuh menjadi pohon-pohon kebaikan yang kelak akan menaungi kita di Hari Kiamat.
Setiap kota yang Anda kunjungi adalah peluang untuk menorehkan tanda di alam semesta. Tanda bahwa Anda pernah hadir di situ sebagai pembawa cahaya, bukan penebar kegelapan.
Setiap Desa, Tempat Khalwat dan Tafakur
Tatkala Anda menapakkan kaki di desa-desa yang sunyi, yang jauh dari hiruk-pikuk dunia, jadikanlah itu sebagai tempat khalwat. Ambillah waktu untuk berdiam di masjid-masjid kecil yang sederhana. Rasakan ketenangan yang jarang ditemukan di kota-kota besar.
Di sana, dalam keheningan, biarkan hati Anda bercakap-cakap dengan Sang Pencipta. Bertafakurlah tentang perjalanan hidup. Renungkanlah betapa kecilnya diri ini dibandingkan luasnya ciptaan Allah.
Khalwat bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi menyucikan niat di tengah dunia. Menguatkan kembali tujuan hidup, memperbaharui semangat amal, serta memperhalus hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Setiap Langkah, Setiap Napas: Sebuah Amanah
Setiap langkah yang Anda ambil, setiap napas yang Anda hembuskan, sesungguhnya adalah amanah. Setiap detik adalah ujian: apakah kita menjadi penyebar rahmat ataukah penambah kerusakan?
Allah berfirman:
“Dan Katakanlah: ‘Berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.'”
(QS. Al-An’am: 11)
Berjalanlah di bumi ini bukan hanya dengan kaki, tapi juga dengan hati yang penuh hikmah. Jangan biarkan tempat-tempat yang kita lalui menjadi saksi atas kesombongan atau kelalaian kita. Jadikanlah mereka saksi atas sujud, atas dzikir, atas amal saleh yang mengalir dari diri kita.
Meninggalkan Tanda di Alam Semesta
Bukan harta, bukan tahta, bukan popularitas yang menjadi tanda keabadian seseorang. Tapi jejak amal lah yang abadi. Sebuah kebaikan kecil yang Anda lakukan di tempat asing, mungkin saja menjadi sebab hidayah bagi seseorang. Sebuah shodaqah sederhana di sudut jalanan mungkin saja membukakan pintu surga untuk Anda.
Ketika tubuh kita kelak berbaring dalam tanah, dan dunia ini terus berputar tanpa kita, maka amal kebaikan itulah yang akan tetap hidup. Itulah tanda yang kita tinggalkan di alam semesta ini.
Maka, jadikanlah bumi ini sebagai sajadah. Jadikanlah kota-kota sebagai ladang amal dan desa-desa sebagai tempat khalwat. Jadilah hamba Allah yang dimanapun ia singgah, bumi menjadi saksi sujudnya, manusia menjadi saksi akhlaknya, dan langit menjadi saksi keikhlasannya.
Sebagaimana sabda Rasulullah ï·º:
“Sesungguhnya dunia ini hijau dan manis, dan Allah menjadikan kamu khalifah di dalamnya untuk melihat bagaimana kamu berbuat.”
(HR. Muslim)
Mari, kita isi perjalanan ini dengan amal-amal yang indah. Mari kita ukir tanda-tanda kebaikan di setiap hamparan bumi, sebagai bekal pulang menuju kampung abadi.
Karena hidup ini bukan sekadar untuk berjalan, tetapi untuk meninggalkan jejak yang bercahaya.
( Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
artikel ini sangat bermanfaat
Artikel ini memberikan pesan yang sangat inspiratif tentang bagaimana menjadikan setiap tempat sebagai momen untuk mendekatkan diri kepada Allah. Konsep ini mengajarkan kita bahwa ibadah tidak terbatas pada ruang atau waktu tertentu, melainkan bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja dengan niat yang ikhlas. Dengan menjadikan setiap tempat sebagai ‘sajadah’, kita diajak untuk terus menjaga kesadaran spiritual dan menghadirkan hati dalam setiap langkah kehidupan. Artikel ini berhasil membangkitkan semangat agar ibadah menjadi bagian integral dalam keseharian, bukan hanya rutinitas formal semata.”
Sangat bermanfaat sekali
Terimakasih banyak atas artikel yg penuh dgn motivasi ini ,bapak.
motivasi yg sangat mengelora jiwa saya
Sangat bermanfaat,dan sangat memotivasi
MasyaAllah sangat memotivasi sekali
terima kasih bapak atas ilmunya semoga bermanfaat
Terima kasih secercah mutiara hidup nya
Pak
Terima kasih secercah mutiara hidup nya
Pak
motivasi yg sangat sangat membantu untuk diri yg sedang membaca
Memotivasi sekali pak
Sangat membantu
Sangat berguna sekali