Islam dan Budaya Lokal: Keberhasilan Dakwah Wali Songo di Nusantara
Sejarah penyebaran Islam di Nusantara adalah kisah keberhasilan dakwah yang unik dan menakjubkan. Berbeda dengan wilayah lain, Islam di Indonesia tidak datang melalui penaklukan militer, tetapi melalui pendekatan damai, perdagangan, pendidikan, dan terutama akulturasi budaya. Di sinilah peran Wali Songo (sembilan wali) begitu monumental. Mereka berhasil mengislamkan masyarakat Jawa yang saat itu telah memiliki peradaban, budaya, dan tradisi Hindu-Buddha yang kuat, tanpa menimbulkan konflik besar.
Keberhasilan mereka tidak terlepas dari kemampuan memahami budaya lokal dan menyesuaikan pesan Islam tanpa mengorbankan prinsip-prinsip aqidah. Strategi dakwah inilah yang relevan dipelajari hingga hari ini.
1. Konteks Budaya Jawa Saat Itu
Sebelum Islam datang, masyarakat Jawa telah mengenal sistem kepercayaan animisme, dinamisme, dan kemudian pengaruh Hindu-Buddha. Tradisi keagamaan bercampur dengan budaya agraris dan kosmologi Jawa. Di sinilah tantangan dakwah muncul: bagaimana mengajarkan tauhid kepada masyarakat yang akrab dengan ritual-ritual lokal dan simbol-simbol kepercayaan lama.
Wali Songo tidak serta merta menghapus tradisi tersebut, melainkan mengislamkannya secara bertahap. Prinsipnya adalah “al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah” (memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil hal baru yang lebih baik).
2. Strategi Dakwah Kultural Wali Songo
Beberapa strategi dakwah kultural Wali Songo yang patut dicatat:
a) Pemanfaatan Seni dan Budaya Lokal
Sunan Kalijaga menggunakan media wayang kulit, gamelan, dan tembang Jawa. Cerita Mahabharata dan Ramayana diberi makna baru sesuai nilai Islam. Misalnya, tokoh Semar dijadikan simbol rakyat kecil yang bijak, dan pesan moralnya disesuaikan dengan ajaran tauhid.
Sunan Bonang menciptakan tembang-tembang seperti Tombo Ati yang berisi ajakan mendekatkan diri kepada Allah. Syair, musik, dan seni dipakai sebagai sarana dakwah yang menyentuh hati.
Tradisi selamatan, slametan, kenduri, tahlilan, atau sekaten awalnya berasal dari budaya pra-Islam. Wali Songo mengisinya dengan doa-doa Islami, dzikir, shalawat, dan sedekah. Dengan demikian, tradisi lokal tidak dimatikan, tetapi diarahkan pada nilai-nilai Islam.
c) Pendidikan dan Keteladanan
Wali Songo mendirikan pesantren dan mengajarkan ilmu agama sekaligus keterampilan hidup. Mereka membentuk masyarakat yang religius sekaligus mandiri. Keteladanan akhlak mereka membuat Islam diterima dengan hati, bukan paksaan.
d) Pendekatan Ekonomi dan Sosial
Banyak wali yang juga pedagang. Mereka mengajarkan kejujuran dan keadilan dalam perdagangan. Ini sesuai sabda Nabi:
“Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. Tirmidzi)
3. Akulturasi Budaya: Menjaga Esensi, Bukan Bentuk
Keberhasilan dakwah Wali Songo karena mereka fokus pada substansi ajaran Islam, bukan sekadar bentuk lahiriah. Budaya yang tidak bertentangan dengan akidah tetap dilestarikan. Misalnya, penggunaan bahasa Jawa dan simbol-simbol lokal dalam dakwah. Hanya unsur syirik yang dihilangkan.
QS. An-Nahl:125 menjadi pedoman dakwah mereka:
> “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”
Pendekatan penuh hikmah ini membuat Islam diterima luas, bukan ditolak.
4. Pelajaran untuk Dakwah Masa Kini
Apa yang dilakukan Wali Songo sangat relevan dengan konteks Indonesia modern yang plural dan majemuk. Dakwah harus tetap rahmatan lil ‘alamin, tidak keras atau memaksa. Rasulullah SAW bersabda:
“Mudahkanlah, jangan dipersulit. Berilah kabar gembira, jangan membuat orang lari.” (HR. Bukhari-Muslim)
Pendekatan yang mengabaikan budaya lokal, atau memaksakan Arabisasi tanpa memahami konteks masyarakat, seringkali menimbulkan resistensi. Padahal Islam hadir bukan untuk menghapus budaya, tapi membersihkannya dari unsur kemusyrikan.
5. Konteks Indonesia: Islam dan Kebudayaan
Keberhasilan Islam di Nusantara juga tampak dari lahirnya budaya-budaya baru seperti:
Masjid dengan arsitektur atap tumpang (bukan kubah Arab), misalnya Masjid Demak.
Tradisi pesantren yang memadukan ilmu agama dan budaya lokal.
Perayaan Maulid Nabi, Sekaten, dan Grebeg yang dikemas dengan nilai Islami.
Budaya lokal bukan penghalang dakwah, tetapi justru menjadi jembatan hidayah.
Kesimpulan: Dakwah yang Membumi dan Menghidupkan
Keberhasilan dakwah Wali Songo adalah contoh konkret bagaimana Islam menjadi agama yang membumi, menyatu dengan kultur masyarakat tanpa kehilangan kemurnian aqidahnya. Inilah rahasia mengapa Indonesia menjadi negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.
Pelajaran penting bagi kita:
Mengajarkan Islam dengan hikmah dan kasih sayang.
Menghargai budaya lokal selama tidak bertentangan dengan tauhid.
Memberikan keteladanan, bukan hanya retorika.
Sejarah Wali Songo mengajarkan bahwa dakwah yang menyentuh hati lebih efektif daripada dakwah yang memaksa. Maka, di era modern ini, marilah kita meneladani strategi dakwah mereka agar Islam tetap menjadi cahaya peradaban di bumi Nusantara.
( Dr Nasrul Syarif
M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
No comments yet.