Ustadzfaqih • Okt 13 2024 • 238 Dilihat

Isilah Liburan dengan Sesuatu yang produktif lebih bermakna dan Bernilai Ibadah.
Mengisi liburan dengan hal-hal produktif memang sangat bermanfaat dan dapat memberikan makna yang lebih mendalam dalam kehidupan kita. Selain itu, jika diiringi dengan niat yang baik, aktivitas produktif juga bisa bernilai ibadah. Berikut adalah beberapa cara untuk menjadikan liburan lebih bermakna dan bernilai ibadah:
Menghabiskan waktu liburan dengan belajar hal baru, seperti membaca buku, mengikuti kursus online, atau memperdalam pengetahuan agama, bisa meningkatkan kualitas diri. Jika niat belajar ini adalah untuk memperbaiki diri dan bermanfaat bagi orang lain, maka hal ini bisa menjadi bentuk ibadah.
Berpartisipasi dalam kegiatan sosial seperti membantu di panti asuhan, menyumbangkan waktu untuk komunitas, atau berbagi dengan yang kurang mampu. Kegiatan ini selain memberikan manfaat bagi orang lain, juga mengasah empati dan bisa mendekatkan diri kepada Allah.
Liburan bisa menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan amalan-amalan ibadah seperti sholat sunnah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan doa. Dengan lebih banyak waktu luang, ini bisa menjadi momen untuk memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta.
Mengisi waktu liburan dengan hobi yang produktif, seperti menulis, berkebun, atau membuat kerajinan tangan, juga bisa menjadi sarana ibadah jika diniatkan untuk kebaikan. Apalagi jika hasil dari hobi tersebut bermanfaat untuk orang lain.
Mengunjungi keluarga, menjalin hubungan yang lebih erat dengan teman-teman, atau menghabiskan waktu berkualitas dengan orang tua merupakan aktivitas yang sangat dianjurkan dalam Islam dan bisa bernilai ibadah.
Dengan niat yang benar, semua aktivitas yang kita lakukan selama liburan bisa menjadi lebih bermakna dan bernilai pahala. Ini adalah kesempatan untuk tidak hanya menikmati waktu luang, tapi juga memperkaya diri secara spiritual dan sosial.
Umrah bersama Keluarga dengan Merajut Impian atau membuat Proposal hidup di tanah suci.
Melaksanakan umrah bersama keluarga di Tanah Suci adalah momen yang sangat istimewa, tidak hanya sebagai ibadah tetapi juga sebagai kesempatan untuk merajut impian bersama dan merenungkan arah hidup di masa depan. Membuat “Proposal Hidup” di Tanah Suci dapat menjadi langkah yang penuh makna, karena di tempat yang penuh keberkahan ini, doa dan niat kita diharapkan lebih mustajab (dikabulkan). Berikut adalah beberapa cara untuk menjadikan umrah bersama keluarga sebagai momentum untuk merajut impian dan membuat “proposal hidup”:
Sebelum berangkat, seluruh anggota keluarga bisa berkumpul untuk berdiskusi dan mempersiapkan hati serta niat. Selain berdoa untuk kelancaran ibadah, juga bisa merumuskan doa-doa khusus terkait impian dan harapan yang ingin diwujudkan dalam hidup. Persiapan spiritual ini akan memperkuat ikatan keluarga dan memperdalam makna perjalanan umrah.
Tanah Suci, dengan suasana spiritualnya yang luar biasa, adalah tempat yang tepat untuk melakukan perenungan mendalam tentang tujuan hidup. Setiap anggota keluarga bisa memanfaatkan waktu-waktu ibadah, seperti saat di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, untuk merenungkan hal-hal berikut:
Ini bisa menjadi momen untuk menyusun rencana hidup yang lebih bermakna.
Di Tanah Suci, terdapat banyak tempat yang diyakini sebagai lokasi doa yang mustajab, seperti di depan Ka’bah, Maqam Ibrahim, Hijr Ismail, atau Raudhah di Masjid Nabawi. Sebagai keluarga, bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk memanjatkan doa-doa tentang masa depan, baik impian pribadi maupun impian keluarga. Misalnya:
Setelah merenungkan tujuan hidup dan memanjatkan doa, langkah berikutnya adalah merajut impian keluarga secara konkrit. Momen umrah bisa dijadikan titik awal untuk merancang visi dan misi keluarga:
Dengan merajut impian ini, keluarga dapat memiliki arah hidup yang jelas dan saling mendukung satu sama lain.
Setelah merenung dan mendiskusikan bersama keluarga, tulislah Proposal Hidup sebagai panduan menjalani kehidupan setelah pulang dari umrah. Proposal ini bisa mencakup hal-hal seperti:
Menuliskan rencana ini akan memberikan panduan yang jelas untuk terus maju dan saling menguatkan.
Selain menjalani ibadah, umrah juga memberikan banyak pelajaran tentang kesabaran, ketulusan, dan rasa syukur. Sepulang dari Tanah Suci, keluarga bisa saling berbagi hikmah yang didapatkan selama perjalanan dan bagaimana hikmah tersebut bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi ini bisa mempererat hubungan keluarga dan membuat setiap anggota lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup.
Setelah kembali dari umrah, penting untuk menjaga semangat ibadah dan ketaqwaan yang dirasakan di Tanah Suci. Proposal hidup yang telah disusun bisa menjadi panduan untuk tetap konsisten dalam meningkatkan kualitas ibadah dan hubungan keluarga.
Dengan menjadikan umrah sebagai momentum untuk menyusun “Proposal Hidup” bersama keluarga, perjalanan ini tidak hanya menjadi perjalanan spiritual, tetapi juga langkah penting dalam mencapai kehidupan yang lebih terarah, bermakna, dan penuh keberkahan. Impian yang dirajut bersama di Tanah Suci akan menjadi motivasi untuk terus memperbaiki diri dan keluarga di masa depan.
Salam Dahsyat dan Luar Biasa !
( DR Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Bottom of Form
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.